Pada perdagangan sebelumnya, harga Brent ditutup melonjak 2,7% dan sempat menyentuh level tertinggi sejak 25 Agustus. Adapun harga WTI menguat 2,8% dan sempat mencapai level tertinggi sejak 21 Agustus.
Kenaikan harga minyak terjadi setelah Presiden AS, Donald Trump, pada Senin mengancam akan melancarkan serangan lebih lanjut terhadap Iran. Pernyataan tersebut disampaikan setelah kedua negara kembali terlibat dalam serangan langsung pada Minggu, untuk pertama kalinya dalam sekitar satu bulan.
Tim Waterer, Chief Market Analyst KCM, mengatakan perkembangan tersebut kembali membuka kemungkinan Iran melakukan aksi balasan. Kondisi itu berpotensi meningkatkan risiko kerusakan terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk serta menambah ketidakpastian terhadap aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz.
“These bring the potential for Iranian retaliation back into the equation. That in turn raises the prospect of damage to energy infrastructure around the Gulf and adds fresh uncertainty for shipping through the Strait of Hormuz. Both of those risks are being reflected in the firmer tone in crude prices,” kata Waterer.
Risiko terhadap distribusi minyak semakin besar mengingat aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mengalami penurunan. Data perusahaan analisis pelayaran Kpler menunjukkan jumlah kapal komoditas yang terlihat melintasi Selat Hormuz turun menjadi hanya lima kapal per hari selama akhir pekan.
Upaya mediator, termasuk Qatar dan Oman, untuk mendorong kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz sejauh ini belum menunjukkan perkembangan signifikan. Selat tersebut merupakan jalur penting perdagangan energi global yang sebelumnya membawa sekitar seperlima pasokan minyak dunia sebelum perang pecah pada akhir Februari.
Iran menutup jalur perairan tersebut setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap negara tersebut pada 28 Februari.
Badan United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) pada Selasa juga melaporkan sebuah kapal tanker terkena tiga proyektil ketika berlayar keluar dari Selat Hormuz. Tidak ada korban jiwa maupun dampak lingkungan yang dilaporkan dalam insiden tersebut.
Di sisi lain, pasar minyak juga mencermati perkembangan pasokan dari Venezuela. Trump pada Jumat mengumumkan kesepakatan dengan Venezuela untuk mengendalikan cadangan minyak negara tersebut. Menurut Trump, langkah tersebut akan membantu mengisi kembali cadangan minyak strategis AS atau Strategic Petroleum Reserve (SPR) yang kini berada di sekitar level terendah dalam 44 tahun.
Sejumlah perusahaan energi global, termasuk Chevron dan GE Vernova dari AS, ONGC dari India, Eni dari Italia, serta GeoPark dari Kolombia, juga disebut tengah bersiap menandatangani kesepakatan final terkait proyek energi di Venezuela.
Sementara itu, persediaan minyak mentah dalam SPR AS turun sekitar 3,1 juta barel pada pekan lalu menjadi 286,6 juta barel.
Perkembangan tersebut membuat pasar minyak masih dibayangi ketidakpastian, terutama terkait keamanan jalur pelayaran dan potensi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah. Kondisi geopolitik tersebut berpotensi menjadi faktor utama yang menentukan pergerakan harga minyak dalam perdagangan selanjutnya.





