Mengungkap ajaran kuno leluhur.
Suatu ketika seseorang bertanya kepada saya.
Si a berkata ” mengapa kita tidak buat saja diri kita sebagai patokan baru bagi generasi mendatang?”
Lalu saya menjawab. “apakah sperti yang dilakukan sultan agung dengan membuat hanacara dan kisah2 baru?”
“benar sekali..” jawabnya.
Saya hanya bisa tersenyum dan berkata ” kau tau.. Ajaran kuno leluhur kita itu terkubur berlapis2.. Pertama terkubur hindu dan buddha.. Kedua terkubur lagi dengan islam juga tasawufnya.. Ketika terkubur kaweruh2 kejawa2an hasil dari para sesepuh kejawen.. Dan juga termsuk terkubur semakin dalam dengan apa yang dibuat sultan agung kala itu”
Si a berkata “bukankah lebih baik kita juga membuat ajaran baru lagi”
Saya pun menjawab “dan ikut andil dalam mengubur lebih dalam ajaran kuno leluhur kita?.
Saya pun berkata lagi” layaknya sebuah punden berundak yanh terkubur oleh tanah beratus2 taun.. Sekain kita memberikan tanah baru diatasnya semakin kita kehilangan bentuk aslinya”. Dan dia hanya diam sperti merenung.
Saya pun melanjutkan perkataan saya ” apakah kau ingin ikut andil dalam. Memgubur ajaran kuno leluhur dengan menciptakan ajaran baru?”
.”tentu tidak” jawab dia
“kita tidak petlu bikin baru yg malah akan menenggelamkan ajaran leluhur.karena itulah lebih baik. Buang semua yang menutupi ajaran leluhur.. Agar kita tau bagaimana hebatnya leluhur”
“masuk akal sekali” katanya.
Lalu dia berkata “tapi dimulai dari mana?”
Saya pun menjawab “dimulai dari belajar bahasa asli leluhur kita.. Maka dengan mengetahuai bahasa asli leluhur kita..setidaknya kita membuang banyak lapisan2 tanah yang menutupi..”
,”baiklah saya akan mulai. Belajar bahasa leluhur kuni” ucap dia sambil tersenyum.
“ingat bahasa adalah kunci utama memutuskan hubungan antara generasi tua dan generasi muda”
Hyang Taya




