Sementara itu, histogram MACD cenderung bergerak datar dan indikator stochastic masih berada di sekitar area pivot. Kondisi tersebut menunjukkan momentum penguatan IHSG belum cukup kuat untuk mendorong indeks bergerak lebih tinggi secara signifikan.
“Dengan demikian, IHSG hari ini diperkirakan akan bergerak sideways di kisaran 6.400-6.500. Ditambah lagi, FTSE masih melanjutkan evaluasi pasar saham Indonesia,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya.
Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan hari ini. BI diperkirakan mempertahankan BI Rate di level 5,75%, sejalan dengan inflasi yang masih berada dalam sasaran serta upaya menjaga stabilitas rupiah dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Suku bunga deposit facility dan lending facility juga diperkirakan tetap masing-masing sebesar 4,75% dan 6,5%. Investor akan mencermati pernyataan BI mengenai arah kebijakan moneter selanjutnya.
Di sisi lain, pertumbuhan kredit diperkirakan meningkat menjadi 13% secara tahunan (yoy) pada Juli 2026, dari 12,67% pada Juni 2026.
BI juga melaporkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia mencapai US$454,4 miliar pada kuartal II-2026, tumbuh 4,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut juga lebih tinggi dibandingkan US$433,4 miliar pada semester I-2026.
Peningkatan ULN terutama berasal dari kenaikan utang luar negeri sektor publik, termasuk pemerintah dan bank sentral. Meski demikian, rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat 30,6% pada kuartal II-2026 dan mayoritas merupakan utang berjangka panjang dengan porsi 82,1% dari total ULN.
“Kenaikan ULN ini menjadi sentimen negatif bagi IHSG, tapi rasio ULN terhadap PDB masih relatif terkendali,” kata Phintraco Sekuritas.
Dengan kombinasi indikator teknikal yang cenderung netral, keputusan suku bunga BI, evaluasi FTSE Russell, serta perkembangan ULN, IHSG diperkirakan masih akan bergerak sideways dengan rentang 6.400-6.500 pada perdagangan hari ini.





