Beranda / Ekonomi dan Bisnis / Industri Kopi Indonesia Punya Kapasitas Besar, tapi Baru Terpakai 51%

Industri Kopi Indonesia Punya Kapasitas Besar, tapi Baru Terpakai 51%

Jakarta,REDAKSI17.COMIndonesia memiliki peluang besar untuk meningkatkan nilai tambah industri kopi, seiring kuatnya pasokan bahan baku dan permintaan pasar domestik maupun ekspor.Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat produksi biji kopi Indonesia mencapai sekitar 834.000 ton pada 2025. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai produsen kopi terbesar keempat di dunia.

Di sisi hilir, produk kopi olahan Indonesia juga telah dipasarkan ke lebih dari 80 negara. Kondisi ini menunjukkan ruang pengembangan industri kopi tidak hanya berada di pasar dalam negeri, tetapi juga terbuka lebar di pasar global.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan tantangan industri kopi saat ini adalah meningkatkan pengolahan agar lebih banyak nilai tambah yang dihasilkan di dalam negeri.

“Kopi merupakan salah satu komoditas yang memiliki kekuatan dari hulu hingga hilir. Tantangan kita ke depan adalah memastikan kekuatan tersebut dapat dikonversi menjadi nilai tambah yang lebih besar melalui penguatan industri pengolahan, inovasi produk, peningkatan produktivitas, dan perluasan akses pasar,” ujar Agus dalam keterangannya, Selasa (8/9).

Potensi tersebut masih belum sepenuhnya diikuti dengan pemanfaatan kapasitas industri pengolahan. Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengatakan kapasitas terpasang industri pengolahan kopi saat ini sekitar 1,81 juta ton.

Namun, produksi pada 2025 baru mencapai sekitar 928.000 ton. Dengan demikian, tingkat utilisasi pabrik pengolahan kopi berada di kisaran 51 persen.

Kemenperin menargetkan tingkat utilisasi tersebut dapat meningkat menjadi 86,6 persen pada 2029.

“Peningkatan utilisasi menjadi salah satu fokus kebijakan kami. Kita ingin memastikan kapasitas industri yang sudah tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menghasilkan produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi,” kata Putu.

Menurut dia, peningkatan utilisasi tidak hanya bergantung pada kapasitas produksi. Ketersediaan bahan baku, kualitas sumber daya manusia, teknologi, riset dan pengembangan, hingga akses pasar juga menjadi faktor yang perlu diperkuat.

Dari sisi ekspor, produk kopi olahan Indonesia sudah memiliki posisi yang cukup kuat. Pada 2025, Indonesia tercatat sebagai eksportir kopi premix terbesar di dunia dengan nilai ekspor mencapai US$454,7 juta. Pangsa Indonesia di pasar global mencapai 17,54 persen.

Sementara itu, untuk produk kopi instan, Indonesia masuk lima besar eksportir dunia. Nilai ekspornya tercatat US$225 juta dengan pangsa pasar global sebesar 5,88 persen.

Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kemenperin, Merrijantij Punguan Pintaria mengatakan, pengembangan industri kopi juga terlihat dari semakin beragamnya produk yang dihasilkan.

Hal tersebut mencakup kopi sangrai atau roasted bean, kopi instan, premiks, specialty coffee, kopi kapsul, drip coffee, hingga ground coffee. Produk dengan segmen khusus seperti kopi organik dan decaf juga masih memiliki peluang untuk dikembangkan.

“Industri kopi nasional terus berkembang dari sisi pengolahan bahan baku, pemanfaatan teknologi, hingga diversifikasi produk. Kemampuan industri untuk mengolah kopi menjadi berbagai produk dengan nilai tambah menunjukkan bahwa kita memiliki potensi besar untuk terus memperkuat industri kopi dari hulu hingga hilir,” ujar Merrijantij.

Kemenperin juga mendorong industri untuk memperhatikan aspek standardisasi, keamanan pangan, traceability, sertifikasi internasional, sustainability, dan branding. Faktor-faktor tersebut semakin penting untuk memperluas pasar produk kopi Indonesia, terutama di pasar ekspor.

Agus mengatakan pengembangan industri kopi pada akhirnya perlu diarahkan agar Indonesia tidak hanya menjual bahan baku, tetapi semakin banyak menghasilkan produk olahan bernilai tambah.

“Kita ingin kopi Indonesia tidak berhenti sebagai komoditas, tetapi berkembang menjadi produk industri dengan nilai tambah tinggi dan memiliki posisi yang semakin kuat di pasar dunia,” kata Agus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *