Home / Sains dan Teknologi / Interaksi Usus–Otak Ketika Puasa

Interaksi Usus–Otak Ketika Puasa

Peneliti yang mengkaji puasa intermiten dan pembatasan energi menemukan bahwa ot4k tidak “diam” saat seseorang melewatkan makan. Pemindaian otak menunjukkan adanya perubahan aktivitas di area yang mengatur pengendalian diri, nafsu makan, dan sistem penghargaan. Menariknya, pada saat yang sama, komposisi mikrobioma usus juga ikut berubah, menandakan adanya komunikasi dua arah antara usus dan ot4k yang dapat memengaruhi suasana hati, keinginan makan, dan pengambilan keputusan.
Mekanisme ini berkaitan dengan perubahan metabolisme dan sistem sar4f. Saat berpuasa, tubuh beralih dari menggunakan glukosa ke lemak dan keton sebagai sumber energi. Pergeseran bahan bakar ini memengaruhi area otak yang berperan dalam pengendalian impuls dan regulasi emosi, sehingga respons ot4k terhadap makanan dan stres bisa ikut berubah.
Di sisi lain, mikroba usus juga berperan aktif. Bakteri yang berkembang selama puasa dapat menghasilkan senyawa metabolit yang memengaruhi sinyal saraf melalui jalur gut–brain axis. Artinya, usus tidak hanya “mengikuti” ot4k, tetapi juga bisa mengirim sinyal balik yang membantu mengatur perilaku, kebiasaan makan, dan suasana hati.
Namun, temuan ini bukan berarti puasa adalah solusi instan untuk semua orang.
Sebagian besar penelitian masih berada pada tahap awal dan banyak dilakukan pada individu dengan kelebihan berat badan atau gangguan metabolisme. Efeknya bisa berbeda pada tiap orang, sehingga siapa pun yang ingin mencoba puasa intermiten secara ekstrem sebaiknya mempertimbangkan kondisi kesehatannya dan berkonsultasi dengan tenaga medis.
Sumber: Studi tentang puasa intermiten dan interaksi usus–otak di jurnal Nature Metabolism.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *