Teheran,REDAKSI17.COM – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah media Iran melaporkan bahwa Teheran menghentikan komunikasi dengan mediator terkait perpanjangan gencatan senjata dalam konflik melawan Amerika Serikat dan Israel. Namun, Presiden AS Donald Trump langsung membantah laporan tersebut dan menegaskan bahwa pembicaraan masih terus berlangsung.
Laporan yang diterbitkan kantor berita semi-resmi Iran, Fars dan Tasnim, menyebut pemerintah Iran tidak lagi berkomunikasi dengan para mediator. Kedua media tersebut dikenal memiliki kedekatan dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Seorang pejabat regional yang terlibat dalam proses mediasi mengungkapkan bahwa Iran memang tidak memberikan respons apa pun sepanjang Selasa. Menurut sumber tersebut, Teheran sebelumnya menegaskan bahwa gencatan senjata harus benar-benar diterapkan di Lebanon sebelum pembahasan lebih lanjut dapat dilanjutkan.
Situasi ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Lebanon, tempat Israel masih terlibat konflik dengan kelompok Hizbullah yang didukung Iran. Kondisi tersebut membuat perundingan mengenai penghentian konflik Iran-AS-Israel semakin kompleks.
Trump Bantah Laporan Putusnya Komunikasi
Menanggapi laporan tersebut, Trump menyebut kabar penghentian komunikasi sebagai informasi yang tidak benar.
“Percakapan antara kami terus berlangsung, termasuk empat hari lalu, tiga hari lalu, dua hari lalu, kemarin, dan juga hari ini,” tulis Trump melalui media sosial.
Trump menambahkan bahwa arah akhir negosiasi masih belum dapat dipastikan, namun ia kembali menegaskan keinginannya agar Iran segera mencapai kesepakatan damai.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga memberikan sinyal optimistis mengenai peluang tercapainya kesepakatan, terutama terkait isu nuklir. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa belum ada jaminan kedua pihak akan mencapai perjanjian yang dapat diterima semua pihak.
Selat Hormuz Jadi Kartu Tekan Iran
Iran disebut berupaya meningkatkan tekanan terhadap Washington dengan mengaitkan negosiasi gencatan senjata dengan situasi keamanan di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi lintasan utama perdagangan minyak dan gas dunia.
Teheran juga bersikeras bahwa setiap kesepakatan penghentian konflik harus mencakup penghentian pertempuran di Lebanon. Namun, AS dan Israel menegaskan bahwa konflik dengan Hizbullah merupakan isu terpisah dari pembicaraan terkait Iran.
Di sisi lain, militer AS terus memperketat blokade laut terhadap Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan berhasil menghentikan kapal tanker berbendera Botswana, M/T Lexie, yang dituduh mencoba memasuki pelabuhan Iran dengan melanggar blokade Amerika.
Menurut CENTCOM, kapal tersebut dihentikan setelah awak kapal mengabaikan berbagai peringatan selama 24 jam. Sebuah rudal Hellfire dilaporkan ditembakkan ke ruang mesin kapal untuk menghentikan pelayarannya.
Inflasi Iran Melonjak ke Level Tertinggi dalam Puluhan Tahun
Di tengah ketidakpastian diplomatik, Iran juga menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat. Bank Sentral Iran melaporkan inflasi tahunan pada Mei mencapai 77,2 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan harga kebutuhan sehari-hari bahkan tercatat lebih tinggi. Biaya obat-obatan, transportasi, komunikasi, dan berbagai kebutuhan pokok lainnya meningkat hingga 113,8 persen dalam setahun.
Lembaga riset ekonomi Bamdad Institute of Economic Studies menyebut tingkat inflasi tersebut sebagai yang tertinggi sejak Perang Dunia II.
Tekanan ekonomi diperparah oleh kerusakan sektor bisnis dan industri minyak akibat serangan udara yang terjadi selama konflik, serta blokade laut AS yang menghambat ekspor minyak Iran ke pasar internasional.
Nilai tukar rial Iran juga terus merosot tajam. Jika pada 2015 satu dolar AS setara sekitar 32.000 rial, kini nilainya telah menembus lebih dari 1,7 juta rial per dolar AS.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya telah memperingatkan masyarakat mengenai kemungkinan kenaikan harga yang lebih tinggi.
“Kita sedang berjuang dan harus menerima kesulitan ini,” ujarnya.
Ekonom asal Teheran, Saeed Leilaz, memperingatkan inflasi tahunan Iran berpotensi mendekati 80 persen. Menurutnya, kondisi tersebut dapat memicu gelombang protes baru karena daya beli masyarakat terus tergerus.
Pengamat juga menilai tekanan ekonomi yang semakin berat dapat menjadi ancaman serius bagi stabilitas domestik Iran jika tidak segera ditemukan solusi politik maupun ekonomi dalam beberapa bulan ke depan.
Sumber: Reuters





