Beranda / Nasional Dan Internasional / Kakek Prabowo Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional, Sudah Dikaji Tim Gubernur Jateng

Kakek Prabowo Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional, Sudah Dikaji Tim Gubernur Jateng

Raden Mas Margono Djojohadikoesoemo (kakek), Presiden ke-8 RI Prabowo Subianto (cucu).(dinarpus.banyumaskab.go.id dan ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/app/ws)

 

BANYUMAS,REDAKSI17.COM – Margono Djojohadikusumo, kakek Presiden Prabowo Subianto dari pihak ayah, diusulkan menjadi pahlawan nasional. Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Jawa Tengah Imam Maskur mengatakan, pihaknya juga mengajukan KH Sholeh Darat sebagai pahlawan nasional. KH Sholeh Darat merupakan ulama yang dikenal sebagai penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Imam menjelaskan, pengusulan Margono dan KH Sholeh Darat sebagai pahlawan nasional sudah melalui kajian di tingkat provinsi.

“Ya tahun ini ada dua nama yang diusulkan sebagai pahlawan nasional yaitu Kiai Sholeh Darat dan Margono Djojohadikusumo, mbahnya Pak Prabowo,” kata Imam, dilansir dari TribunJateng, Senin (17/8/2026).

Beasiswa Teladan, Membersamai Mahasiswa Menjadi Pemimpin Masa Depan Artikel Kompas.id Kajian terhadap Margono dilakukan oleh tim yang dibentuk Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi.  Tim dari daerah kemudian menyimpulkan bahwa Margono layak diajukan ke pemerintah pusat. “Pengkajian dari daerah lalu kami usulkan ke pusat,” jelas Imam.  Imam menyampaikan, pengajuan calon pahlawan nasional merupakan agenda tahunan.

Proses tersebut biasanya dilakukan menjelang peringatan Hari Pahlawan setiap 10 November. Setelah melalui tahapan di daerah, proses pengajuan Margono kini masih berlangsung di tingkat pemerintah pusat.

Pengusulan masing-masing tokoh dilakukan oleh kelompok masyarakat dari daerah asalnya. Namun, pengajuan Margono menghadapi persoalan dari pihak keluarga. Imam menyebut keluarga Presiden belum berkenan mengajukan Margono untuk mendapatkan gelar Pahlawan Nasional. “Keluarga Presiden, belum mau diajukan,” ungkap Imam.

Dari sisi administrasi, nama Margono juga dinyatakan telah memenuhi persyaratan. “Secara administratif sudah memenuhi dan dua nama sudah kami kaji,” imbuh Imam. Baca juga: Kakek Prabowo Subianto Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional, Keluarga Disebut Belum Merestui Profil Margono Djojohadikusumo Dilansir dari laman resmi Dinarpus Banyumas, Margono lahir di Purwokerto pada 16 Mei 1894.

Ia dikenal sebagai pendiri Bank Negara Indonesia (BNI). Margono merupakan anak dari asisten Wedana Banyumas. Ia juga tercatat sebagai cucu buyut Raden Tumenggung Banyakwide atau Panglima Banyakwide, tokoh yang dikenal sebagai pengikut setia Pangeran Diponegoro. Selain mendirikan BNI, Margono memiliki hubungan keluarga dengan sejumlah tokoh penting Indonesia.  Beasiswa Teladan, Membersamai Mahasiswa Menjadi Pemimpin Masa Depan Artikel Kompas.id Ia merupakan ayah dari Begawan Ekonomi Indonesia Prof Soemitro Djojohadikoesoemo. Dua putra Margono lainnya, Kapten Anumerta Soebianto Djojohadikoesoemo dan Taruna Soejono Djojohadikoesoemo, gugur dalam peristiwa Pertempuran Lengkong.  Peran Margono dalam pemerintahan Indonesia juga dimulai pada masa awal kemerdekaan.

Sehari setelah Soekarno dan Hatta dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden, dibentuk Kabinet Presidentil serta Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS). Margono kemudian dipercaya menjadi Ketua DPAS pertama. Dari posisi tersebut, Margono mengusulkan pembentukan bank sentral atau bank sirkulasi sebagaimana dimaksud dalam UUD 1945.  Soekarno dan Mohammad Hatta kemudian memberikan mandat kepadanya untuk mempersiapkan pembentukan Bank Sentral atau Bank Sirkulasi Negara Indonesia pada 16 September 1945. Tiga hari kemudian, tepatnya 19 September 1945, sidang Dewan Menteri Republik Indonesia memutuskan pembentukan bank milik negara yang menjalankan fungsi sebagai bank sirkulasi.

Upaya itu berlanjut hingga pemerintah menerbitkan Perppu Nomor 2 Tahun 1946 tentang pendirian Bank Negara Indonesia pada 15 Juli 1946.  Dalam keputusan yang sama, Margono ditunjuk sebagai Direktur Utama BNI. Pada 1970, status hukum Bank BNI kemudian dinaikkan menjadi persero. Baca juga: Kisah Susan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *