Jakarta,REDAKSI17.COM – Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) terus berkoordinasi dengan PT Roatex Indonesia Toll System (RITS) sebagai Badan Usaha Pelaksana untuk melakukan pra-uji coba proyek Multi Lane Free Flow (MLFF) atau sistem bayar tol tanpa setop. Koordinasi terkait persiapan teknis skenario untuk pra uji coba sistem pembayaran jalan tol nir sentuh itu.
“Kita sedang persiapan untuk menyiapkan ke arah sana secara teknis skenario-skenario yang akan diujicobakan,” ujar Kepala BPJT, Ni Komang Rasminiati dalam keterangan tertulis, Senin (6/7/2026).
Belum diketahui pasti sampai kapan pra uji coba dilakukan dan sistem bayar tol tanpa setop bisa diterapkan. “Ya kalau persiapannya sudah cukup matang, baru kita bisa menentukan targetnya kapan bisa dilakukan pra uji-coba,” ujar kata Ni Komang.
Demikian juga dengan lokasi pra uji coba yang belum ditentukan. Nantinya, kata dia, lokasi pra-uji coba MLFF akan ditentukan berdasarkan skenario-skenario yang sudah disusun.
Sebelumnya, Direktur PT RITS Renaldi Utomo mengatakan perusahaan saat ini terlibat dalam penyusunan skenario teknis untuk pelaksanaan pengujian tersebut. Berbagai kemungkinan kondisi di lapangan sedang dibahas sebagai bagian dari persiapan.
Menurut Renaldi, koordinasi antara pemerintah dan investor berjalan baik. Ia menilai pemerintah tetap berkomitmen melanjutkan proyek MLFF.
Sebagai investor dan mitra pemerintah dalam proyek tersebut, RITS masih menunggu keputusan terkait lokasi dan waktu pelaksanaan uji coba. Bali yang sejak awal direncanakan sebagai lokasi percontohan masih menjadi salah satu opsi, meski pengujian juga bisa dilakukan di ruas tol lain.
Kontrak kerja sama yang dimiliki RITS sejak menerima surat perintah kerja pada 15 Maret 2022 tetap mengacu pada konsep MLFF. Dalam masa transisi, sistem gerbang tol dengan palang masih dimungkinkan untuk digunakan.
“Kami memang sudah sepakat bahwa dalam proses transisi ini masih mempergunakan barrier. Jadi ada konsep transisi dan ada konsep akhir sesuai desain MLFF. Keputusan akhirnya tentu berada di pemerintah dan kami mendukung,” katanya.
Menurutnya, penyusunan skenario dan pengujian menjadi tahapan penting sebelum pemerintah mengambil keputusan terkait implementasi MLFF secara lebih luas. Sistem ini diharapkan dapat mengurangi antrean kendaraan dan mempercepat transaksi di jalan tol.
Implementasi MLFF dinilai semakin mendesak seiring meningkatnya volume lalu lintas dan kebutuhan pengelolaan transaksi jalan tol yang lebih efisien. Penerapannya perlu dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan infrastruktur di setiap ruas tol.
“Volume lalu lintas terus meningkat. Dengan pembayaran berbasis elektronik, seluruh transaksi akan tercatat secara digital sehingga pengawasan menjadi lebih mudah. Jika ke depan ada kebijakan baru seperti pajak jalan tol, perhitungannya juga akan lebih sederhana karena seluruh data sudah terekam secara elektronik,” ujar Pengamat transportasi dari Politeknik Transportasi Jalan, Anton Budiharjo.





