Kemana perginya 100.000 prajurit pajajaran?
Setelah catatan Portugis yang menyatakan adanya 100.000 Prajurit Pajajaran itu namun pada masa selanjutnya tidak ditemui catatan untuk jumlah sebanyak itu, perlu dipertimbangkan juga Jumlah Prajurit biasanya lebih sedikit dari total jumlah Masyarakat Sipil Misalnya Penduduk Pulau Jawa pada tahun 1900 an itu ad 60 Juta jiwa namun yg jadi Prajurit KNIL hanya sekitar +-17000 orang saja.
Apabila Banten yang menaklukkan Pajajaran itu membawa banyak orang Pajajaran namun jumlah penduduk Banten ternyata mereka juga tidak banyak,Catatan sensus penduduk era Banten tidak mencapai 100.000 untuk total penduduknya.
Catatan Era Mataram untuk Wilayah Priangan Juga sedikit sekali hanya beberapa Ribu orang tidak mencapai 10.000
Berikut Catatan Sensus era Banten:
Menurut Pigeaud, pada tahun 1694 Masehi Sultan Abdul Mahasin Jenal Ngabidin, penguasa Kerajaan Banten, memerintahkan Pangeran Natawijaya untuk melakukan sensus penduduk Kota Surosowan. Hasil sensus itu menunjukkan bahwa penduduk Kota Surosowan berjumlah sekitar 31.848 orang (Pigeaud, 1968′:64-65). Pada tahun 1708 dilakukan sensus penduduk yang kedua kalinya dan memberikan bukti bahwa penduduk Kota Surosowan berjumlah sekitar 36.302 orang (Pigeaud, 19683:68). Dengan demikian, dalam jangka waktu 12 tahun pertambahan penduduk kota tersebut hanya mencapai 4.454 orang atau sekitar 372 orang per tahun. Kalau dibandingkan dengan pertambahan penduduk Kota Cirebon, pertambahan penduduk Kota Surosowan tidaklah terlalu menonjol.
Selain dari hasil sensus penduduk yang dilakukan Pangeran Natawijaya, jumlah penduduk daerah Banten dapat diketahui dari catatan Francois Valentijn. la mencatat bahwa pada awal abad ke-18 Masehi, penduduk Kota Banten dengan perkampungan di sekitarnya berjumlah sekitar 8.170 keluarga. Dengan asumsi bahwa setiap keluarga beranggotakan 4 atau 5 orang, maka Kota Banten berpenduduk sekitar 32.680 atau 40.850 orang. Valentijn pun mencatat bahwa daerah Tirtayasa berpenduduk sekitar 6.000 orang (Valentijn, 1858:253; 255).
Berikut Catatan Penduduk Priangan Era Mataram:
Menurut Piagem Sultan Agung pada era Mataram penduduk Priangan Sedikit,
Piagam tersebut menyebutkan “wedana kalih welas desane wong tigang atoes”. Artinya, Wedana membawahi dua belas desa dengan total 300 kepala keluarga (cacah).Total Populasi Sebenarnya: Jika 1 kepala keluarga diasumsikan terdiri dari 4–5 anggota keluarga, wilayah dengan 300 cacah tersebut memiliki populasi sekitar 1.200 hingga 1.500 jiwa. Angka ini hanya mencakup satu wilayah bawahan (Sukapura/Priangan).
Namun Pada era Mataram Ini telah terjadi Pemadaman Pembrontakan Adipati Ukur dimana disebutkan Juga bahwa Mataram mengambil Penduduk Priangan dan dibawa ke Mataram. Mataram memang memiliki Tradisi ini nantinya Tawanan itu bisa dipekerjakan, diambil selir. Catatan Tawanan dari Blambangan juga banyak yg dibawa ke Mataram.
Kesimpulanya
1. Bisa saja sumber Portugis yg menyatakan adanya 100.000 Prajurit Pajajaran itu tidak benar atau dilebih lebihkan
2. Batavia, Cirebon tidak masuk hitungan sebab Batavia memiliki Impor budak sendiri sementara Cirebon tidak seperti Banten yang ada catatan menyerbu Pajajaran.
3.Jika Sumber Portugis Benar maka ada dua Kesultanan yg dicurigai mengurangi Populasi Pajajaran berdasarkan Sejarah mereka yaitu Banten dan Mataram Banten yang menyerbu Pajajaran sementara Mataraam yg menyerbu Priangan, namun ternyata jumlah penduduk Banten juga tidak mencapai 100.000 hanya sekitar 40 ribuan saja.
Berbeda dengan Mataram yang jumlah penduduknya sangat banyak dan ada catatan mereka memboyong Tawanan dari Jawa Barat untuk dijadikan Pekerja hingga Selir dan sejenisnya layaknya Tawanan pada Jaman itu. Jadi lebih mungkin Mataram yg mengambil banyak orang2 eks Pajajaran untuk menambah Populasi mereka yg gemar berperang dan memerlukan kekuatan Populasi.





