Oleh: Sumiman Udu
Rumah Ingatan Peradaban
Dunia sedang memasuki musim yang tidak mudah. Perdagangan mulai digunakan sebagai senjata. Rantai pasok dibentuk oleh kecurigaan. Sistem keuangan terbelah mengikuti peta politik. Negara-negara kembali melihat satu sama lain bukan sebagai mitra, melainkan sebagai ancaman.
Di tengah keadaan seperti itulah Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidatonya pada Forum Ekonomi Timur ke-11 atau Eastern Economic Forum di Vladivostok, Rusia, 3 September 2026. Sebagai tamu kehormatan utama, Prabowo mengajak negara-negara membangun kerja sama ketika dunia sedang mengalami fragmentasi.
Pidato itu ditutup dengan sebuah kalimat yang kuat:
> “Ketika sebagian pihak membangun tembok, kita membangun jembatan.”
Kalimat tersebut bukan sekadar metafora diplomatik. Di dalamnya terdapat sebuah gagasan besar tentang arah hubungan antarbangsa: bahwa masa depan dunia tidak boleh dibangun melalui ketakutan, keterasingan, dan permusuhan. Masa depan harus dibangun melalui perjumpaan, kerja sama, dan keberanian untuk saling mempercayai.
Dunia yang Kembali Membangun Tembok
Tembok tidak selalu terbuat dari batu dan beton.
Tembok dapat dibangun melalui embargo. Tembok dapat tumbuh dari perang dagang. Tembok juga dapat tercipta melalui monopoli teknologi, pembatasan pengetahuan, penguasaan sumber daya, serta sistem keuangan yang hanya memberikan keuntungan kepada segelintir negara.
Ketika perdagangan digunakan sebagai alat tekanan politik, hubungan ekonomi kehilangan semangat kemanusiaannya. Ketika pangan dan energi dijadikan senjata, rakyat biasa menjadi pihak pertama yang menanggung akibatnya. Harga kebutuhan meningkat, lapangan pekerjaan menyusut, distribusi barang terganggu, dan negara-negara berkembang semakin sulit menentukan jalannya sendiri.
Tembok semacam itu memang tidak terlihat, tetapi dampaknya dapat dirasakan di pasar, pelabuhan, ruang kelas, rumah sakit, dan meja makan keluarga.
Dalam pidatonya, Prabowo menyebut bahwa jembatan perlu dibangun melalui kerja sama di bidang pangan, energi, ilmu pengetahuan, logistik, dan perdagangan. Setiap kerja sama konkret dalam bidang tersebut merupakan jawaban terhadap dunia yang semakin terpecah. Presiden Republik Indonesia
Dengan demikian, jembatan yang ditawarkan bukanlah gagasan abstrak. Ia harus hadir dalam jalur pelayaran, penerbangan langsung, pertukaran mahasiswa, riset bersama, perdagangan yang adil, pembangunan teknologi, dan investasi yang menciptakan pekerjaan bagi rakyat.
Jembatan Antarperadaban
Hubungan Indonesia dan Rusia memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Namun, sejarah tidak cukup hanya dikenang. Persahabatan masa lalu harus diterjemahkan menjadi kerja sama yang memberikan manfaat nyata bagi generasi hari ini.
Prabowo menegaskan bahwa persahabatan tidak boleh hidup hanya dalam sejarah. Setiap generasi harus berani menulis babak baru hubungan antarbangsa. Pandangan tersebut mengandung kesadaran bahwa diplomasi bukan sekadar pertemuan para pemimpin, penandatanganan dokumen, atau pertukaran penghormatan kenegaraan.
Diplomasi adalah usaha menghubungkan kehidupan manusia.
Sebuah jembatan antarperadaban menghubungkan pengetahuan Rusia dengan kebutuhan pembangunan Indonesia. Ia mempertemukan sumber daya Indonesia dengan teknologi dan pasar Eurasia. Ia membuka kemungkinan bagi mahasiswa Indonesia belajar tentang sains, kedokteran, energi, dan teknologi, sekaligus memperkenalkan kebudayaan Nusantara kepada masyarakat dunia.
Jembatan antarperadaban juga memungkinkan bangsa-bangsa untuk berbeda tanpa harus bermusuhan.
Indonesia tidak harus menjadi Rusia. Rusia tidak harus menjadi Indonesia. Keduanya memiliki sejarah, kebudayaan, kepentingan, dan pandangan politik yang berbeda. Namun, perbedaan tersebut tidak seharusnya menghalangi kerja sama yang memberikan manfaat bagi manusia.
Peradaban tumbuh bukan karena semua bangsa menjadi sama, tetapi karena mereka mampu saling belajar dalam perbedaan.
Indonesia Tidak Memilih Tembok
Politik luar negeri bebas dan aktif memberikan ruang kepada Indonesia untuk bersahabat dengan semua negara tanpa harus kehilangan kedaulatannya. Bebas bukan berarti tidak memiliki sikap. Aktif bukan berarti mengikuti semua kepentingan kekuatan besar.
Bebas berarti Indonesia menentukan jalannya sendiri.
Aktif berarti Indonesia ikut menciptakan perdamaian, keadilan, dan keseimbangan dunia.
Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan bahwa negara-negara Global South bukanlah blok baru untuk berhadapan dengan blok lainnya. Global South merupakan kekuatan yang memperjuangkan keadilan, pembagian kemakmuran yang lebih setara, serta hak untuk ikut merumuskan aturan dunia.
Pandangan ini penting. Dunia tidak membutuhkan tembok baru yang dibangun atas nama perlawanan terhadap tembok lama. Dunia membutuhkan meja yang lebih besar agar semakin banyak bangsa dapat duduk secara setara.
Karena itu, kedekatan Indonesia dengan Rusia tidak seharusnya dibaca sebagai menjauh dari negara lain. Hubungan tersebut harus ditempatkan sebagai bagian dari keberanian Indonesia membangun banyak jembatan: ke Rusia, Tiongkok, Amerika Serikat, Eropa, Timur Tengah, Afrika, Pasifik, dan seluruh kawasan dunia.
Indonesia harus menjadi sahabat bagi banyak bangsa tanpa menjadi alat kepentingan bangsa mana pun.
Dari Diplomasi Elite Menuju Kemakmuran Rakyat
Namun, setiap gagasan besar harus diuji melalui dampaknya terhadap rakyat.
Jembatan antarperadaban tidak boleh berhenti menjadi jalan yang hanya dilewati modal besar dan elite ekonomi. Jembatan itu harus dapat dilalui oleh nelayan, petani, mahasiswa, peneliti, guru, pelaku UMKM, seniman, dan generasi muda.
Jika kerja sama pangan hanya memperkuat perusahaan besar, rakyat belum merasakan jembatan itu.
Jika kerja sama energi tidak menurunkan biaya kehidupan, masyarakat masih berdiri di luar jembatan.
Jika kerja sama ilmu pengetahuan tidak membuka kesempatan bagi generasi muda Indonesia, jembatan itu belum sampai ke masa depan.
Prabowo meminta agar setiap kesepakatan yang diumumkan di Vladivostok menghasilkan sesuatu yang dapat dilihat dan dirasakan oleh rakyat. Ia mendorong pembukaan jalur pelayaran dan penerbangan langsung, optimalisasi perjanjian perdagangan bebas, peningkatan perdagangan, kerja sama produksi, serta pembiayaan proyek strategis melalui Danantara dan Russian Direct Investment Fund. Sekretariat Kabinet Republik Indonesia
Di sinilah ukuran sesungguhnya sebuah diplomasi: bukan seberapa megah forum tempat pidato disampaikan, tetapi seberapa jauh hasilnya memperbaiki kehidupan manusia.
Gotong Royong sebagai Bahasa Peradaban
Dalam pidatonya, Prabowo mengutip pepatah Rusia, “Odin v pole ne voin”—seseorang tidak akan memperoleh kemenangan jika berjuang sendirian. Ia kemudian mempertemukannya dengan nilai Indonesia: gotong royong.
Dua ungkapan dari dua kebudayaan berbeda itu bertemu pada satu kesadaran: manusia membutuhkan manusia lainnya.
Tidak ada negara yang dapat menghadapi krisis pangan sendirian. Tidak ada bangsa yang dapat menghentikan perubahan iklim sendirian. Tidak ada peradaban yang dapat menjamin perdamaian hanya dengan memperbesar kekuatan militernya.
Krisis global memerlukan kecerdasan bersama. Kemiskinan membutuhkan solidaritas. Perdamaian memerlukan keberanian untuk berbicara dengan pihak yang berbeda. Masa depan hanya dapat dibangun melalui kesediaan memikul beban bersama.
Gotong royong, karena itu, bukan sekadar tradisi sosial masyarakat Indonesia. Ia dapat ditawarkan sebagai bahasa diplomasi dan etika hubungan antarperadaban.
Jembatan untuk Generasi Berikutnya
Pidato Prabowo di Vladivostok membawa pesan yang lebih luas daripada hubungan Indonesia–Rusia. Ia mengingatkan bahwa generasi hari ini sedang menentukan bentuk dunia yang akan diwarisi generasi berikutnya.
Apakah kita akan mewariskan dunia yang penuh pagar, blok, dan kecurigaan?
Ataukah kita akan meninggalkan jaringan jembatan yang memungkinkan manusia saling bertemu, bertukar ilmu, berdagang secara adil, dan menyelesaikan perselisihan tanpa menghancurkan kehidupan?
Madani Next Generation membutuhkan dunia kedua: dunia yang memungkinkan identitas tumbuh tanpa kebencian, teknologi berkembang tanpa penjajahan baru, dan kemakmuran hadir tanpa mengorbankan martabat manusia.
Generasi masa depan tidak cukup hanya diajarkan cara menggunakan jembatan yang dibangun bangsa lain. Mereka harus dipersiapkan menjadi pembangun jembatan—jembatan pengetahuan, ekonomi, kebudayaan, teknologi, dan perdamaian.
Sebab peradaban tidak dibangun oleh mereka yang hanya pandai menunjukkan siapa musuhnya. Peradaban dibangun oleh manusia yang mampu menemukan ruang perjumpaan di tengah perbedaan.
Ketika dunia memilih kecurigaan, Indonesia harus menawarkan kepercayaan.
Ketika dunia menggunakan perdagangan sebagai senjata, Indonesia harus memperjuangkan perdagangan sebagai jalan kemakmuran bersama.
Ketika dunia membangun tembok, Indonesia harus tetap membangun jembatan.
Dan sejarah kelak tidak hanya bertanya di pihak mana Indonesia pernah berdiri. Sejarah akan bertanya: jembatan apa yang telah dibangun Indonesia bagi perdamaian, kemakmuran, dan masa depan umat manusia?





