Buat para pengelola pesantren, kalau Anda punya tanggungjawab terhadap santri Anda, kini saatnya menolak MBG masuk pesantren.
MBG masuk pesantren itu sebenarnya tidak masuk akal.
Mari kita jujur ke publik dan para pembayar pajak. Sejatinya, saat pesantren menerima MBG, mereka sedang menerima uang tunai.
Alurnya begini: wali santri tiap bulan bayar spp dan uang makan ke pondok. Dari uang itu, santri dapat makan 3 kali sehari. Jadi saat ponpes menerima MBG, uang makan yang dibayar santri utuh dan tetap masuk kas pesantren.
Tidak ada ceritanya pesantren terima MBG lalu uang makan yang sudah dibayar santri dikembalikan ke wali santri. Tidak pernah ada.
Kasus keracunan ratusan santri karena MBG sebenarnya hanya membongkar buruknya konsep MBG itu sendiri.
Konsep awal MBG untuk stunting, untuk orang miskin. Tapi kenapa didistribusikan ke pesantren?
Tanpa MBG, pesantren akan tetap kasih makan santrinya setiap hari 3 kali. Tentunya dengan kualitas gizi yang disesuaikan berdasarkan besaran uang makan yang dibayar.
Pertanyaannya: emang BGN gak tahu pesantren itu berasrama yang artinya menyediakan akomodasi + konsumsi.
Kenapa membiarkan/membolehkan/mengarahkan dapur buat menyediakan makan ke pesantren?
Oke pasti ada pesantren yang secara keuangan tidak leluasa dalam mengelola kebutuhan makan santrinya.
Untuk kasus ini, yang dibutuhkan pesantren ya tambahan uang untuk masak. Bukan nampan berisi sajian makan siang yang dimasak di luar sana pagi sekali dan baru dikirimkan ke pesantren siang hari.
Pesantren butuh uangnya, bukan menunya.
Lagi pula, MBG memang bukan dibuat untuk menggantikan masakan pesantren dengan masakan pemerintah. Toh BGN hanya memberikan makan siang, sedangkan makan pagi dan malam tetap dimasak dan dikelola oleh pesantren pakai uang makan santri.
Jadi sekali lagi, selama sistem MBG belum diubah, pesantren sebaiknya menolak MBG masuk perut santri. Ratusan santri keracunan, peringatan apalagi yang Anda nantikan?
Kembalilah masak sendiri buat santri Anda, itu lebih aman dan terjamin kesehatan dan gizinya.
Kecuali kalau nanti sistem MBG sudah diubah dan pesantren bisa terima uang tunai dari BGN buat masakin sendiri santri di dapur milik pesantren.
Sungguh, sistem MBG di Tanah Air adalah yang paling rusak dan merusak. Alhamdulillah sekolah yang saya kelola konsisten menolak MBG dan lebih memilih melanjutkan program makan siang di sekolah yang nasi lauknya dimasak sendiri oleh wali murid.
Semoga anak² kita di pesantren dan sekolah selamat dari keracunan MBG. Amiin.
@iskandarjet
Alumnus pesantren yang semua anaknya sedang mondok di pesantren





