Beranda / Opini / Apa Kabar Bank Mandiri ?

Apa Kabar Bank Mandiri ?

Beberapa hari terakhir, satu rekening Bank Mandiri mendadak menjadi bahan pembicaraan. Rekening yang digunakan untuk menghimpun dana Aliansi Masyarakat Pati Bersatu tidak bisa digunakan setelah ada permintaan dari aparat penegak hukum. Nilainya sekitar Rp 80,9 juta, berisi dana pribadi sekaligus sumbangan masyarakat untuk kebutuhan aksi.
Belakangan, Polda Metro Jaya menjelaskan bahwa langkah yang diminta kepada Bank Mandiri berupa penundaan transaksi, bukan pemblokiran permanen. OJK juga menyatakan sedang mendalami persoalan tersebut. Tetapi di ruang publik, masalahnya berkembang jauh lebih luas karena muncul kritik, seruan memindahkan uang dari Bank Mandiri, sampai unggahan nasabah yang menggunting kartu ATM sebagai bentuk protes.
Sampai sekarang belum ada data resmi yang menunjukkan Bank Mandiri benar-benar mengalami penarikan dana besar-besaran. Jadi belum tepat menyebut situasi ini sebagai bank run. Namun kasus tersebut tetap memunculkan satu pertanyaan yang menarik. Bagaimana kalau ajakan menarik uang itu benar-benar dilakukan dalam jumlah besar?
Bagaimana kalau bukan puluhan atau ratusan orang, tetapi ratusan ribu bahkan jutaan nasabah tiba-tiba berpikir hal yang sama? Mereka membuka aplikasi, memindahkan tabungan ke bank lain, mencairkan deposito, atau menarik uang dalam waktu hampir bersamaan. Apa yang sebenarnya akan terjadi pada sebuah bank?
Sekilas jawabannya terasa sederhana. Uang itu milik nasabah, jadi kalau mau diambil, bank tinggal mengembalikannya. Masalahnya, bank tidak bekerja seperti tempat penitipan uang yang menyimpan seluruh dana nasabah di dalam brankas.
Dana yang masuk ke bank sebagian digunakan untuk menyalurkan kredit, membeli surat berharga, membiayai kegiatan ekonomi, dan ditempatkan dalam berbagai aset. Sebagian lainnya tetap disiapkan dalam bentuk dana yang mudah dicairkan untuk memenuhi kebutuhan penarikan nasabah. Sistem ini bisa berjalan karena dalam kondisi normal tidak semua orang mengambil uangnya secara bersamaan.
Setiap hari ada orang menarik uang, tetapi ada juga yang menabung. Ada perusahaan membayar tagihan, ada pegawai menerima gaji, ada uang keluar dan ada pula uang masuk. Bank mengelola pergerakan itu agar kebutuhan nasabah tetap bisa dipenuhi.
Masalah mulai muncul kalau pola tersebut berubah drastis. Ketika banyak nasabah menarik atau memindahkan dana dalam waktu bersamaan, bank harus menyediakan uang siap pakai dalam jumlah jauh lebih besar dari biasanya. Kondisi seperti inilah yang dikenal sebagai bank run.
Bank run tidak selalu langsung membuat bank bangkrut. Bank masih memiliki kas, aset yang mudah dicairkan, cadangan likuiditas, serta akses ke sumber pendanaan lain. Tetapi kalau uang yang keluar terlalu besar dan terlalu cepat, tekanan terhadap bank mulai meningkat.
Dalam kondisi seperti itu, bank mungkin harus menjual aset untuk mendapatkan uang tunai. Kalau kondisi pasar sedang tidak bagus, aset yang sebenarnya masih bernilai bisa terpaksa dijual dengan harga lebih rendah. Bank yang awalnya hanya membutuhkan tambahan uang siap pakai akhirnya mulai mencatat kerugian.
Di sinilah situasinya bisa berubah menjadi lingkaran yang berbahaya. Kerugian membuat nasabah lain semakin khawatir, kekhawatiran membuat lebih banyak orang menarik uang, dan semakin banyak uang keluar maka semakin berat pula tekanan terhadap bank. Kasus Silicon Valley Bank atau SVB di Amerika Serikat pada 2023 memberikan contoh yang sangat jelas.
SVB bukan bank kecil. Pada akhir 2022, bank tersebut memiliki sekitar US$209 miliar aset dan sekitar US$175,4 miliar deposito. Tetapi sebelum nasabah beramai-ramai mengambil uang, bank tersebut memang sudah memiliki masalah.
Banyak dana SVB ditempatkan dalam surat berharga jangka panjang ketika suku bunga masih rendah. Ketika suku bunga Amerika naik tajam, nilai pasar surat berharga tersebut turun. Selama aset itu belum dijual, kerugiannya belum sepenuhnya terasa, tetapi masalah muncul ketika bank mulai membutuhkan uang tunai dalam jumlah besar.
Pada 8 Maret 2023, SVB mengumumkan penjualan surat berharga dan mencatat kerugian sekitar US$1,8 miliar. Bank juga berencana mencari tambahan modal. Bukannya menenangkan nasabah, kabar tersebut justru memperbesar kekhawatiran.
Sehari kemudian, pada 9 Maret 2023, nasabah mencoba menarik sekitar US$42 miliar hanya dalam satu hari kerja. Untuk hari berikutnya, diperkirakan ada lebih dari US$100 miliar penarikan tambahan yang akan terjadi. Bank tidak mampu menghadapi tekanan sebesar itu dan pada 10 Maret 2023 regulator akhirnya menutup SVB.
Namun SVB tidak jatuh hanya karena nasabah tiba-tiba panik. Bank tersebut memang memiliki kelemahan dalam pengelolaan risiko, struktur pendanaan, serta konsentrasi nasabahnya. Bank run menjadi pemicu yang mempercepat masalah yang sebenarnya sudah ada.
Dari kasus ini terlihat satu hal yang menarik. Sebuah bank bisa saja memiliki aset sangat besar, tetapi aset tersebut tidak semuanya berbentuk uang yang bisa langsung diberikan kepada nasabah hari itu juga. Ada kredit rumah yang baru lunas belasan tahun lagi, ada pinjaman perusahaan, dan ada surat berharga yang baru jatuh tempo di kemudian hari.
Sementara nasabah yang panik tidak mau menunggu lima atau sepuluh tahun. Mereka ingin uangnya hari ini. Di sinilah kepercayaan menjadi sangat penting dalam dunia perbankan.
Nasabah menyimpan uang karena percaya uang tersebut tetap tersedia ketika dibutuhkan. Selama kepercayaan itu ada, sistem berjalan seperti biasa. Tetapi ketika kepercayaan hilang dalam jumlah besar dan pada waktu yang bersamaan, persoalannya bisa berubah sangat cepat.
Apalagi sekarang memindahkan uang jauh lebih mudah dibandingkan masa lalu. Dulu gambaran bank run adalah antrean panjang di depan kantor cabang karena orang harus datang langsung untuk mengambil uangnya. Sekarang cukup membuka aplikasi dan dalam hitungan menit dana bisa berpindah dari satu bank ke bank lain.
Kasus SVB menunjukkan bagaimana teknologi perbankan dan media sosial bisa mempercepat kepanikan. Informasi menyebar dalam hitungan jam, lalu keputusan menarik uang juga dilakukan dalam hitungan jam. Tidak perlu ada kerumunan di depan kantor bank untuk membuat dana keluar dalam jumlah sangat besar.
Sekarang kembali ke Bank Mandiri. Apakah situasi yang terjadi saat ini sama dengan SVB? Tidak. Sampai sekarang tidak ada data resmi yang menunjukkan Bank Mandiri sedang mengalami bank run atau kesulitan memenuhi penarikan dana nasabah. Skala Bank Mandiri juga sangat besar, dengan dana pihak ketiga sekitar Rp 1.710 triliun per Juni 2026, kredit bank only sekitar Rp 1.592 triliun, serta laba bersih konsolidasi semester pertama 2026 sekitar Rp 30,4 triliun. Jadi tidak tepat kalau satu polemik penundaan transaksi langsung diartikan sebagai tanda bank akan tumbang.
Justru yang menarik bukan apakah Bank Mandiri akan bangkrut. Pertanyaannya adalah seberapa besar sebenarnya kekuatan kepercayaan nasabah terhadap sebuah bank. Satu rekening senilai Rp 80 jutaan jelas sangat kecil dibandingkan dana nasabah yang dikelola Bank Mandiri.
Seratus nasabah memindahkan uang mungkin tidak banyak berarti, bahkan seribu orang pun mungkin belum terasa. Tetapi bagaimana kalau jumlahnya terus membesar menjadi puluhan ribu, ratusan ribu, atau bahkan jutaan nasabah? Pada titik tertentu, reaksi yang awalnya hanya berupa protes bisa berubah menjadi persoalan likuiditas kalau dana yang keluar terlalu besar dan terjadi terlalu cepat.
Tidak ada satu angka pasti yang berlaku untuk semua bank. Setiap bank memiliki kekuatan modal, aset likuid, sumber pendanaan, dan profil nasabah yang berbeda. Tetapi ada satu hal yang sama. Tidak ada bank yang dirancang dengan asumsi seluruh nasabah akan mengambil semua uangnya pada hari yang sama.
Itulah mengapa persoalan mengenai akses rekening terasa jauh lebih sensitif dibandingkan masalah pelayanan biasa. Kalau aplikasi lambat, nasabah mungkin kesal, dan kalau antrian teller panjang, nasabah mungkin mengeluh. Tetapi ketika yang dipertanyakan adalah apakah uang tetap bisa digunakan ketika dibutuhkan, yang disentuh adalah rasa aman.
Dalam kasus rekening Pati, kepolisian menyatakan dana tidak disita dan tetap berada di rekening. Penundaan transaksi juga disebut dilakukan dalam jangka waktu terbatas sesuai proses penyelidikan. Artinya, tidak tepat menyimpulkan bahwa bank bisa mengambil uang nasabah sesuka hati.
Tetapi reaksi publik terhadap kasus ini tetap menunjukkan sesuatu yang menarik. Keputusan yang menyangkut satu rekening bisa dilihat oleh jutaan nasabah lain, termasuk mereka yang sama sekali tidak terlibat dalam kasus tersebut. Dari situlah orang mulai membayangkan bagaimana kalau suatu hari rekening mereka sendiri mengalami hal serupa.
Indonesia sebenarnya memiliki berbagai pengaman dalam sistem perbankan. Ada pengawasan OJK, aturan likuiditas, Bank Indonesia sebagai bank sentral, serta LPS yang memberikan penjaminan simpanan sesuai ketentuan. Semua itu dibuat agar masalah pada satu bank tidak mudah berkembang menjadi kepanikan yang lebih besar.
Namun pengalaman SVB menunjukkan bahwa teknologi membuat kepercayaan semakin penting. Kalau dulu kepanikan membutuhkan orang berkumpul di depan kantor bank, sekarang jutaan orang bisa mengambil keputusan yang sama tanpa pernah bertemu satu sama lain. Cukup dengan informasi yang menyebar, lalu satu tombol transfer yang ditekan.
Karena itu, polemik Bank Mandiri kali ini sebenarnya membuka pertanyaan yang lebih luas daripada sekadar satu rekening yang tidak bisa digunakan sementara. Bagaimana kalau suatu hari masyarakat benar-benar kehilangan kepercayaan terhadap sebuah bank? Bagaimana kalau rasa khawatir yang awalnya hanya menjadi percakapan di media sosial berubah menjadi jutaan transaksi penarikan dan pemindahan dana?
Apakah bank bisa bangkrut? Bisa mengalami tekanan sangat serius, terutama kalau penarikan dilakukan dalam jumlah besar, dalam waktu sangat cepat, sementara bank tersebut memang memiliki persoalan keuangan di dalamnya. SVB sudah menunjukkan bahwa bank dengan aset ratusan miliar dolar pun bisa runtuh dalam hitungan hari ketika masalah internal bertemu dengan penarikan dana besar-besaran.
Tetapi mungkin ada refleksi lain yang lebih menarik. Selama ini kita merasa kita sangat membutuhkan bank karena gaji masuk ke sana, tabungan disimpan di sana, cicilan dibayar dari sana, dan transfer dilakukan lewat sana. Padahal hubungan itu sebenarnya berjalan dua arah.
Bank juga membutuhkan uang yang kita simpan untuk menjalankan bisnisnya. Lebih dari itu, bank membutuhkan keyakinan bahwa kita tidak semuanya akan datang pada waktu yang sama untuk meminta uang tersebut kembali. Mungkin itulah bagian paling menarik dari sistem perbankan.
Sebuah bank bisa memiliki gedung besar, aset ribuan triliun rupiah, jutaan nasabah, dan teknologi yang sangat canggih. Tetapi semuanya tetap berdiri di atas satu hal yang tidak terlihat, yaitu kepercayaan. Selama nasabah percaya uangnya aman, sistem berjalan seperti biasa. Lalu bagaimana kalau suatu hari kepercayaan itu hilang secara bersamaan? Kira-kira apa yang akan terjadi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *