Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Tetapi coba lihat kembali perjalanan Pati.
Hari ini, sebagian masyarakat Pati bergerak menuju Jakarta dan membawa tuntutan mereka sampai ke depan DPR RI.
Tahun lalu, warga turun ke jalan karena persoalan pajak.
Beberapa tahun sebelumnya, masyarakat Kendeng bertahun-tahun mempertahankan tanah, sumber air, dan ruang hidup mereka.
Dan lebih dari satu abad lalu, di kawasan Pati dan sekitarnya, muncul gerakan Samin yang memilih menghadapi kekuasaan kolonial bukan dengan senjata, melainkan dengan ketidakpatuhan.
Apakah semua itu kebetulan?
Atau ada sesuatu dalam perjalanan sosial masyarakat Pati yang membuat perlawanan selalu menemukan bentuk baru?
Untuk menjawabnya, kita harus kembali ke masa ketika pemerintah kolonial berhadapan dengan seorang lelaki yang tidak membawa senapan.
Namanya Samin Surosentiko.
1890-AN: KETIKA MELAWAN BERARTI TIDAK TUNDUK
Pada akhir abad ke-19, pemerintah kolonial memberlakukan berbagai aturan dan pungutan kepada masyarakat. Di tengah kondisi tersebut, Samin Surosentiko membangun gerakan yang kemudian dikenal sebagai Saminisme atau Sedulur Sikep.
Perlawanan mereka tidak seperti perang pada umumnya.
Tidak ada pasukan besar.
Tidak ada meriam.
Tidak ada serangan ke benteng.
Mereka memilih cara yang jauh lebih sederhana: menolak tunduk pada aturan yang mereka anggap tidak adil.
Persoalan pajak menjadi salah satu bagian penting dalam konflik tersebut.
Bagi pengikut Samin, tanah adalah sumber kehidupan. Jika pemerintah tidak menciptakan tanah dan tidak ikut mengolahnya, mengapa rakyat harus begitu saja menyerahkan hasilnya?
Perlawanan itu kemudian menjadi contoh bahwa kekuasaan tidak selalu harus dilawan dengan kekerasan.
Kadang, ketidakpatuhan pun bisa menjadi senjata.
Namun waktu terus berjalan.
Belanda akhirnya pergi.
Indonesia merdeka.
Generasi berganti.
Tetapi persoalan mengenai tanah dan ruang hidup ternyata belum selesai.
KENDENG: KETIKA TANAH KEMBALI MENJADI MEDAN PERLAWANAN
Puluhan tahun kemudian, Pegunungan Kendeng menjadi panggung perjuangan masyarakat yang menolak pembangunan industri semen.
Bagi para petani, persoalannya bukan hanya tentang sebuah proyek.
Ada sawah.
Ada sumber air.
Ada mata pencaharian.
Dan ada keyakinan bahwa gunung serta tanah adalah bagian dari kehidupan yang harus dijaga.
Perlawanan pun berlangsung panjang.
Salah satu gambaran paling kuat datang dari para perempuan petani yang dikenal sebagai Kartini Kendeng.
Mereka datang ke Jakarta dan melakukan aksi simbolik dengan mengecor kaki menggunakan semen.
Bayangkan gambarnya.
Kaki petani yang selama hidupnya menginjak tanah justru dipasung dengan semen.
Pesannya sederhana tetapi menusuk:
“Jika tanah kami hendak disemen, lihatlah bagaimana kehidupan kami ikut terancam.”
Cara melawan kembali berubah.
Samin melawan dengan ketidakpatuhan.
Kendeng melawan dengan aksi simbolik dan perjuangan lingkungan.
Tetapi persoalan dasarnya memiliki kemiripan:
hubungan antara rakyat, tanah, dan kekuasaan.
2025: PAJAK KEMBALI MENJADI PEMANTIK
Lalu datanglah tahun 2025.
Persoalan pajak kembali menjadi salah satu pemicu kemarahan masyarakat Pati setelah muncul kebijakan kenaikan PBB-P2 yang sangat besar.
Bagi pemerintah, pajak adalah sumber pendapatan daerah.
Tetapi bagi masyarakat, angka dalam lembar pajak bisa berarti sesuatu yang jauh lebih besar.
Di baliknya ada rumah.
Ada sawah.
Ada tanah warisan.
Ada hasil kerja bertahun-tahun.
Ketika beban dirasakan terlalu berat, masyarakat pun turun ke jalan.
Generasi muda ikut mengambil bagian.
Media sosial menjadi pengeras suara.
Bahkan simbol budaya populer seperti bendera One Piece ikut muncul dalam aksi.
Menariknya, bentuk perlawanan generasi baru ini sangat berbeda dengan zaman Samin.
Tetapi sekali lagi, ada satu pertanyaan yang sama:
“Apakah suara rakyat benar-benar didengar?”
2026: DARI PATI MENUJU SENAYAN
Kini kita sampai pada babak terbaru.
Agustus 2026.
Sebagian masyarakat Pati kembali bergerak.
Kali ini bukan hanya menuju kantor pemerintahan daerah.
Mereka membawa tuntutan hingga Jakarta.
Di bawah nama Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), massa mendirikan posko dan tenda serta menyampaikan tuntutan mereka di depan gedung DPR RI.
Isunya pun telah berkembang.
Bukan lagi hanya soal pajak daerah.
Mereka membawa tuntutan yang lebih luas, termasuk desakan pengesahan RUU Perampasan Aset dan pemberantasan korupsi yang lebih keras.
Dari Pati menuju Senayan.
Dari persoalan daerah menuju persoalan nasional.
Dan di titik inilah pertanyaan awal kita kembali muncul:
Kenapa Pati berkali-kali melawan?
Apakah karena masyarakat Pati memang memiliki “darah perlawanan” sejak zaman Samin?
Jawabannya tidak sesederhana itu.
Kita tidak bisa mengatakan bahwa demonstrasi hari ini adalah kelanjutan langsung gerakan Samin.
Zamannya berbeda.
Orangnya berbeda.
Persoalannya juga berbeda.
Tetapi sejarah menunjukkan sesuatu yang menarik.
Dari generasi ke generasi, masyarakat di kawasan ini berkali-kali berhadapan dengan persoalan tentang tanah, pajak, lingkungan, kebijakan pemerintah, dan rasa keadilan.
Dan setiap zaman melahirkan cara melawannya sendiri.
Samin memilih tidak tunduk.
Petani Kendeng memilih bertahan.
Masyarakat Pati 2025 memilih turun ke jalan.
Dan 2026, sebagian warga membawa suara itu hingga ke Senayan.
Mungkin inilah yang sebenarnya menarik dari sejarah Pati.
Bukan soal apakah semua perlawanan tersebut berasal dari satu gerakan yang sama.
Bukan pula tentang membuktikan bahwa setiap demonstrasi hari ini adalah warisan langsung Samin.
Melainkan tentang bagaimana masyarakat di sebuah daerah terus menemukan cara untuk bernegosiasi dengan kekuasaan ketika merasa kepentingan mereka tidak terwakili.
Bentuknya berubah.
Teknologinya berubah.
Generasinya berubah.
Tetapi satu hal tetap ada:
keinginan untuk didengar.
Lebih dari satu abad lalu, suara itu muncul dari desa-desa.
Kemudian terdengar dari Pegunungan Kendeng.
Lalu menggema di jalan-jalan Pati.
Dan hari ini, suara itu sampai ke depan gedung parlemen.
Mungkin sejarah memang tidak pernah benar-benar mengulang dirinya.
Yang berulang adalah pertanyaannya.
Ketika rakyat merasa tidak didengar…
ke mana lagi mereka harus membawa suaranya?





