Beranda / Hikayat Seni dan Budaya / Kotagede Ibukota Yang Ditinggalkan

Kotagede Ibukota Yang Ditinggalkan

MEMBACA KOTA YOGYAKARTA
Kotagede Ibu Kota yang Ditinggalkan tapi Tidak Pernah Mati

Oleh M. Basyir Zubair (EMBAS)

Saya tinggal di Kotagede. Sudah lama. Cukup lama untuk tahu bahwa orang yang paling tidak mengenal Kotagede biasanya adalah orang yang paling sering mengunjunginya, turis yang datang, membeli perak, lalu pulang dengan keyakinan bahwa mereka sudah ‘mengenal’ Kotagede.

Kotagede bukan destinasi wisata perak. Itu hanya kulitnya yang paling luar. Di bawah kulitnya, Kotagede adalah sebuah kota tua yang menyimpan lapisan peradaban yang jauh lebih panjang dari yang selama ini diajarkan, bukan dimulai dari abad ke-16, bukan dari hutan yang dibuka Ki Ageng Pemanahan, bukan dari nol.

Dan inilah yang perlu saya luruskan lebih dulu, sebelum kita membaca Kotagede lapis demi lapis.

Narasi ‘Alas Mentaok yang sunyi’ bukan deskripsi faktual. Ia adalah pernyataan politik yang dibalut bahasa kosmologis. Mataram Islam tidak berdiri di atas kekosongan. Ia berdiri di atas pundak peradaban yang tak pernah mati.

PERTAMA: MEMBONGKAR MITOS KOTAGEDE BUKAN HUTAN KOSONG

Ada satu kalimat yang sudah terlanjur diajarkan sebagai fakta di sekolah-sekolah, diulang dalam brosur wisata, dan dikutip tanpa kritis dalam ratusan artikel sejarah populer: bahwa Ki Ageng Pemanahan datang ke Alas Mentaok hutan kosong, belantara sunyi, lalu membukanya menjadi ibu kota Mataram Islam.

Kalimat itu salah. Atau lebih tepatnya: kalimat itu adalah propaganda dinasti, bukan laporan sejarah.

Bagaimana kita tahu? Karena lima jalur bukti dari sumber-sumber yang sama sekali tidak saling bergantung, filologi, kronik, arkeologi, toponimi, dan tradisi lisan yang dikonfirmasi material, semuanya menunjukkan hal yang sama: kawasan Mentaok/Kotagede tidak pernah kosong selama enam abad antara runtuhnya Mataram Kuno (±928 M) dan kedatangan Pamanahan di tahun 1570-an.

LIMA JALUR BUKTI KOTAGEDE BUKAN TANAH KOSONG

1. FILOLOGI: Banawa Sekar (Mpu Tanakung, abad ke-15 M) menyebut ‘Tan sor Śrī Naranātha riṅ Mataram’, ‘Tidak kalah juga Raja di Mataram’, dalam upacara śrāddha Majapahit. Ini bukan daftar wilayah administratif; ini referensi kepada penguasa nyata yang diakui dalam ritual tertinggi kerajaan. Bujangga Manik (Sunda Kuno, Bodleian Library MS Jav. b. 3, akhir abad ke-15/awal ke-16) mencatat perjalanan melewati kawasan Mataram yang hidup dan berpenghuni.

2. KRONIK: Pararaton mencatat jabatan Bhre Mataram sebagai jabatan gubernatorial resmi Majapahit, bukan sebagai kawasan kosong tak berpemerintahan.

3. ARKEOLOGI: Temuan gerabah berornamen Majapahit abad ke-13 di Situs Keputren Pleret (BRIN, 2023) membuktikan hunian berkesinambungan.

4. TOPONIMI: Nama-nama kampung pengrajin (Pandheyan, Sayangan, Mranggen, Samakan) tidak mungkin terbentuk dalam satu generasi, ia merekam komunitas yang sudah mengakar lama.

5. NEGOSIASI ALIH KUASA: Ki Ageng Pamanahan tidak datang ke hutan kosong, ia bertemu Panembahan Joyoprono (Ki Ageng Mataram II), pemimpin spiritual yang sudah mapan. Pamanahan mengangkat Joyoprono sebagai gurunya. Panembahan Senopati kemudian menempatkan makam Joyoprono di Pasarean Astana Raja Kotagede, pengakuan resmi dan permanen atas pendahulu pra-Mataram. (Sumber: M. Basyir Zubair, ‘Kotagede Bukan Tanah Kosong’, 2026)

Lalu mengapa narasi ‘hutan kosong’ itu lahir dan bertahan begitu lama?

Jawabannya ada di dalam logika produksi babad. Babad Tanah Jawi versi Sultan Agung yang menjadi sumber narasi dominan tentang berdirinya Mataram, ditulis bukan untuk merekam sejarah secara jujur, tapi untuk melegitimasi kekuasaan. Dengan menyatakan bahwa Mataram dibangun dari kekosongan, babad itu secara efektif menghapus klaim historis pihak lain atas wilayah tersebut.

Pembangunan dari nol jauh lebih heroik dan lebih tidak terbantahkan, daripada pengambilalihan dari komunitas yang sudah ada.

Ini bukan anomali Jawa. Ini adalah pola yang ditemukan di hampir semua ‘founding narrative’ dinasti besar di Asia Tenggara. Sejarawan Eric Hobsbawm menyebutnya invented tradition: tradisi yang dikonstruksi untuk tujuan legitimasi, bukan rekaman organik dari peristiwa yang sesungguhnya terjadi.

Yang sesungguhnya terjadi di Kotagede, berdasarkan semua bukti yang ada, bukanlah pembukaan hutan. Melainkan integrasi cerdas: Ki Ageng Pamanahan dan Panembahan Senopati mengambil kawasan yang sudah memiliki pasar yang berfungsi, komunitas pengrajin yang terampil, tradisi tata kota yang diakui, dan jaringan sosial yang mapan, lalu mengintegrasikannya ke dalam struktur kekuasaan baru. Hasilnya adalah kekuatan yang tumbuh luar biasa cepat: dalam hitungan dekade dari ‘desa perdikan’, Mataram menjadi kerajaan yang dalam catatan De Houtman (1596) digambarkan sebagai kekuatan terbesar di Jawa.

Ki Ageng Pamanahan tidak membuka hutan. Ia mewarisi peradaban. Dan Panembahan Senopati cukup jujur dan cukup cerdas untuk mengakuinya: dengan menempatkan makam Panembahan Joyoprono, pendahulu pra-Mataram, di dalam kompleks makam kerajaan yang sama dengan para raja Mataram. Pengakuan material yang tidak bisa ditarik kembali.

KEDUA: MASJID GEDHE MATARAM BUKTI ARSITEKTUR DARI INTEGRASI ITU

Setelah kita paham bahwa Kotagede bukan hutan kosong, arsitektur Masjid Gedhe Mataram tiba-tiba berbicara jauh lebih keras dan lebih jelas. Gapura paduraksa berbentuk Hindu di depan masjid Islam tertua Yogyakarta bukan sekadar ‘akulturasi budaya yang indah’, ia adalah bukti fisik dari strategi integrasi yang kita bicarakan.

FAKTA TERVERIFIKASI

Masjid Gedhe Mataram Kotagede mulai dibangun 1578 dan selesai 1587, pada masa Panembahan Senopati atas arahan gurunya Sunan Kalijaga. Ia adalah masjid tertua di Yogyakarta. Arsitekturnya: gapura paduraksa bercorak Hindu (ciri khas gerbang pura Bali-Jawa), atap tajug bertingkat dua khas Jawa, mustaka berbentuk gada berhias daun kluwih melambangkan keesaan Allah. Pembangunannya melibatkan masyarakat setempat yang mayoritas masih Hindu dan Buddha, bukan dibawa dari luar. Parit mengelilingi kompleks masjid sebagai tempat wudu sekaligus simbol kesucian spiritual. Ditetapkan Cagar Budaya Situs 2007. (Sumber: budaya.jogjaprov.go.id; detik.com; Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya)

Jika Kotagede memang hutan kosong pada 1570-an, dari mana datangnya para tukang bangunan yang mampu mengerjakan paduraksa dengan teknik Hindu yang sudah sangat terampil itu? Paduraksa bukan bentuk yang bisa dibuat oleh pemula. Ia menuntut tradisi pengerjaan batu yang sudah berlangsung puluhan tahun, bahkan ratusan tahun.

Jawabannya sudah jelas: para pengerjanya adalah keturunan dari komunitas pengrajin dan seniman yang sudah lama bermukim di kawasan itu. Komunitas yang mewarisi tradisi Hindu-Jawa dari era Mataram Kuno dan Majapahit. Panembahan Senopati tidak mendatangkan tukang dari jauh, ia memakai tangan dan keahlian yang sudah ada di tempatnya.

Sunan Kalijaga mengerti ini. Prinsip dakwahnya bukan memotong, tapi menyambungkan. Bukan menghancurkan tradisi lama, tapi mengisinya dengan makna baru. Gapura paduraksa di masjid ini adalah buah dari prinsip itu: pintu yang asing tidak akan dimasuki orang. Kalau mau mengajak orang masuk, gunakan pintu yang sudah mereka kenal.

Ada satu detail yang hampir tidak pernah disebut: kolam atau parit mengelilingi area masjid. Dalam penjelasan pengurus masjid, ia bermakna ganda, tempat wudu sekaligus simbol bahwa manusia harus melepaskan sifat angkaramurka sebelum menghadap Allah. Tapi perhatikan: kolam di sekitar bangunan suci adalah elemen yang sangat lazim dalam arsitektur Hindu-Jawa (candi-candi Majapahit banyak yang dikelilingi parit). Elemen itu dipertahankan, diisi makna Islam, dan menjadi bagian integral dari masjid.

Masjid Gedhe Mataram adalah monumen dari integrasi itu. Ia tidak merobohkan yang lama, ia menerima yang lama, lalu membangun yang baru di atasnya. Gapura Hindu itu bukan kompromi. Ia adalah strategi.

KETIGA: PESAREN AGUNG TEMPAT PENGAKUAN ATAS PENDAHULU

Di dalam kompleks yang sama dengan Masjid Gedhe Mataram, ada Pesaren Agung Kotagede. Dan siapa yang dimakamkan di sini serta mengapa mereka dimakamkan di sini adalah argumen material yang paling kuat untuk membuktikan bahwa Mataram Islam mengakui, bukan menghapus, peradaban sebelumnya.

FAKTA TERVERIFIKASI

Pesaren Agung Kotagede menyimpan makam: Ki Ageng Pemanahan (wafat 1575), Sultan Hadiwijaya dari Pajang (wafat 1582), Panembahan Senopati/Danang Sutawijaya (wafat 1601), Panembahan Hanyokrowati/Seda Krapyak (wafat 1610), dan Sultan Hamengku Buwono II (wafat 1828). Yang paling signifikan secara historis: Panembahan Joyoprono (Ki Ageng Mataram II), pemimpin spiritual Mentaok pra-Mataram yang bernegosiasi dengan Pamanahan juga dimakamkan di kompleks ini atas keputusan Panembahan Senopati. Keputusan pemakaman ini adalah bukti material resmi bahwa Mataram Islam mengakui dan melembagakan peran pendahulunya. Pengunjung wajib mengenakan pakaian adat Jawa: kain dodot dan beskap (pria) atau kemben (wanita), disediakan abdi dalem. (Sumber: makamkotagede.bantulkab.go.id; M. Basyir Zubair, ‘Kotagede Bukan Tanah Kosong’, IAAI, 2026)

Perhatikan keputusan Panembahan Senopati yang satu ini: menempatkan makam Joyoprono pendahulu spiritual pra-Islam yang ia ‘taklukkan’ melalui negosiasi dan uji spiritual, di dalam kompleks makam kerajaan yang sama dengan ayahnya dan dirinya sendiri.

Ini bukan tindakan yang lahir dari belas kasihan. Ini adalah tindakan politik yang sangat kalkulatif dan sangat cerdas. Dengan menempatkan Joyoprono di Pasarean Astana Raja, Senopati melakukan dua hal sekaligus: pertama, ia mengakui secara resmi dan permanen bahwa ada peradaban yang mendahului Mataram di tempat itu. Kedua, ia menarik legitimasi dari peradaban itu, dengan cara ‘mewarisinya’ secara simbolis melalui pemakaman bersama.

Dan lihat siapa lagi yang ada di sini: Sultan Hadiwijaya dari Pajang, penguasa yang memberi hutan Mentaok kepada Pamanahan dengan setengah hati, karena tahu bahwa ramalan menyebut keturunan pemilik tanah itu akan menguasai Jawa. Raja yang kerajaannya kemudian diruntuhkan oleh Mataram. Dimakamkan di sini, berdampingan dengan orang-orang yang meruntuhkan kerajaannya.

Ini bukan ironi. Ini adalah pernyataan genealogi: Mataram bukan pemberontak, ia adalah pewaris sah dari trah yang sama. Rantai kekuasaan tidak putus, ia dilanjutkan.

KEEMPAT: TUJUH KAMPUNG, TUJUH PROFESI WARISAN YANG LEBIH TUA DARI MATARAM

Kalau Kotagede memang hutan kosong pada 1570-an, bagaimana menjelaskan keberadaan kampung-kampung pengrajin dengan nama-nama yang merekam spesialisasi kerja yang sangat terperinci? Spesialisasi seperti ini tidak muncul dalam satu atau dua generasi. Ia adalah produk dari tradisi panjang yang sudah mengakar sebelum Mataram Islam berdiri.

TUJUH KAMPUNG PROFESI KOTAGEDE WARISAN PRA-MATARAM

Kemasan: tukang emas. Sayangan: dari kata ‘sayang’, pengrajin tembaga, pembuat peralatan rumah tangga dan alat industri batik; juga pusat pencelupan benang lawe untuk tenun. Mranggen: dari ‘mranggi’, pembuat sarung keris dan ornamen ukiran di keris dan tombak. Pandeyan: dari ‘pandhe’, pande besi pembuat alat-alat besi. Samakan: dari ‘samak’, penyamak kulit. Jagalan: dari ‘jagal’, penyembelih hewan. Mutihan: rohaniawan dan ulama. Ditambah: Purbayan, Prenggan, Trunojayan, Mandarakan, Singosaren, Jayapranan, nama-nama tokoh dan bangsawan yang merekam jejak penguasa sebelum Mataram. (Sumber: kebudayaan.jogjakota.go.id; M. Basyir Zubair, ‘Kotagede Bukan Tanah Kosong’, , 2026; mantra.family.blog)

Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta sendiri mencatat dengan tegas: ‘Berdasarkan peninggalan arkeologis dan toponim dapat diketahui bahwa Kotagede terdiri atas sejumlah kampung yang dihuni oleh kelompok masyarakat tertentu.’ Sistem zonasi profesi seperti Pandheyan, Sayangan, Mranggen, dan Samakan tidak bisa muncul dalam satu dekade. Ia merekam komunitas yang sudah bekerja, sudah terorganisasi, sudah memiliki identitas kolektif yang cukup kuat untuk memberi nama pada tempat tinggalnya, jauh sebelum Pamanahan datang.

Yang dilakukan Mataram Islam bukan menciptakan sistem ini dari nol. Yang dilakukan Mataram adalah mengintegrasikan sistem yang sudah ada ke dalam struktur kekuasaannya yang baru. Para pengrajin yang tadinya bekerja untuk siapapun penguasa lokal sebelumnya, kini bekerja untuk Mataram tapi dengan keahlian, nama kampung, dan tradisi yang sudah mereka miliki jauh sebelumnya.

Dan inilah yang menjelaskan kecepatan pertumbuhan Mataram yang luar biasa. De Houtman, pelaut Belanda yang tiba di Jawa pada 1596, hanya satu dekade setelah Kotagede resmi menjadi ibu kota sudah mencatat Mataram sebagai kekuatan terbesar di Jawa. Itu tidak mungkin terjadi kalau Mataram benar-benar membangun dari nol. Itu hanya mungkin kalau Mataram mewarisi infrastruktur peradaban yang sudah matang.

Nama-nama kampung pengrajin Kotagede bukan sekadar alamat. Mereka adalah bukti arkeologi linguistik, dokumen sosial yang tertulis dalam bahasa nama tempat, yang membuktikan bahwa komunitas terorganisasi ini sudah ada jauh sebelum Mataram Islam mengklaim kawasan ini sebagai miliknya.

KELIMA: WONG KALANG, TAWANAN YANG LEBIH KAYA DARI YANG MENAWAN

Di sepanjang Jalan Tegalgendu, di tepi barat Sungai Gajahwong, berderet rumah-rumah dengan arsitektur yang mengejutkan, perpaduan joglo Jawa dengan fasad Eropa bergaya Art Deco, kaca patri warna-warni, tegel bermotif, jendela dan pintu yang jumlahnya jauh melebihi standar rumah Jawa biasa. Ini adalah Rumah Kalang dan kisah di baliknya adalah salah satu ironi sosial paling dramatis dalam sejarah Kotagede.

FAKTA TERVERIFIKASI

Orang Kalang di Kotagede adalah kelompok yang menurut satu versi merupakan tawanan perang yang dibawa Sultan Agung dari ekspedisi ke Bali awal abad ke-17. Ada versi alternatif yang mencatat mereka sebagai keturunan Jaka Sana dan Ambarlurung (putri Sultan Agung) dari Banyumas, ahli bangunan kayu dan kerajinan tenun. Kata ‘kalang’ berarti pagar atau batas dalam bahasa Jawa: mereka dipagari di Tegalgendu, di luar batas Kotagede, di tepi barat Sungai Gajahwong. Mereka mendapat hak monopoli dari Pemerintah Belanda untuk perdagangan candu, emas, dan pegadaian mengoperasikan hingga 11 rumah gadai, dengan pelanggan terbesar keluarga ningrat. Di Kotagede tersisa 12 Rumah Kalang, berstatus Cagar Budaya, terkonsentrasi di Jalan Tegalgendu. (Sumber: makamkotagede.bantulkab.go.id; mojok.co; merdeka.com; pcmkotagede.com; kebudayaan.jogjakota.go.id)

Ada ironi yang berlapis di sini. Orang Kalang tidak diizinkan tinggal di dalam kota, mereka dipagari di seberang sungai. Dalam hierarki sosial Jawa, mereka dipandang sebagai pendatang kelas bawah.

Tapi kemudian Belanda datang. Dan Belanda tidak peduli hierarki sosial Jawa. Belanda peduli uang dan jaringan. Orang Kalang punya keduanya: keahlian teknis luar biasa dalam seni bangunan dan ukir, intuisi bisnis yang tajam, jaringan dagang yang luas. Maka Belanda memberi mereka hak monopoli: candu, emas, pegadaian. Tiga komoditas paling menguntungkan di masa kolonial.

Hasilnya mengejutkan. Orang-orang yang tidak boleh tinggal di dalam kota menjadi lebih kaya dari sebagian besar yang tinggal di dalamnya. Pelanggan terbesar rumah gadai mereka adalah keluarga ningrat, bangsawan keraton yang membutuhkan pinjaman dari orang-orang yang secara sosial dianggap di bawah mereka. Seorang keturunan Kalang bernama Mulyosuwarno bahkan punya relasi bisnis dengan Keraton Yogyakarta, sementara putranya Prawiro Suwarno bermain adu gemak sebagai bocah dengan pangeran yang kelak menjadi Sultan HB VIII.

Dan dengan kekayaan itu, mereka membangun rumah. Dilarang membangun rumah gaya Jawa, mereka memadukan joglo, sebagai kompromi identitas, dengan fasad Eropa Art Deco yang mencerminkan jaringan bisnis mereka. Hasilnya: arsitektur hybrid yang tidak ada duanya, yang kini menjadi salah satu wajah paling khas kawasan Kotagede.

Orang Kalang adalah tawanan perang yang menjadi bankir. Dipagari di seberang sungai tapi kekayaannya menembus Eropa dan Cina. Dilarang membangun rumah Jawa, tapi rumah mereka menjadi ikon arsitektur Kotagede yang paling mudah dikenali. Batas geografis tidak pernah bisa mengurung kemampuan manusia.

KEENAM: KERAJINAN PERAK, KETIKA ABDI DALEM MEMILIH TIDAK IKUT PINDAH

Kotagede identik dengan perak. Tapi hampir tidak ada yang tahu bahwa tradisi perak Kotagede lahir bukan dari semangat wirausaha, melainkan dari keputusan satu kelompok abdi dalem untuk tidak mengikuti keraton ketika pusat kerajaan pindah.

FAKTA TERVERIFIKASI

Kerajinan perak di Kotagede sudah ada sejak Kotagede menjadi ibu kota Mataram Islam abad ke-16–17. Para pengrajin perak awalnya adalah abdi dalem keraton yang membuat perhiasan dan peralatan rumah tangga untuk kebutuhan keraton. Ketika pusat kerajaan berpindah dari Kotagede ke Kerta, ke Plered, ke Kartasura, ke Surakarta, para pengrajin ini memilih menetap di Kotagede, bukan mengikuti keraton. Mereka kemudian melayani pasar yang lebih luas. (Sumber: kebudayaan.jogjakota.go.id/kawasan-cagar-budaya-kotagede)

Ini bukan sekadar kisah tentang kesetiaan pada tempat. Ini adalah kisah tentang bagaimana identitas komunitas pengrajin Kotagede yang seperti sudah kita bahas, berakar jauh sebelum Mataram Islam berdiri, terbukti lebih kuat dari loyalitas institusional kepada keraton yang bergerak.

Para pengrajin itu menetap bukan karena malas ikut pindah. Mereka menetap karena di Kotagede mereka punya jaringan, reputasi, pasar, dan infrastruktur yang sudah dibangun selama generasi. Ikut ke ibukota baru berarti memulai dari nol. Tetap di Kotagede berarti mempertahankan warisan yang sudah ada.

Dan keputusan itu terbukti tepat. Tradisi perak Kotagede bertahan empat abad, melewati kejatuhan Mataram, penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, kemerdekaan, dan modernisasi. Ia bertahan bukan karena keraton melindunginya, tapi karena komunitasnya memilih untuk tidak pergi.

Hari ini, tradisi itu menghadapi ujian yang berbeda: regenerasi. Generasi muda tidak lagi antusias mewarisi keahlian yang butuh bertahun-tahun untuk dikuasai, dengan penghasilan yang tidak kompetitif dibanding pekerjaan modern. Kotagede pelan-pelan kehilangan pengrajin. Bukan karena serangan dari luar, tapi karena erosi dari dalam.

PENUTUP: KOTAGEDE ADALAH ARGUMEN, BUKAN KENANGAN

Saya tinggal di Kotagede. Dan semakin lama saya tinggal, semakin saya menyadari bahwa Kotagede bukan tempat untuk bernostalgia. Ia adalah tempat untuk berargumen.

Berargumen bahwa narasi ‘hutan kosong’ yang selama ini diajarkan adalah konstruksi legitimasi politik, bukan sejarah. Berargumen bahwa Islam masuk ke kawasan ini bukan dengan menghancurkan yang ada sebelumnya, tapi dengan mengintegrasikannya secara cerdas, dan buktinya ada di gapura masjid, di makam Joyoprono, di nama-nama kampung pengrajin yang sudah ada sebelum Mataram berdiri. Berargumen bahwa orang-orang yang dipagari di pinggir kota justru bisa menjadi lebih kaya dan lebih berpengaruh dari yang membariskan mereka. Dan berargumen bahwa tradisi yang bertahan bukan karena dilindungi institusi, tapi karena komunitasnya memilih untuk tidak pergi.

Kotagede adalah kota yang membuktikan bahwa sejarah tidak selalu bergerak ke depan dalam garis lurus. Ia bergerak dalam spiral, kembali ke titik yang sama, tapi di ketinggian yang berbeda. Nama-nama kampungnya adalah spiral itu. Gapura paduraksa-nya adalah spiral itu. Makam-makam di Pesaren Agung adalah spiral itu.

Dan semuanya bisa dibaca. Oleh siapapun yang mau berhenti, melihat, dan bertanya.

Kotagede bukan museum perak. Ia adalah argumen yang belum selesai tentang bagaimana peradaban bekerja, bukan dengan memutus yang lama, tapi dengan menenunnya ke dalam yang baru. Mataram Islam tidak berdiri di atas kekosongan. Ia berdiri di atas pundak peradaban yang tak pernah mati.

DAFTAR PUSTAKA

Sumber Primer dan Kronik Klasik:

Banawa Sekar (Bahtera Aneka Bunga). Kakawin Mpu Tanakung, era Majapahit akhir (abad ke-15 M). Teks asli Jawa Kuno (Kawi). Pupuh 1, Śārdulawikrīḍita, Bait 4.
Bujangga Manik. Naskah Sunda Kuno, akhir abad ke-15/awal ke-16. Bodleian Library, Oxford University, MS Jav. b. 3 (R), diterima 1627.
Pararaton (Kitab Para Raja). Naskah Jawa Kuno, disusun ±1481–1600 M. Edisi kritis: Brandes, J.L.A. (ed.). Pararaton (Ken Arok), edisi ke-2, anotasi N.J. Krom. VBG 62. Batavia: Albrecht & Co., 1920.
Prapanca, Mpu (1365). Nagarakretagama (Desawarnana). Terjemahan: Slametmuljana (1979). Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara Karya Aksara.

Artikel Penulis (Sumber Utama):

Zubair, M. Basyir (EMBAS). “Kotagede Bukan Tanah Kosong: Bukti Filologi, Arkeologi, dan Toponimi tentang Kontinuitas Peradaban di Jantung Mataram Islam (Abad ke-8 hingga ke-16 M).” Diterima untuk ditelaah: 26 Mei 2026. Kotagede, Yogyakarta.

Studi Filologi dan Kajian Teks:

Noorduyn, J. (1982). Bujangga Manik’s Journeys through Java: Topographical Data from an Old Sundanese Source. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 138, 413–442.
Noorduyn, J. & Teeuw, A. (2006). Three Old Sundanese Poems. Leiden: KITLV Press.
Robson, S.O. (1981). Java at the Crossroads. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 137(2–3), 259–292.

Kajian Sejarah, Arkeologi, dan Historiografi:

De Graaf, H.J. (1949). Geschiedenis van Indonesie. ‘s-Gravenhage: W. van Hoeve.
De Graaf, H.J. & Pigeaud, Th.G.Th. (1974). De Eerste Moslimse Vorstendommen op Java. ‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff. [Edisi Indonesia: Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Jakarta: Grafiti Pers, 1985.]
De Houtman, C. (1596). Eerste Schipvaart der Nederlanders naar Oost-Indië. Dalam: Kolff, G.C.W. (ed.) (1915). Werken uitgegeven door de Linschoten-Vereeniging. ‘s-Gravenhage.
Hobsbawm, E. & Ranger, T. (eds.) (1983). The Invention of Tradition. Cambridge: Cambridge University Press.
Kumar, A. (1976). Surapati: Man and Legend. Leiden: E.J. Brill.
Lieberman, V. (2003). Strange Parallels: Southeast Asia in Global Context, c.800–1830. Vol. 1. Cambridge: Cambridge University Press.
Lombard, D. (1990). Le Carrefour Javanais. Paris: EHESS. [Edisi Indonesia: Nusa Jawa: Silang Budaya. Jakarta: Gramedia, 1996.]
Rahardjo, S. (2011). Peradaban Jawa: Dari Mataram Kuno sampai Majapahit Akhir. Jakarta: Komunitas Bambu.
Reid, A. (1988). Southeast Asia in the Age of Commerce, 1450–1680. Vol. I. New Haven: Yale University Press.
Ricklefs, M.C. (2001). A History of Modern Indonesia since c. 1200. 3rd ed. Basingstoke: Palgrave.
Ricklefs, M.C. (2006). Mystic Synthesis in Java. Norwalk, CT: EastBridge.
Slamet Muljana (1968). Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara. Jakarta: Bhratara.
Van Mook, H.J. (1958). Kuta Gede. Dalam: The Indonesian Town: Studies in Urban Sociology. The Hague: W. van Hoeve.

Laporan Arkeologis dan Dokumentasi Institusional:

Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta. “Kawasan Cagar Budaya Kotagede.” kebudayaan.jogjakota.go.id. Diakses 2026.
Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta. “Kawasan Kotagede — Sejarah dan Toponim.” kebudayaan.jogjakota.go.id. Diakses 2026.
Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta. “Museum Kalang Kotagede.” kebudayaan.jogjakota.go.id. Diakses 2026.
Priswanto, H. (BRIN). Temuan Ekskavasi Situs Keputren Pleret, September 2023. Dilaporkan melalui: Tempo, IDN Times, Krjogja, Media Indonesia, September 2023.
Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya. “Masjid Gedhe Mataram.” cagarbudaya.kemdikbud.go.id. Ditetapkan 2007.

Sumber Daring Terverifikasi:

Budaya Jogjaprov. “Masjid Gede Mataram Kotagede, Saksi Persebaran Agama Islam di Yogyakarta.” budaya.jogjaprov.go.id. Diakses 2026.
Kompas.com. “Kotagede, Lokasi Istana Pertama Mataram Islam.” 16 Juli 2021.
Kompas.com. “Sejarah Pembangunan Masjid Gedhe Mataram Kotagede.” 25 April 2021.
Makam Raja Mataram Kotagede. “Sejarah Rumah Kalang.” makamkotagede.bantulkab.go.id. Diakses 2026.
Mantra.family.blog. “Toponim Kawasan Kotagede, Identitas Sejarah.” 9 Oktober 2020.
Mojok.co. “Menapaki Jejak Orang Kalang di Jogja.” 24 September 2023.
PCM Kotagede. “Orang Kalang dan Perspektif Memori Kolektif Masyarakat Kotagede.” 21 Mei 2024.

EMBAS (M. Basyir Zubair)
Kotagede, Yogyakarta, 30052026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *