KULON PROGO,REDAKSI17.COM – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Kulon Progo pada Senin (10/8/2026). Sultan meninjau Jogja Agro Park (JAP) di Nanggulan hingga membahas rencana program pembangunan strategis Kulon Progo.
Dalam peninjauan di JAP, Sultan melihat langsung proses panen melon sekaligus mengevaluasi perkembangan fasilitas edukasi pertanian milik Pemda DIY itu. Rampung dari JAP, Sultan beserta perwakilan Pemda DIY bertemu dengan Bupati – Wakil Bupati Kulon Progo dan jajarannya di Adikarto, Kompleks Pemkab Kulon Progo.

Dalam pertemuan ini, Pemkab Kulon Progo, melalui Bupati Kulon Progo Agung Setyawan mengajukan sejumlah program pembangunan prioritas kepada Pemda DIY. Program strategis yang diusulkan di antaranya penataan kawasan Alun-alun Wates dan area stasiun, pengembangan potensi wisata alam koridor Temon – Borobudur, peningkatan trase jalan Dekso – Samigaluh – Pagerharjo, pengembangan RSUD Nyi Ageng Serang, hingga usulan jembatan baru pengganti Jembatan Duwet di Kalibawang yang kondisinya rawan rusak.
Merespons paparan program pembangunan dari Pemkab Kulon Progo, Sultan menyambut baik dan menegaskan keterbukaan provinsi untuk melakukan kerja sama pendanaan.
“Koordinasi antarwilayah itu kan ada, sehingga kerja sama bisa dilakukan. Bantuan 100% bisa, sharing 50% bisa, atau 30–70% juga bisa. Yang penting program itu masuk di perencanaan provinsi dan kabupaten, sehingga bantuan bisa disalurkan pada periode yang sama atau bertahap,” ujar Sri Sultan dalam sesi jumpa pers setelah acara.
Sultan menekankan agar Pemkab Kulon Progo segera merampungkan dokumen teknis seperti Detail Engineering Design (DED) untuk setiap program yang diusulkan agar proses persetujuan dan penganggaran dapat segera ditindaklanjuti.
Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, menyampaikan bahwa beberapa proyek membutuhkan sinergi antar-tingkatan pemerintah. Salah satunya pembangunan pengganti Jembatan Duwet yang menjadi jalur vital penghubung antar-kabupaten di DIY sekaligus akses terdekat ke Jalan Nasional.

“Jembatan ini menghubungkan Kulon Progo dengan kabupaten tetangga. Karena peran strategisnya, kabupaten dan provinsi perlu mengusulkannya bersama-sama ke pemerintah pusat,” jelas Agung.
Terkait aksesibilitas, peningkatan ruas jalan Dekso – Gerbosari diproyeksikan masuk dalam perencanaan anggaran dan ditargetkan mulai direalisasikan pada 2027. Pemkab Kulon Progo saat ini tengah mematangkan penetapan skala prioritas penanganan untuk tiap segmen jalan.
Adapun penataan Alun-alun Wates dan kawasan stasiun dirancang fokus pada keindahan dan kerapian ruang publik, termasuk penataan kabel (ducting) dan pedestrian.
“Alun-alun Wates ditujukan untuk sport recreation, bukan olahraga prestasi yang porsinya di Stadion Cangkring. Kawasan ini disiapkan untuk kegiatan seni, budaya, pameran, dan rekreasi warga, sehingga penataannya harus rapi, bebas banjir, dan indah,” tambah Agung.
Mengenai kunjungan awal di Jogja Agro Park (JAP) Nanggulan, Agung berharap keberadaan aset Pemda DIY ini dapat lebih dioptimalkan oleh warga Kulon Progo, khususnya sebagai sarana edukasi pertanian bagi generasi muda.
Sebagai daerah penyangga pangan DIY, fasilitas JAP sangat potensial dimanfaatkan sebagai lokasi outing class bagi siswa PAUD hingga SMP, maupun ruang ruang pertemuan bagi organisasi masyarakat dan pemuda.
“Di JAP bukan hanya ada gedung, tapi ada proses edukasi pertanian yang bagus. Tempat ini juga memiliki fasilitas pertemuan skala kecil hingga besar yang bisa dimanfaatkan publik,” ujarnya.
Melalui pemaparan program strategis dan peninjauan lapangan ini, Agung mengharapkan ada keseimbangan perhatian dan dukungan dari Pemda DIY untuk mendorong percepatan pembangunan di Kulon Progo.
“Kulon Progo memerlukan dukungan provinsi karena ada beberapa hal strategis yang tidak akan mampu diangkat sendiri oleh kabupaten. Perlu keseimbangan perhatian antara daerah dan provinsi, bahkan untuk hal tertentu kita usulkan bersama-sama sampai ke pemerintah pusat,” harap Agung.



