Home / Daerah / Kunker ke Kulon Progo, Sekda DIY Dorong Pengembangan YIA dan Potensi Daerah

Kunker ke Kulon Progo, Sekda DIY Dorong Pengembangan YIA dan Potensi Daerah

Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti melaksanakan kunjungan kerja (kunker) ke Kulon Progo pada Selasa (14/04). Didampingi ketiga Asisten Setda DIY, Kepala DPKP DIY, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, serta Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Setda DIY, Ni Made memulai kunker dengan bersilaturahmi kepada Muhammad Thamrin, General Manager Bandara Internasional Yogyakarta yang baru bertugas.

Tak hanya bersilaturahmi, dalam pertemuan ini, Ni Made mendiskusikan berbagai hal bersama Muhammad Thamrin. Mulai dari koordinasi akan pelaksanaan embarkasi haji perdana dari DIY pada tanggal 21 April 2026 mendatang hingga kemungkinan pengembangan YIA untuk turut melayani perjalanan umrah.

“Umrahnya ini bisa nanti ada kaitannya mungkin denganĀ direct/langsung. Kemudian menjalin kerja sama dengan pihak yang mengelola paket-paket wisata di mana gitu yang di luar negeri, sehingga kemudian bisa langsung. Misalnya umrah habis itu mau ke Turki atau mau ke mana gitu. Ini cuman inisiasi saja. Baru cerita-cerita bagaimana ke depan itu mengembangkan Bandara YIA tidak hanya sebagai embarkasi-debarkasi haji, tetapi bagaimana ke depan untuk umrahnya itu juga bisa,” ungkap Ni Made.

Ni Made menyebut, pihak GM Bandara Internasional Yogyakarta sangat mendukung adanya YIA sebagai bandara embarkasi-debarkasi Haji. Ni Made pun meyakini, kolaborasi sangat penting demi kelancaran semuanya. “Hubungan baik, kerja sama yang baik, kolaborasi yang baik gitu dengan YIA ataupun pemerintah daerah Ini menjadi bagian penting untuk pengembangan ke depan,” kata Ni Made.

Kemudian, kunker dilanjutkan ke Pelabuhan Tanjung Adikarto. Dalam kunjungan ini, Ni Made melakukan pemantauan untuk mengetahui apakah ke depan, aset ini masih bisa dipertahankan sebagai pelabuhan atau mungkin ada hal-hal lain yang dapat difungsikan di sini.

“Supaya ini bisa optimal. Jadi banyak teknis yang kita diskusikan di situ. Karena kan sedimentasinya cukup tinggi ya, cukup besar. Jadi untuk optimal pemanfaatannya juga ini yang mungkin menjadi bagian penting ke depan yang perlu kita lihat. Apakah ini tetap bisa menjadi pelabuhan atau mungkin ada pemanfaatan atau fungsi-fungsi lain untuk itu. Jadi banyak hal ya karena namanya juga alam. Perlu ada rekayasa tertentu untuk kemudian itu bisa menjadi optimal,” jelas Ni Made.

Selanjutnya, Ni Made beranjak mengunjungi Unit Kerja Tambak UPTD Balai Pengembangan Perbenihan Tanaman Pangan dan Hortikultura. Di sini, Ni Made melihat langsung pembenihan kelapa kopyor dan berbagai benih tanaman lainnya yang dikelola UPTD di bawah DPKP DIY ini. Menurut Ni Made, berbagai benih yang dikembangkan merupakan bibit-bibit yang bagus dengan nilai dan kualitas yang luar biasa.

“Saya kira ini juga akan menjadi satu potensi kita untuk mengembangkan DIY sebagai pusat pembenihan. Kemudian juga penyediaan produk-produk pertanian yang berkualitas,” kata Ni Made.

Lokasi kunker terakhir yang dikunjungi Ni Made, yakni Jogja Agro Park (JAP). Berlokasi di Desa Wijilan, Kecamatan Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo, JAP merupakan kompleks terpadu yang dibangun sebagai sarana media edukasi pertanian pada masyarakat. JAP adalah kawasan dengan fasilitas Agribisnis dan Agrotourism.

“JAP sekarang luar biasa bagus ya. Sudah banyak perbaikan-perbaikan yang ada di sana. Banyak yang bisa kita lihat dan kita pelajari. Tidak hanya bicara masalah tanaman semata ya, juga ada edukasi-edukasi kepada masyarakat, baik siswa-siswa maupun pengunjung yang pengen tahu aja terkait dengan tanaman ataupun dengan ternak,” papar Ni Made.

Terkait pengembangan-pengembangan ke depan, Ni Made mendorong terciptanya berbagai ide, kreativitas, dan inovasi, terutama dalam penjualan produk UMKM dan pertanian lokal. Dalam hal ini, khususnya terkait menentukan kesesuaian dan keterjangkau harga produk.

“Kita tadi lihat produk-produknya bagus. Menjualnya juga mungkin kita perlu menyesuaikan dari peraturan-peraturan yang sudah ada. Saya kira ini mungkin menjadi titik awal kita melihat atau mereview lagi aturan-aturan yang kemudian bisa menjadi optimal, dalam artian bisa mendatangkan tambahan pendapatan juga bagi daerah,” kata Ni Made.

Humas Pemda DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *