Yogyakarta,REDAKSI17.COM– Rangkaian Sayembara Pradesain Penanda Perbatasan DIY 2026 yg diselenggarakan OLEH Pemda DIY melalui Biro Tata Pemerintahan Setda DIY memasuki babak krusial. Bertempat di Istana Kepresidenan Gedung Agung, Yogyakarta, Jumat (03/07), proses penjurian berhasil menyaring 124 karya yang masuk menjadi 10 besar, sebelum akhirnya mengerucut menyisakan 5 rancangan terbaik.
Sekda DIY, Ni Made Dwi Panti Indrayanti, sangat mengapresiasi keterlibatan peserta dari 14 provinsi di Indonesia. Ia menilai sayembara ini sukses memancing masyarakat luar daerah untuk membedah akar filosofi Yogyakarta. Tidak hanya dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi jangkauan peserta juga datang dari mancanegara, seperti Italia.
“Kita patut berbangga. Ternyata banyak orang dari luar daerah yang akhirnya mau belajar budaya Jogja,” ujar Ni Made.
Ia menambahkan, antusiasme dari Sabang sampai Merauke ini sejalan dengan visi besar pemerintah daerah. “Sesuai pesan Bapak Gubernur, ini bukan cuma soal batas fisik. Ada pesan budaya di dalamnya,” tuturnya.
Lebih lanjut, Ni Made menekankan pentingnya eksekusi dari kompetisi ini. “Harapannya jelas. Ini tidak boleh berhenti jadi draf desain yang menumpuk. Harus benar-benar berlanjut ke tahap realisasi pembangunan,” tegasnya.
Nantinya, kelima karya finalis ini akan diserahkan kepada Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, selaku Dewan Juri Kehormatan, sebagai bahan pertimbangan pengambilan keputusan untuk menentukan 3 besar pemenang sayembara.
Ketatnya persaingan juga diakui oleh dewan juri, Prof. Ar. Ir. Ikaputra, M.Eng., Ph.D., IAI. Pakar arsitektur ini menyoroti tingginya antusiasme peserta. Tercatat, sejak diluncurkan pada 17 April 2026, ajang ini berhasil menjaring total 390 pendaftar. “Menurut saya, ini salah satu sayembara yang antusiasmenya cukup tinggi,” kata Prof. Ikaputra.
Setelah melalui tahapan penjelasan teknis (aanwijzing) pada 27 April dan penutupan pengumpulan karya pada 22 Juni 2026, sebanyak 124 karya dinyatakan lolos verifikasi administrasi. Ia menyebut proses kurasi terhadap ratusan karya tersebut berjalan cukup alot. Dewan juri tidak hanya melihat keindahan, tetapi juga kelayakan teknis bangunan.
“Ide-idenya sangat orisinal. Transformasi konsep estetikanya juga cukup bagus,” tuturnya.
Selain itu, juri juga mulai mempertimbangkan aspek konstruksi. “Kami melihat apakah karya ini bisa terbangun dari sisi material dan konteks lingkungannya. Inilah yang sebenarnya paling sulit. Tetapi Alhamdulillah kita sudah bisa memilih 10 besar dan 5 besar,” jelasnya.
Adapun berdasarkan Berita Acara Nomor: B/100.2.3.3/1524/BR.1, 10 karya terbaik yang berhasil lolos pada tahap kurasi awal adalah SP-022 judul karya Cahaya Pradipta Penanda Gerbang Perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta; SP-038 judul karya Ngayomi Budaya Kukuh; SP-106 judul karya Catur Gatra Tunggal Penanda Perbatasan DIY; SP-165 judul karya Watujaga; SP-175 judul karya Binangun Gateway; SP-221 judul karya Pelataran Nagari; SP-254 judul karya Gapuro Jogobawono; SP-306 judul karya Pathok Projo Buwono; SP-349 judul karya Regol Keistimewaan Yogyakarta; SP-372 judul karya Laras Bawana.
Setelahnya, 10 karya terbaik ini dikurasi menjadi 5 terbaik yakni SP-022 judul karya Cahaya Pradipta Penanda Gerbang Perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta; SP-038 judul karya Ngayomi Budaya Kukuh; SP-106 judul karya Catur Gatra Tunggal Penanda Perbatasan DIY; SP-165 judul karya Watujaga; SP-349 judul karya Regol Keistimewaan Yogyakarta.
Sementara itu, Ir. Suyata, Dewan Warisan Budaya DIY, menilai kompetisi ini menjadi wadah apik bagi masyarakat luas untuk mengekspresikan gagasannya. Menurutnya, pemerintah daerah memegang peran penting sebagai fasilitator agar tata ruang Yogyakarta ke depan semakin berkarakter.
“Karya yang masuk sangat luar biasa. Mereka benar-benar mendalami filosofi budaya Jogja,” ungkap Suyata.
Di sisi lain, Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) DIY, Ar. Erlangga Winoto, IAI., Asean Arch., membeberkan dinamika teknis penjurian. Meski identitas peserta dirahasiakan, ia mengakui perbedaan sentuhan antara arsitek profesional dan mahasiswa tetap terasa.
Tim juri juga harus memutar otak demi menjaga proporsi geografis. Sebagai informasi, sayembara ini secara khusus difokuskan untuk mencari desain penanda di dua titik strategis koridor selatan DIY, yakni di Karangwuni (Kabupaten Gunungkidul) dan Sindutan (Kabupaten Kulon Progo).
“Saat menyaring jadi 5 besar, awalnya karya untuk area Gunungkidul lebih mendominasi,” jelas Erlangga.
Namun, karena tata ruang Jogja sangat mengedepankan aspek kontekstual, juri melakukan penyesuaian. “Keistimewaan itu tidak bisa disamaratakan. Kami akhirnya sepakat memastikan area Kulon Progo juga terwakili dengan baik,” paparnya.
Erlangga juga mengingatkan bahwa penanda yang kuat harus memenuhi dua hal secara seimbang. “Pertama, skala lingkungannya dapet, agar mudah terlihat dari jauh. Kedua, skala manusianya juga harus bawa manfaat nyata,” pungkasnya.
Humas Pemda DIY




