Jakarta,REDAKSI17.COM – Wacana Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mulai menghangat meski kontestasi politik tersebut masih beberapa tahun lagi.
Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD memprediksi Presiden Prabowo Subianto akan kembali mencalonkan diri pada Pilpres 2029. Mahfud bahkan menilai Prabowo memiliki peluang besar untuk kembali memenangkan pertarungan.
Menurut Mahfud, konfigurasi politik saat ini cenderung menguntungkan Prabowo. Status sebagai presiden petahana dinilai memberikan posisi politik yang kuat menjelang kontestasi berikutnya.
Dalam pandangannya, sosok yang nantinya dipilih Prabowo sebagai calon wakil presiden tidak akan terlalu banyak mengubah peta persaingan. Sejumlah faktor politik, kata Mahfud, telah membentuk modal kuat bagi Prabowo.
Selain posisi sebagai petahana, Mahfud melihat mulai bermunculan berbagai organisasi pendukung yang membawa nama Prabowo. Hal itu dinilai dapat memperkuat basis dukungan politik menuju Pilpres 2029.
Ia juga menyoroti sejumlah program pemerintah yang mendapat perhatian publik, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih. Program-program tersebut disebut membuat pemerintah memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat.
Namun, Mahfud turut menyampaikan kekhawatiran mengenai dinamika penggunaan aparat negara dalam politik. Ia menyinggung adanya indikasi aparat dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pemenangan politik.
Faktor lain yang membuat Prabowo dinilai memiliki peluang kuat adalah belum terlihatnya figur yang mempunyai kekuatan politik sebanding untuk menghadapi petahana.
Prediksi Mahfud tersebut kemudian mendapat respons dari akademisi sekaligus Guru Besar Bidang Ilmu Pemikiran Islam, Hasyim Muhammad.
Hasyim mengatakan pandangannya tidak jauh berbeda. Ia bahkan meyakini Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berpeluang kembali maju bersama pada Pilpres 2029.
“Nggak beda sama prediksi saya. Bahkan kalau saya sih yakin Prabowo-Gibran bakal tetap maju bareng 2029 dan akan sulit terkalahkan,” kata Hasyim dalam cuitannya di X, dikutip pada Jumat (4/9/2026).
Meski demikian, Hasyim melihat masih ada skenario yang berpotensi membuat pertarungan Pilpres 2029 menjadi lebih kompetitif.
Menurutnya, kekuatan politik yang berpeluang mengimbangi pasangan Prabowo-Gibran adalah persatuan antara Anies Baswedan dan PDI Perjuangan atau PDIP.
“Hanya satu yang mungkin bisa mengalahkan mereka. Atau setidaknya mengimbangi: persatuan Anies dan PDIP,” ujarnya.
Hasyim menilai kekuatan tersebut dapat semakin besar apabila Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menjadi figur yang mewakili PDIP dalam konfigurasi politik tersebut.
“Dan akan lebih kuat kalau Ahok yang mewakili PDIP,” sambung Hasyim.
Menurut Hasyim, tantangan utama bagi lawan politik Prabowo bukan hanya soal mencari figur dengan elektabilitas tinggi. Persoalan yang lebih penting adalah kemampuan membangun persatuan dan koalisi politik.
Ia pun menyindir pihak-pihak yang memiliki ambisi mengalahkan Prabowo tetapi tidak bersedia mengesampingkan kepentingan masing-masing.
“Ngeyel bisa ngalahin Prabowo tapi nggak mau bersatu. Rasain aja ego kalian sendiri,” imbuhnya.
Meski berbagai prediksi mengenai Pilpres 2029 mulai bermunculan, peta politik masih sangat mungkin berubah. Konfigurasi partai politik, tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan, pasangan calon hingga kemunculan figur baru dapat mengubah arah persaingan.
Karena itu, prediksi mengenai peluang kemenangan Prabowo maupun skenario persatuan Anies dan PDIP masih berada dalam ranah analisis politik.
Namun, jika Prabowo kembali maju sebagai petahana, pertanyaan besar menuju Pilpres 2029 bukan hanya mengenai siapa yang akan menjadi calon presiden, melainkan siapa yang mampu membangun kekuatan politik cukup besar untuk menandingi petahana.





