
Jakarta,REDAKSI17.COM – Wakil Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sekaligus Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menilai industrialisasi menjadi salah satu kunci utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia sekaligus mengejar ketertinggalan dari negara-negara industri maju.
Hal itu disampaikan Faisol dalam Diskusi Publik bertajuk “Industrialisasi, Bursa Komoditas Strategis dan Prabowonomics” yang digelar di Kantor DPP PKB, Jakarta Pusat, Jumat (2/10/2026).
Menurut Faisol, forum tersebut menjadi bagian dari konsolidasi pemikiran PKB untuk memberikan sumbangan gagasan terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia mengatakan PKB mengundang sejumlah ekonom, praktisi, dan akademisi untuk membahas arah kebijakan ekonomi nasional. Di antaranya ekonom senior Burhanuddin Abdullah, Didik J. Rachbini, Prof. Candra Wijaya, dan Poltak.
Faisol menyebut konsep Prabowonomics dapat menjadi jalan tengah antara prinsip-prinsip ekonomi yang terkandung dalam UUD 1945 dengan kondisi riil perekonomian Indonesia dan global.
“Implementasi dari Prabowonomics ini sebagai jalan tengah akan membawa kita kepada satu step, khususnya di bidang industrialisasi,” ujarnya.
Faisol menegaskan, hampir tidak ada negara yang mencapai kemakmuran dan menjadi negara maju tanpa ditopang industri yang kuat. Menurut dia, setidaknya terdapat dua fondasi penting untuk membangun industri nasional yang mandiri, yakni ketersediaan bahan mentah dan bahan baku serta penguasaan teknologi.
“Kalau dua hal ini bisa kita jamin bahwa industri di Indonesia memiliki kemandirian ini, kita akan sampai pada kesimpulan yang tadi dalam keynote speech-nya Pak Burhanuddin Abdullah sampaikan: pertumbuhan ekonomi yang bisa 8 persen,” katanya.
Faisol juga menyoroti pentingnya pembangunan bursa komoditas strategis sebagai bagian dari agenda industrialisasi dan hilirisasi. Ia menjelaskan, bursa komoditas strategis diperlukan antara lain untuk menjamin ketersediaan bahan mentah yang akan diolah menjadi bahan baku industri.
Gagasan tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah yang pada Agustus 2026 menyatakan akan membangun Bursa Mineral dan Komoditas Strategis di dalam negeri untuk memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan komoditas global.
“Hilirisasi itu karena kita ingin, misalnya, bursa komoditas strategis menjamin pasokan bahan mentah untuk diolah menjadi bahan baku untuk industri,” ujar Faisol.
Ia mencontohkan komoditas batu bara. Menurutnya, persoalan Indonesia bukan hanya karena harga komoditas tersebut selama ini banyak ditentukan oleh pasar global, tetapi juga bagaimana komoditas tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari rantai industri dalam negeri.
“Pak Presiden menyatakan bahwa komoditas seperti batubara kita tidak menentukan harganya. Nah, bukan hanya tidak menentukan harganya, tetapi kita membutuhkan batubara sebagai bahan baku untuk gasifikasi,” katanya.
Menurut Faisol, gasifikasi batu bara dapat menjadi salah satu bagian dari upaya memenuhi kebutuhan gas untuk industri. Gas, kata dia, tidak hanya dibutuhkan sebagai sumber energi dan bahan bakar, tetapi juga sebagai bahan baku industri.
Ia memberikan contoh industri tekstil yang menggunakan bahan berbasis poliester.
“Kalau teman-teman pakai baju dengan bahan poliester misalnya, itu bahan berasal dari gas dan dari minyak bumi. Oleh karena itu, bahan baku yang seperti ini yang kita ingin jamin,” ujar Faisol.
Faisol juga mengakui Indonesia masih menghadapi ketertinggalan dibandingkan negara-negara industri maju. Karena itu, menurutnya, pemerintah perlu memperkuat hubungan dengan negara-negara industri maju sekaligus membangun rantai pasok industri yang terintegrasi.
Ia menyebut langkah Presiden Prabowo melakukan kunjungan ke berbagai negara industri salah satunya diarahkan untuk membangun kerja sama dan rantai pasok industri.
“Presiden keliling ke berbagai belahan dunia, ke negara-negara industri maju, bukan apa-apa, hanya ingin membangun rantai pasok industri yang langsung dengan negara-negara industri maju ini dan menjaminnya bahwa hilirisasi yang kita lakukan menjadi bagian dari itu semua,” kata Faisol.


