Beranda / Daerah / nDalem Natan Royal Heritage, Rumah Kalang yang Kembali Hidup

nDalem Natan Royal Heritage, Rumah Kalang yang Kembali Hidup

Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Bangunan cagar budaya tidak hanya menjadi saksi perjalanan sejarah, tetapi juga memerlukan komitmen untuk terus dirawat dan dimanfaatkan agar tetap hidup di tengah masyarakat. Salah satu contoh upaya tersebut ditunjukkan oleh pemilik Bangunan Cagar Budaya Rumah Kalang Nasir Tamara yang kini dikenal sebagai nDalem Natan Royal Heritage.

Atas dedikasinya melestarikan bangunan bersejarah tersebut, sang pemilik, Nasir Tamara menerima Anugerah Kebudayaan Gubernur DIY Tahun 2021 dalam kategori Pelestari dan/atau Pelaku Warisan Budaya dan Cagar Budaya. Manager nDalem Natan Royal Heritage, Sri Utaminingsih atau yang akrab disapa Tami pun menuturkan bahwa bangunan tersebut sebelumnya dikenal sebagai nDalem Proyodranan.

Menurut catatan, Proyodrono merupakan keturunan orang Kalang yang bermukim di Kotagede dengan profesi sebagai pengusaha perhiasan. Inskripsi angka tahun “1857” yang tertera pada kuncung pendhapa merupakan tahun Jawa (konversi ke tahun Masehi menjadi 1926) yang diperkirakan tahun pendirian bangunan ini.

Dahulu, meskipun kaya, orang Kalang tidak dapat membangun rumah dengan gaya tradisional Jawa, seperti rumah para sentana atau abdi dalem kraton, sebagaimana struktur sosial pada masa itu. Oleh karena itu, para orang Kalang membangun rumah tinggal dengan gaya arsitektur campuran, di antaranya Jawa, Eropa, Cina, juga memakai elemen-elemen dekorasi Timur Tengah.

Diceritakan Tami, rumah bersejarah ini dibeli oleh Nasir Tamara pada tahun 2012 dalam kondisi rusak berat setelah lama tidak berpenghuni, serta mengalami kerusakan akibat gempa Yogyakarta tahun 2006. “Saat dibeli kondisinya memang sudah terbengkalai lama dan kerusakannya sekitar 70 persen,” ujar Tami.

Menurut Tami, proses pemugaran berlangsung lebih dari empat tahun dengan seluruh pembiayaan ditanggung oleh sang pemilik. Pemugaran dilakukan secara hati-hati dengan menerapkan prinsip-prinsip pemugaran bangunan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku serta melibatkan tenaga ahli dari berbagai daerah, termasuk perajin ukiran kayu dari Jepara, agar setiap detail bangunan tetap mempertahankan bentuk dan karakter aslinya. Hal tersebut pun menjadikan ndalem ini sebagai salah satu dari sedikit rumah orang Kalang di Kotagede yang masih terpelihara dengan baik.

“Tujuan utama Bapak Nasir Tamara dan Ibu Ita membeli rumah ini memang untuk melestarikan bangunan bersejarah ini. Bangunan ini kami buka untuk umum agar dapat menjadi sarana edukasi sejarah. Jadi, tidak hanya dimanfaatkan untuk kegiatan komersial, tetapi juga sebagai media untuk melestarikan warisan budaya melalui penyampaian sejarah bangunan kepada masyarakat,” jelas Tami kepada Humas Pemda DIY beberapa waktu lalu.

Setelah melalui proses pemugaran, bangunan mulai dibuka secara bertahap sejak 2015 dan aktif beroperasi pada 2017 dengan nama nDalem Natan Royal Heritage. Tami menyebutkan bahwa bangunan ini tidak hanya dimanfaatkan sebagai penginapan, tetapi juga dikembangkan sebagai ruang publik yang menghadirkan edukasi sejarah dan budaya.

“Kami ingin masyarakat datang bukan hanya untuk menikmati bangunannya, tetapi juga memahami sejarahnya. Intinya, kami ingin ikut melestarikan warisan budaya melalui edukasi dan storytelling sejarahnya,” kata Tami.

Keaslian arsitektur pun menjadi salah satu daya tarik utama bangunan ini. Sebagai rumah tradisional Jawa, nDalem Natan masih mempertahankan tata ruang khas mulai dari pendopo, gandok, senthong, gadri, pawon hingga pekiwan. Kini setelah dibuka untuk umum, bagian bangunan tersebut difungsikan beberapa sebagai guesshouse, toko buku, artspace café, museum, art and craft shop, dan gallery.

Untuk bagian pendopo dan senthong tengah di bangunan rumah ini masih berfungsi sesuai aslinya. Adapun pendopo di bangunan rumah ini lebih menyerupai teras yang luas tanpa dilengkapi pringgitan. Senthong tengah dilengkapi dengan pasren sebagaimana yang biasa ditemukan pada rumah tradisional Jawa. Sementara, bagian dari gandok kiwo dan gandok tengen berisi deretan kamar tamu (guesthouse) hingga ke bagian belakang setelah gadri dan longkangan.

Pada lorong di gandok kiwo dan gandok tengen terdapat benda-benda perabotan dan pernak-pernik koleksi pemilik rumah. Selain itu, terdapat pula benda-benda seperti kain batik, aksesoris, dan kerajinan tangan untuk dijual. Benda-benda tersebut memperlihatkan fungsi rumah ini sebagai galeri.

Museum pribadi berada di bangunan gandok tengen yang berisi koleksi benda-benda antik, seperti buku, gramofon, cap batik, bokor, kaset, dan lain sebagainya. Sedangkan, kafe dan ruang pamer seni (art space) menempati lokasi yang dulunya adalah garasi di sisi kanan dari pintu masuk.

Bangunan tersebut direnovasi sehingga memiliki dua lantai. Lantai pertama berfungsi sebagai kafe sekaligus ruang pameran temporer, sementara lantai dua berfungsi sebagai ruang pameran temporer dan ruang penyimpanan atau gudang. Bangunan yang menjadi ruang tinggal pribadi Nasir Tamara merupakan bangunan gandok kiwo. Bangunan bersejarah ini juga memadukan unsur arsitektur Eropa yang terlihat pada ornamen, plafon yang tinggi, serta detail besi dekoratif yang mencerminkan pengaruh arsitektur pada masa kolonial.

“Awalnya rumah ini memiliki banyak kamar sehingga dimanfaatkan sebagai penginapan. Agar pengunjung dapat menikmati pengalaman yang lebih utuh, kemudian dihadirkan pula kafe dan toko buku. Bapak Nasir Tamara yang mengawali karier sebagai jurnalis memang memiliki kecintaan terhadap buku dan sejarah, sehingga muncul keinginan menghadirkan toko buku, bahkan ke depan perpustakaan. Beliau juga mengoleksi berbagai benda antik yang kini dipamerkan di museum sebagai bagian dari upaya mengenalkan sejarah dan warisan budaya kepada masyarakat,” terang Tami.

Selain mempertahankan bangunan, nDalem Natan juga menjadi ruang bagi berbagai aktivitas kebudayaan. Pengelola bekerja sama dengan pelaku UMKM lokal dalam penyelenggaraan lokakarya, seperti melukis keramik dan pembuatan gerabah. Museum yang menampilkan koleksi benda-benda antik milik Nasir Tamara, mulai dari sepeda tua, mesin proyektor, hingga peralatan rumah tangga kuno, juga bagian dari upaya mengenalkan sejarah kepada masyarakat.

Tami berharap semakin banyak bangunan bersejarah di kawasan Kotagede yang dapat terus dilestarikan sehingga tetap menjadi bagian dari identitas budaya Daerah Istimewa Yogyakarta. “Di Kotagede masih banyak rumah-rumah tua dan situs bersejarah. Harapan kami semuanya bisa terus lestari dan dikembangkan sebagai bagian dari pariwisata budaya. Yang paling penting, generasi muda dapat mengenal dan meneruskan upaya pelestarian ini,” tutur Tami.

Seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap wisata berbasis sejarah dan budaya, nDalem Natan Royal Heritage kini tidak hanya dikunjungi wisatawan domestik, tetapi juga wisatawan mancanegara. Kehadirannya menjadi salah satu contoh bahwa pelestarian bangunan cagar budaya dapat berjalan berdampingan dengan pemanfaatan yang adaptif, sehingga nilai sejarah tetap terjaga sekaligus memberikan manfaat edukatif, sosial, budaya, dan ekonomi bagi masyarakat.

Bagi masyarakat yang tertarik berkunjung, tiket masuk hanya dikenakan apabila ingin menjelajah ke dalam museum dengan tarif per orang sebesar Rp75.000,00. Beralamatkan di Jl. Mondorakan No. 5, RT 07 RW 34, Prenggan, Kotagede, Kota Yogyakarta, nDalem Natan Royal Heritage menjadi salah satu one-stop heritage destination yang memadukan pengalaman wisata sejarah, budaya, edukasi, dan rekreasi dalam satu kawasan, sekaligus menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat warisan budaya Kotagede.

Humas Pemda DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *