Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Tawuran pelajar, perundungan, hingga jeratan narkoba yang marak terjadi, sering kali berawal dari kurangnya komunikasi keluarga di rumah. Fakta ini dilontarkan oleh Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Wihaji, untuk menyentil fenomena fatherless atau absennya sosok ayah secara psikologis.
Dalam puncak peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 di Benteng Vredeburg, Yogyakarta, Senin (29/6), Wihaji membunyikan alarm darurat terkait rentannya institusi keluarga. Acara ini turut dihadiri oleh Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X beserta jajaran Forkopimda DIY.
Menurut Wihaji, absennya kehangatan emosional dari orang tua, khususnya ayah, sangat berbahaya bagi mental anak. Kondisi ini dinilai berdampak langsung pada meledaknya patologi sosial yang mengerikan di tengah masyarakat.
“Anak-anak yang terjerumus dalam kekerasan atau narkoba sering kali adalah mereka yang kurang kasih sayang di rumah. Karena tidak mendapatkan pelabuhan emosional di keluarga, mereka akhirnya mencari pelarian semu di jalanan,” tegas Wihaji.
Lebih miris lagi, kekosongan peran ayah di rumah saat ini kerap dibajak oleh gawai. Wihaji menyoroti peradaban era modern di mana ancaman pergaulan sudah menyusup langsung ke ruang keluarga melalui layar digital.
“Wahai para ayah, letakkan gawai Anda di rumah, peluk anak-anakmu, dan ajak mereka berdialog. Jangan biarkan meja makan sunyi dan masa depan anak kita dikuasai oleh algoritma digital yang tidak bermoral,” pesannya.
Menurut Wihaji, ketangguhan keluarga, bukan sekadar urusan domestik, melainkan urgensi nasional yang berkorelasi linier dengan nasib bangsa. Jika institusi keluarga rapuh, ledakan usia produktif justru akan berbalik menjadi bencana demografi yang meruntuhkan stabilitas sosial.
Guna menangkal ancaman tersebut, Wihaji memaparkan tiga pilar utama pembangunan keluarga. Ketiga pilar ini wajib diperkuat oleh setiap keluarga Indonesia untuk mencetak generasi muda unggul. Pada aspek kesehatan, diperlukan penuntasan stunting melalui pemenuhan gizi di 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Anak dengan perkembangan otak yang terhambat dipastikan akan kalah bersaing di era kecerdasan buatan.
Pada aspek pendidikan karakter, rumah harus kembali menjadi madrasah abad 21 bagi anak. Tempat inilah yang menjadi fondasi awal ditanamkannya integritas, kejujuran, dan kedisiplinan.
Pada aspek ketahanan mental keluarga wajib menjadi pelabuhan emosional yang tangguh. Tujuannya agar anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang pantang menyerah dan tidak mudah stres di era penuh tekanan.
Sebagai penutup, Wihaji mengajak seluruh elemen masyarakat untuk segera mengubah paradigma. Keluarga harus ditempatkan sebagai hulu dari segala kebijakan publik karena infrastruktur semegah apa pun tidak akan bermakna tanpa SDM yang bermoral.
“Jadikan rumah sebagai tempat yang paling aman dan dirindukan. Ke mana pun anak kita melangkah, magnet kehangatan keluarga akan selalu menarik mereka pulang ke jalan yang benar,” pungkasnya.
Humas Pemda DIY




