WASHINGTON,REDAKSI17.COM — Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman menelepon Presiden AS Donald Trump dua kali pada hari Kamis dan meminta bantuan untuk melancarkan serangan terhadap kelompok Houthi. Demikian dilaporkan Axios mengutip dua pejabat AS.
Menurut laporan itu, Trump menolak permintaan tersebut, dan para pejabat AS menyatakan bahwa pemerintahannya tidak berniat mengambil tindakan militer langsung terhadap Houthi untuk saat ini.
Reuters tidak dapat memverifikasi laporan tersebut. Gedung Putih dan Kedutaan Besar Arab Saudi di Washington tidak memberikan komentar.
Menurut Axios, AS semakin khawatir dengan konflik yang meningkat pesat di Yaman dan sedang meningkatkan dukungannya bagi Arab Saudi sembari berupaya menghindari keterlibatan militer secara langsung.
Laksamana Brad Cooper, komandan Komando Pusat AS (U.S. Central Command), melakukan perjalanan ke Arab Saudi pada Kamis untuk menggelar pembicaraan koordinasi mendesak.
“Para pejabat militer dan sipil AS juga telah menyampaikan kepada rekan-rekan mereka di Arab Saudi dalam beberapa pekan terakhir bahwa arahan Trump adalah agar pasukan Amerika tetap fokus pada Iran dan pengamanan Selat Hormuz, sembari menghindari pembukaan front militer baru,”demikian Axios melaporkan.
Reuters sebelumnya mengungkapkan pada Juli bahwa Arab Saudi berupaya membentuk koalisi internasional untuk melindungi pelayaran di Laut Merah dari serangan Houthi. Hal ini seiring dengan terus meningkatnya ketegangan di
Eskalasi ini bermula pada awal Juli, ketika kelompok Houthi menyatakan bahwa pasukan mereka berhadapan dengan ‘pesawat tempur’ Saudi yang berupaya mencegah pesawat sipil Iran mendarat di Bandara Internasional Sanaa.
Kelompok Houthi Yaman hari ini lantas mengambil alih sebuah pulau penting di Laut Merah, yang menuntaskan upaya mereka untuk menguasai wilayah selat Bab el-Mandeb. Demikian menurut keterangan seorang pejabat pemerintah setempat dan sejumlah saksi mata kepada AFP.
“Perahu-perahu yang mengangkut tentara Houthi bersenjata tiba di Pulau Mayyun setelah pasukan pemerintah menarik diri dari sana kemarin,” ujar pejabat tersebut, merujuk pada pulau yang juga dikenal sebagai Perim yang membagi selat itu menjadi dua jalur pelayaran.
Seorang saksi mata mengatakan orang-orang bersenjata itu menempatkan diri di sepanjang pesisir Bab el-Mandeb dan berkeliling menggunakan kendaraan militer.
Pembicaraan tingkat tinggi
Sementara itu, para diplomat tinggi Iran dan Arab Saudi melakukan pembicaraan melalui telepon untuk membahas meningkatnya ketidakamanan di kawasan tersebut. Demikian pernyataan Teheran, tanpa menyinggung pertempuran terkini di Yaman, tempat kedua negara mendukung pihak yang berseberangan.
Teheran memberikan dukungan militer dan finansial kepada kelompok Houthi Yaman, yang selama bertahun-tahun menguasai sebagian besar wilayah utara negara itu dan telah merebut kota pelabuhan strategis Mocha di Laut Merah.
Sebaliknya Riyadh telah lama mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Riyadh juga melancarkan serangan udara terhadap Houthi sejak kelompok tersebut mulai melakukan pergerakan maju.
“Diplomat tinggi Iran, Abbas Araghchi, berbicara dengan mitranya dari Arab Saudi, Faisal bin Farhan, tadi malam mengenai eskalasi ketegangan dan meningkatnya ketidakamanan di kawasan,” demikian menurut kementerian luar negeri Teheran.
Ringkasan pembicaraan tersebut menyebutkan bahwa kedua belah pihak menekankan perlunya melanjutkan kerja sama dan upaya diplomatik guna mencegah meluasnya ketegangan serta memulihkan stabilitas.
Meskipun kementerian tidak secara spesifik menyebutkan Yaman dalam laporan pembicaraan tersebut, sebuah pernyataan terpisah yang membahas pertempuran di sana menegaskan bahwa mustahil untuk menyelesaikan krisis Yaman melalui intervensi militer.


