Jakarta, redaksi17.com – Hubungan PDIP dan PSI mendadak kembali membara. Dipicu kabar burung bahwa Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), bakal didapuk menjadi Ketua Dewan Pembina PSI, PDIP langsung melontarkan serangan telak.
Ketua DPP PDIP, Deddy Yevri Sitorus, menuding partai berlogo mawar itu tengah gencar melakukan aksi “pembajakan” massal terhadap kader-kader parpol lain secara instan demi membesarkan nama partai!
Deddy mengungkapkan bahwa PSI tidak hanya mengincar banteng, tetapi juga menyasar basis partai lain seperti NasDem, Demokrat, dan PAN. Berdasarkan informasi yang diterimanya, para kader—mulai dari anggota dewan, kepala daerah, hingga pengurus—dibujuk pindah gerbong dengan tawaran bantuan material yang lumayan.
Meski begitu, PDIP menegaskan sama sekali tidak gentar dengan pergerakan PSI maupun bayang-bayang Jokowi.
“Terus terang kami tidak takut. Pemilu kemarin, saat di puncak kekuasaan dengan jaringan pemerintahan dan anggaran bansos APBN saja, mereka masih gagal masuk parlemen,” sindir Deddy pedas, Senin (15/6).
Deddy juga memperingatkan bahwa strategi “pungut” kader ini bakal membuat PSI dikeroyok banyak kekuatan politik sekaligus karena dianggap merusak etika.
Mendengar tudingan miring tersebut, PSI langsung pasang badan dan memberikan balasan yang tak kalah menohok. Ketua DPP PSI, Bestari Barus, menyebut logika Deddy sangat keliru.
Menurut Bestari, tidak ada istilah pembajakan kader. Fakta yang terjadi di lapangan justru sebaliknya: banyak kader yang sudah jenuh dengan kondisi internal partai lamanya.
“Sudah bosan di PDIP pindah ke PSI untuk bersama-sama dengan PSI dan Pak Jokowi yang pernah menang Pemilu 5 kali… Bukan bajak-membajak, memang sawah? Deddy ini ada-ada saja,” cemooh Bestari.
Perebutan pengaruh ini diprediksi bakal membuat peta politik daerah makin bergejolak, walau pemilu berikutnya masih panjang.
Apakah ini strategi cerdas PSI untuk bangkit, atau justru blunder yang memicu musuh di mana-mana?





