Umbulharjo,REDAKSI17.COM – Status Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai Warisan Dunia UNESCO harus menjadi momentum untuk menghadirkan inovasi dalam pelestarian kawasan bersejarah tanpa menghilangkan nilai budaya yang dikandungnya. Salah satu langkah yang didorong Pemerintah Kota Yogyakarta adalah mengembangkan kawasan penyangga (buffer zone) sebagai destinasi baru agar aktivitas wisata tidak hanya bertumpu pada kawasan inti (core zone).
Hal tersebut disampaikan Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, saat membuka The 3rd International Field School and Seminar on The Cosmological Axis of Yogyakarta and Its Historic Landmarks: Living Heritage for the Future – Building Sustainable Conservation and Management Strategies for the Cosmological Axis Buffer Zone di Graha Pandawa Balai Kota Yogyakarta, Senin (6/7).
Kegiatan yang merupakan kolaborasi Pemerintah Kota Yogyakarta, UNESCO Chair in Heritage Cities Conservation and Management Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Kyoto University, serta UNESCO Regional Office for Indonesia and ASEAN itu diikuti 20 peserta dari Indonesia dan Jepang. Selama enam hari, peserta akan mempelajari kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta, khususnya zona penyangga, untuk merumuskan strategi pelestarian yang berkelanjutan melalui pendekatan Historic Urban Landscape (HUL).
Hasto mengatakan, pengakuan UNESCO terhadap Sumbu Filosofi Yogyakarta pada tahun 2023 merupakan kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar bagi seluruh pemangku kepentingan. Kawasan tersebut bukan hanya menjadi pusat kebudayaan, tetapi juga pusat perekonomian, pendidikan, dan sejarah perjalanan bangsa Indonesia.
“Pengakuan ini bukan hanya kebanggaan bagi Kota Yogyakarta, tetapi juga Indonesia. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menjaga nilai budaya yang hidup di dalamnya agar tetap lestari sekaligus mampu menjawab kebutuhan pembangunan kota,” ujarnya.
Menurut Hasto, salah satu tantangan yang kini dihadapi adalah meningkatnya tekanan kunjungan wisatawan, terutama di kawasan Malioboro yang menjadi bagian dari kawasan inti Sumbu Filosofi. Oleh karena itu, diperlukan inovasi agar kawasan penyangga ikut berkembang sebagai ruang aktivitas ekonomi, budaya, dan pariwisata baru.
“Satu hal yang perlu mendapatkan respons adalah tekanan kunjungan wisatawan, terutama mass tourism, yang memberikan tekanan tersendiri terhadap core zone di Sumbu Filosofi. Oleh karena itu, perlu ada gagasan dan inovasi agar buffer zone juga berkembang, tidak hanya core zone, tetapi kawasan penyangga yang bisa dikembangkan sebagai destinasi baru,” ujarnya.

Salah satu potensi yang dinilai dapat dikembangkan adalah kawasan sungai di Kota Yogyakarta. Hasto menyebut Sungai Code maupun Sungai Gajah Wong memiliki peluang menjadi destinasi wisata alternatif yang tetap selaras dengan pelestarian lingkungan dan warisan budaya.
“Kita punya sungai-sungai yang bisa menjadi alternatif destinasi wisata baru di Kota Yogyakarta. Saya melihat di beberapa negara sungainya bersih dan menjadi bagian dari destinasi wisata. Bahkan saya bermimpi ketika masuk Malioboro macet, kita bisa ke Malioboro lewat Sungai Code,” katanya.
Ia mengungkapkan bahwa Pemerintah Kota Yogyakarta telah melakukan normalisasi Sungai Code selama dua pekan terakhir, mulai dari belakang Hotel Tentrem hingga kawasan Jembatan Kewek.
“Selama dua minggu ini pendangkalan Sungai Code sudah kita selesaikan. Kemarin saya membayangkan, kalau dulu dari Hotel Tentrem sampai dekat Malioboro membutuhkan waktu sekitar 45 menit dengan arung jeram, mungkin nanti cukup sekitar 20 menit karena sungainya sudah lebih lancar dan lebih indah,” jelasnya.
Tak hanya Sungai Code, Hasto juga menyampaikan gagasannya untuk mengembangkan kawasan Sungai Gajah Wong yang melintasi Kebun Binatang Gembira Loka.
“Mimpi saya, kalau masuk ke kebun binatang kemudian ada labuhan kecil di Gajah Wong dan kita bisa naik perahu sampai kawasan Giwangan sebagai destinasi baru. Kalau di Singapura ada night safari, apa salahnya kalau di Jogja juga ada night safari, bahkan bisa arung jeram di malam hari,” ujarnya.
Meski mendorong berbagai inovasi, Hasto menegaskan seluruh pengembangan kawasan harus tetap berpijak pada prinsip pelestarian warisan budaya.
“Kita harus bisa menciptakan ide-ide baru dan kreasi baru, tetapi tidak keluar dan lepas dari menjaga heritage, budaya, serta keaslian Kota Yogyakarta,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa tantangan besar Kota Yogyakarta bukan hanya menjaga bangunan dan kawasan bersejarah, tetapi juga membangun perilaku masyarakat yang tertib, disiplin, bersih, dan peduli terhadap lingkungan.
“Kami punya PR besar, yaitu bagaimana melakukan rekonstruksi sosial dan perubahan perilaku masyarakat. Kita boleh bermimpi ketertiban dan kebersihan Kota Yogyakarta seperti kota kecil Singapura, tetapi itu membutuhkan perjuangan dan waktu,” katanya.

Sementara itu, Ketua Jogja Seminar and Field School, Dwita Hadi Rahmi, mengatakan penyelenggaraan International Jogja Field School tahun ini mengangkat tema Living Heritage for the Future: Building Sustainable Conservation and Management Strategies for the Cosmological Axis Buffer Zone.
Menurutnya, kawasan penyangga memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan Situs Warisan Dunia Sumbu Filosofi Yogyakarta karena menjadi ruang hidup masyarakat yang terus berkembang.
“Kami memfokuskan tema tahun ini pada kawasan penyangga karena kawasan ini sangat penting bagi pelestarian Situs Warisan Dunia Yogyakarta. Melalui field school ini peserta akan belajar memahami warisan budaya yang hidup serta strategi pelestarian dan pengelolaannya secara berkelanjutan,” ujarnya.
Direktur UNESCO Regional Office for Indonesia and ASEAN, Maki Katsuno-Hayashikawa, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi antara Pemerintah Kota Yogyakarta, UGM, dan Kyoto University yang terus berlanjut hingga tahun ketiga.
Ia berharap para peserta memanfaatkan kegiatan tersebut untuk memahami secara langsung bagaimana kawasan bersejarah dikelola dengan melibatkan masyarakat.
“Saya mendorong Anda semua memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya. Lakukan pengamatan, berdialog dengan para pemangku kepentingan, dan bekerja sama mengembangkan ide-ide praktis yang dapat membantu melestarikan bangunan bersejarah, tradisi hidup, pengetahuan, dan praktik budaya yang memberikan identitas bagi kota ini,” ujarnya.
