KOTAGEDE,REDAKSI17.COM – Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo melepas kirab budaya dies natalis ke-69 SD Negeri Gedongkuning yang diikuti ratusan siswa siswi pada Senin (5/10/2026). Kegiatan itu sekaligus karnaval pelajar menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-270 Kota Yogyakarta. Pemerintah Kota Yogyakarta mengapresiasi SD Negeri Gedongkuning yang berpartisipasi merayakan HUT ke-270 Kota Yogyakarta. Kirab budaya maupun karnaval pelajar tidak sekadar memeriahkan HUT ke-270 Kota Yogyakarta, tapi juga mengenalkan kebudayaan kepada para pelajar.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengucapkan rasa syukur dan selamat kepada SD Negeri Gedongkuning yang merayakan dies natalis atau ulang tahun ke-69 tahun dan HUT ke-270 Kota Yogyakarta secara bersama-sama. Menurutnya perayaan HUT Kota Yogyakarta dengan karnaval pelajar maupun kirab budaya itu menjadi momentum untuk mengenalkan kebudayaan terutama budaya Yogyakarta kepada para pelajar. Di samping itu juga membangun karakter berbudaya.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo saat memberikan sambutan sebelum melepas kirab budaya pelajar SD Negeri Gedongkuning. 

“Yang jelas ini karnaval penuh suasana budaya, kirab budaya. Jadi saya ingin sekali bahwa adik-adik kita ini mengenal kebudayaan. Ini penting karena momentum-momentum seperti inilah bisa dipaparkan dan dikenalkan dengan kegiatan-kegiatan kebudayaan. Ingat bahwa kita juga harus membangun karakter, kepribadian yang berbudaya nusantara. Kalau Yogya ya berbudaya Ngayogyakarta,” kata Hasto ditemui usai melepas kirab budaya SD Negeri Gedongkuning.

Pihaknya juga mengapresiasi SD Negeri Gedongkuning karena termasuk SD yang berprestasi dan diminati masyarakat. Mengingat sebagian SD Negeri di Kota Yogyakarta lainnya kondisinya kurang diminati. Oleh karena itu, Hasto meminta Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) Kota Yogyakarta untuk mendukung dan memajukan SD Gedongkuning. Misalnya jika ada yang rusak akan direhabilitasi. Termasuk mendorong Bantuan Operasional Sekolah Daerah (Bosda) untuk menambah guru yang bisa meningkatkan kualitas pendidikan di SD negeri. Baik prestasi Tes Kemampuan Akademik (TKA), akhlak, kepribadian dan spiritual atau keagamaan.

Para siswa siswi SD Negeri Gedongkuning mengenakan baju adat Jawa gaya Yogyakarta mengikuti kirab budaya. 

“Kita tahu SD-SD (negeri) di Kota Yogyakarta itu mengalami penurunan jumlah murid. Berarti minat masyarakat terhadap SD Negeri itu kurang. Cita-cita saya SD Negeri itu sudah gratis, harus kualitasnya bagus. Kesempatan baik di Kota Yogyakarta yang tidak punya lahan untuk membangun sekolah rakyat yang besar, maka inilah wujud sekolah rakyat kita. SD Negeri diminati oleh masyarakat, kita gratiskan dan prestasinya harus bagus,” tegas Hasto.

Dalam kirab budaya itu, ratusan pelajar SD Negeri Gedongkuning mengenakan baju adat Jawa gaya Yogyakarta. Para siswa mengenakan baju surjan lurik dan kain jarik lengkap dengan blangkon. Begitu pula para siswi menggunakan kebaya lurik dan kain jarik. Mereka juga membawa logo HUT ke-270 Kota Yogyakarta. Dua gunungan berisi berbagai jajanan anak-anak juga ikut dikirab. Guru-guru dan sejumlah warga sekitar SD Negeri Gedongkuning juga mengikuti kirab budaya.

Siswa SD Negeri Gedongkuning membawa gunungan bergambar logo HUT ke-270 Kota Yogyakarta saat kirab. 

Sedangkan Kepala SD Negeri Gedongkuning Wiwin Prihandiningsih menjelaskan seluruh siswa siswi SD Negeri Gedongkuning sebanyak 330 siswa/siswi mengikuti kirab budaya. Kegiatan kirab budaya tersebut merayakan dua momen sekaligus, yaitu ulang tahun SD Negeri Gedongkuning yang ke-69, juga bersamaan HUT ke-270 Kota Yogyakarta. Kirab budaya mengusung tema Guyub Mahargya Sekolahku, Kotaku dan Budayaku.

“Kita ingin menumbuhkan rasa cinta tanah air. Sesuai dengan temanya guyub rukun kebersamaan dan rasa handarbeni (memiliki) khususnya sekolah dan Kota Yogyakarta,” papar Wiwin.

Musik gamelan dan alat musik modern belira mengiringi kirab budaya SD Negeri Gedongkuning.

Rangkaian dies natalis ke-69 SD Negeri Gedongkuning juga diisi dengan kegiatan donor darah, pemeriksaan kesehatan, pentas anak dan bakti sosial kepada masyarakat. Kegiatan kirab dan lainya itu terwujud atas sinergi sekolah, komite dan paguyuban orang tua (POT) siswa. Diharapkan rangkaian kegiatan itu membawa keberkahan dan manfaat untuk anak-anak, warga sekolah serta warga sekitar,” ucapnya.(