MANTRIJERON,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta mendorong Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) untuk naik kelas dan berdaya saing. UMKM harus bisa menguasai pasar dan produksi. Target terutama untuk peningkatan kualitas dan pendapatan pelaku UMKM. Untuk itu organisasi terkait pengusaha diharapkan bisa mengedukasi konsep atau pola pikir tersebut kepada pelaku UMKM.

Demikian kesimpulan materi yang disampaikan Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo saat membuka workshop nasional business blueprint terkait UMKM yang diadakan oleh Gerakan Entrepreneur Masyarakat Maju (GEMMA) Indonesia Raya di Hotel Arkadewi Boutique, Kamis (23/4/2026). Menurutnya kelemahan UMKM tidak mempunyai sistem untuk menguasai pasar lokal dan produk lokal. Hanya banyak bertumbuh wadahnya, tetapi konsep berpikirnya belum memiliki ideologi seperti ayo kuasai produk dan pasar. Hasto meminta organisasi terkait pengusaha seperti GEMMA Indonesia Raya ikut membangun dan mengedukasi ideologi itu di kalangan UMKM.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo memberikan sambuta saat membuka workshop blueprint terkait smart branding dan smart funding UMKM. 

“Kalau kita bicara blueprint, harusnya kita bicara kerangka pikir masalah ideologi dan prinsip harus menguasai pasar dan produksi. Makanya organisasi-organisasi seperti GEMMA dan dinas pembina UMKM, harusnya selalu menjejali konsep-konsep pikir itu. Karena mereka (UMKM) memang (ada) keterbatasan level of thinking. Kerangka pikirnya belum tentu bisa,” kata Hasto ditemui usai membuka workshop terkait UMKM.

Dicontohkan Pemkot Yogyakarta mendorong pelaku UMKM menguasai pasar dengan membuat batik Segoro Amarto Reborn yang wajib digunakan sebagai seragam ASN Pemkot Yogyakarta dengan jumlah mencapai sekitar 6.500 pegawai. Produksi batik dilakukan oleh UMKM-UMKM melalui Koperasi Merah Putih di tingkat kelurahan. Hasto menilai dengan kondisi UMKM yang masih memiliki kelemahan pada sistem terkait menguasai pasar dan produk, maka fokus utama Pemkot Yogyakarta bukan pada penambahan jumlah UMKM. Namun  pada peningkatan kualitas dan pendapatan UMKM agar naik kelas.

“Menurut saya kualitasnya dan targetnya itu meningkatkan pendapatan (UMKM).  Ya, UMKM naik kelas. Jangan menambah UMKM,” ujarnya.

Hasto menerima cinderamata buku dari penyelengara workshop dari GEMMA Indonesia Raya.

Pihaknya mengapresiasi GEMMA yang mengadakan program pengabdian kepada masyarakat nasional dan workshop nasional business blueprint : smart branding and smart funding untuk transformasi UMKM Yogyakarta yang berdaya saing. Hasto menilai smart branding dan funding bagian penting dari UMKM.

“Saya titip bahwa jangan terpaku pada orientasi kapitalis kanan atas yang orientasinya adalah mengakumulasi uang rakyat banyak kepada segelintir orang. Baliklah saja kapitalis kanan bawah di mana modal banyak dikuasai oleh rakyat, koperasi-koperasi, UMKM,” tegas Hasto.

Kepala Bidang Usaha Mikro Kecil Dinas Perindustrian Koperasi dan UKM Kota Yogyakarta Bebasari Sitarini menambahkan saat ini jumlah UMKM di Kota Yogyakarta yang sudah diidentifikasi dan terverifikasi sebanyak 6.835. Selain itu juga tengah dilakukan pendataan dengan target 36.000  UMKM dari data Sibakul dan sudah terupdate sekitar 24.000 UMKM. Sebagian besar bergerak di kuliner, fesyen dan kerajinan.

“Untuk meningkatkan kualitas UMKM branding itu harus kita dorong terus melalui pendampingan dan pelatihan. Kita  sinergikan, kolaborasikan dengan lembaga atau pihak swasta yang memang punya program yang sama untuk pemberdayaan UMKM. Branding harus kita dorong karena UMKM harus go global sehingga harus berdaya saing dan meningkatkan kualitas produk dan kontinuitas produknya,” terang Sita.

Sementara itu Ketua Umum GEMMA Indonesia Raya, Sri Setiawati menyampaikan GEMMA Indonesia Raya siap untuk berkolaborasi, bersinergi untuk bisa memajukan program-program di Kota Yogyakarta dan Indonesia. Terutama membersamai UMKM-UMKM di Kota Yogyakarta. Salah satunya melalui kegiatan program pengabdian kepada masyarakat nasional dan workshop nasional business blueprint : smart branding and smart funding untuk transformasi UMKM Yogyakarta yang berdaya saing.

“Kami ingin menggandeng para pengusaha UMKM. UMKM dari perempuan, lansia dan disabilitas. Kami juga punya program-program yang berkolaborasi  dengan beberapa kementerian yang nantinya akan kami coba sinergikan di sini,” ucap Setiawati.