Amerika Serikat kembali melancarkan serangan ke Iran. (AP Photo/Hasan Ammar)
Teheran,REDAKSI17.COM – Perang Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas setelah serangkaian ledakan mengguncang sejumlah wilayah di bawah kendali Teheran pada Kamis (9/7/2026) malam
Insiden tersebut terjadi di tengah saling balas serangan antara Washington dan Teheran yang telah berlangsung selama dua hari terakhir, menyusul serangan Iran terhadap tiga kapal komersial di Selat Hormuz.
Media-media Iran melaporkan sedikitnya tujuh ledakan terdengar di berbagai wilayah, sementara AS melancarkan serangan udara baru ke sejumlah target di Iran.
Pada saat yang sama, Teheran membalas dengan meluncurkan serangan ke berbagai fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah, sehingga meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya konflik regional.
Kantor berita Mehr, dikutip dari Anadolu Agency, melaporkan dua ledakan terdengar di sekitar Kota Bushehr dan Choghadak, Iran selatan. Bushehr merupakan wilayah strategis yang menjadi lokasi satu-satunya kompleks pembangkit listrik tenaga nuklir Iran.
Wakil Gubernur Bushehr Bidang Politik dan Keamanan, Ehsan Jahaniyan, mengatakan kepada kantor berita negara IRNA ledakan tersebut terjadi setelah sistem pertahanan udara Iran merespons serangan yang datang.
Menurut Jahaniyan, sebuah fasilitas militer di pinggiran Bushehr menjadi sasaran proyektil yang ditembakkan oleh musuh AS-Zionis. Namun, ia tidak merinci jenis proyektil maupun tingkat kerusakan yang ditimbulkan.
Selain Bushehr, ledakan juga dilaporkan terjadi di Kota Konarak, Provinsi Sistan dan Baluchestan, Iran tenggara. Media Iran awalnya melaporkan tiga ledakan mengguncang wilayah tersebut tanpa penjelasan resmi mengenai penyebab maupun dampaknya.
IRNA kemudian melaporkan dua ledakan menghantam zona militer angkatan laut di Konarak. Gubernur Konarak Mohammad Younis Haqqani mengatakan wilayah tersebut diserang dalam dua gelombang terpisah oleh jet tempur musuh pada Kamis malam.
Ia menambahkan penyelidikan mengenai skala serangan serta tingkat kerusakan masih berlangsung. Hingga kini belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa maupun kerusakan material, sementara otoritas Iran terus mengumpulkan informasi terkait insiden tersebut.
Di tengah meningkatnya perang AS dan Iran, Washington kembali melancarkan operasi militer besar-besaran pada Kamis pagi.
Komando Pusat Militer Amerika Serikat (Centcom) menyatakan telah menyerang sekitar 90 sasaran di berbagai wilayah Iran. Rekaman yang dirilis menunjukkan serangan mengenai sejumlah landasan pacu bandara dan peluncur rudal.
Menurut Centcom, operasi tersebut bertujuan semakin melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.
Media Pemerintah Iran melaporkan sejumlah ledakan terjadi di berbagai kota, termasuk Bushehr serta beberapa kota pelabuhan di wilayah selatan. Untuk pertama kalinya sejak April, serangan AS juga dilaporkan menghantam infrastruktur jembatan.
Media pemerintah Iran menyebut sebuah jembatan kereta api di Provinsi Golestan menjadi sasaran. Sementara Garda Revolusi Iran menyatakan dua jembatan menuju Kota Masyhad juga terkena serangan. Kota tersebut diketahui menjadi lokasi rencana pemakaman Ayatullah Ali Khamenei.
Saat dimintai tanggapan mengenai laporan serangan di Bushehr, Centcom hanya merujuk pada daftar target operasi tanpa menyebut kompleks pembangkit listrik tenaga nuklir Iran.
Sebagai respons atas serangan Washington, Iran melancarkan serangkaian serangan terhadap fasilitas militer AS di Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Yordania.
Sirene peringatan terdengar sedikitnya tiga kali di Bahrain yang menjadi markas Armada Kelima Angkatan Laut AS. Rudal juga diluncurkan ke arah Kuwait dan Qatar, sementara sirene turut berbunyi di Yordania yang menjadi lokasi penempatan pasukan serta pesawat militer Amerika.
Pemerintah Kuwait menyatakan berhasil mencegat tiga rudal balistik, satu rudal jelajah, serta 10 drone. Meski demikian, serpihan rudal yang jatuh dilaporkan melukai satu orang. Bahrain menyebut seluruh proyektil berhasil dicegat tanpa merinci dampaknya.
Juru bicara Pemerintah Yordania Mohammad Al-Momani mengatakan seluruh rudal yang mengarah ke wilayah negaranya berhasil dihancurkan oleh sistem pertahanan udara.
Sementara itu, televisi pemerintah Iran menyatakan Garda Revolusi meluncurkan rudal ke pangkalan militer AS di Yordania. Hingga kini belum ada laporan mengenai kerusakan di Qatar.
Kementerian Kesehatan Iran menyatakan dua hari serangan udara AS telah menyebabkan sedikitnya 14 orang tewas dan 78 lainnya mengalami luka-luka. Sebagian besar korban meninggal dilaporkan merupakan anggota angkatan bersenjata Iran.
Di sisi lain, belum ada laporan korban jiwa akibat serangan balasan Iran terhadap negara-negara sekutu Amerika Serikat selain satu korban luka di Kuwait akibat serpihan rudal.
Eskalasi perang AS dan Iran meningkat tajam setelah Iran menyerang tiga kapal komersial di Selat Hormuz beberapa waktu lalu.
Washington menegaskan serangan udara terbaru dilakukan sebagai respons atas tindakan Iran yang dinilai membahayakan jalur pelayaran internasional.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia. Setelah adanya nota kesepahaman sementara antara kedua negara pada bulan lalu, lalu lintas kapal sempat kembali meningkat.
Data Lloyd’s List Intelligence menunjukkan sedikitnya 576 kapal melintasi Selat Hormuz sepanjang Juni, meningkat dibandingkan 233 kapal pada Mei. Secara keseluruhan, lebih dari 3.100 kapal tercatat melintasi jalur tersebut selama Juni 2025.
Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata sementara dengan Iran praktis telah berakhir. Pernyataan itu disampaikan usai menghadiri KTT NATO di Ankara, Turki.
Trump juga mengunggah video ledakan di Iran melalui media sosial sambil memperingatkan Teheran. Menurut Trump, serangan terbaru merupakan balasan atas penyerangan kapal-kapal di Selat Hormuz.
Ia memperingatkan apabila serangan terhadap pelayaran internasional kembali terjadi, respons Amerika Serikat akan jauh lebih besar.
Trump juga kembali mengancam akan menargetkan infrastruktur sipil Iran, termasuk fasilitas pembangkit listrik, instalasi desalinasi, hingga Pulau Kharg yang menjadi jalur sekitar 90% ekspor minyak Iran.
Meski menyatakan gencatan senjata telah berakhir, Trump mengaku masih membuka peluang negosiasi. Namun, ia menilai proses perundingan selama ini hanya membuang waktu.
Pembicaraan mengenai kesepakatan permanen diperkirakan baru akan dimulai setelah rangkaian pemakaman Ayatullah Ali Khamenei selesai. Agenda negosiasi diperkirakan mencakup pembukaan penuh Selat Hormuz serta masa depan program nuklir Iran.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf memberikan respons keras melalui media sosial X. Ia menegaskan AS harus menerima konsekuensi apabila kembali menyerang Iran.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan dirinya telah melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon dengan para menteri luar negeri Arab Saudi, Turki, Oman, serta Panglima Militer Pakistan Marsekal Asim Munir yang selama ini menjadi salah satu mediator utama.
Kontak diplomatik tersebut menunjukkan masih adanya upaya berbagai pihak untuk meredakan ketegangan yang terus meningkat.
Di tengah meningkatnya perang AS dan Iran, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Presiden Donald Trump pada Kamis malam.
Kantor Perdana Menteri Israel, dikutip dari The Jerusalem Post, menyatakan percakapan tersebut merupakan bagian dari koordinasi yang terus berlangsung antara kedua negara. Trump memberikan pembaruan mengenai langkah-langkah militer AS di kawasan Teluk serta operasi terhadap aset-aset Iran.
Dalam kesempatan itu, Netanyahu juga memperingatkan Trump agar tidak menyetujui penjualan jet tempur F-35 kepada Turki.
Selain itu, Netanyahu membahas pernyataan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengenai Israel serta pentingnya pembentukan zona keamanan di sepanjang perbatasan Israel.
Meski komunikasi intensif terus berlangsung, seorang pejabat Gedung Putih memastikan belum ada rencana pertemuan langsung antara Trump dan Netanyahu dalam waktu dekat.
Di sisi lain, seorang pejabat AS menyatakan Washington masih berkomitmen mencari penyelesaian diplomatik dengan Iran. Pembicaraan teknis antara kedua pihak disebut masih terus berlangsung, meskipun situasi di lapangan kembali memanas akibat saling serang dalam beberapa hari terakhir.
Dengan serangan dan serangan balasan yang terus berlanjut, kekhawatiran terhadap meluasnya perang AS dan Iran semakin meningkat. Selain mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah, konflik ini juga berpotensi mengganggu keamanan jalur pelayaran internasional dan distribusi energi global melalui Selat Hormuz.





