UMBULHARJO,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Pertanian dan Pangan memprioritaskan pengembangan kultur jaringan tanaman pisang. Langkah ini diambil guna merespons permintaan masyarakat terhadap bibit pisang yang tinggi dibandingkan dengan jenis tanaman lainnya. Pemkot Yogyakarta juga terus melakukan penataan area Kebun Plasma Nutfah Pisang.

Menurut Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta Sukidi permintaan bibit tanaman pisang masih tinggi. Setiap tahun permintaan bibit pisang di Kebun Plasma Nutfah Pisang Yogyakarta berkisar 11.000 sampai 15.000. Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta sudah mencoba beberapa tanaman lain untuk diperbanyak dengan metode kultur jaringan. Misalnya tanaman anggrek, aglaonema, keladi dan kantong semar. Namun masyarakat tidak telalu berminat dengan tanaman hias tersebut.

“Kami masih prioritas pisang karena permintaan masyarakat masih tinggi. Terutama varietas tertentu seperti pisang Raja itu masih favorit,” kata Sukidi saat dikonfirmasi, Rabu (8/7/2026).

Kepala  Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta Sukidi  saat menunjukan tunas-tunas pisang yang dikembangkan dengan kultur jaringan .

Kebun Plasma Nutfah Pisang Yogyakarta itu kini memiliki sekitar 333 kultivar atau jenis pisang dari berbagai daerah di Indonesia dan beberapa negara. Koleksi itu antara lain Pisang Raja, Ambon, Kepok, Mas Raja, Sangga Buwana, Klutuk, Genderuwo, Lase, Morosebo, Jarum, Potho, Tanduk dan Cavendish. Pisang-pisang itu ditanam di Kebun Plasma Nutfah Pisang dengan luas sekitar 2 hektare.

Sukidi menegaskan Kebun Plasma Nutfah Pisang mempunyai misi utama untuk menyelamatkan kultivar atau varietas yang ada. Keberadaanya dijaga dan dilestarikan dengan ditanam di Kebun Plasma Nutfah Pisang. Namun perbanyakan tanaman dengan metode kultur jaringan dilakukan pada sejumlah varietas yang banyak diminati masyarakat.

“Raja Bagus, Raja Talun, Kepok Merah dan Putih, Ambon Lumut dan Ambon Amerika itu yang sering dicari masyarakat. Jadi kita memproduksi yang sering dicari,” paparnya.

Berbagai jenis pohon pisang ditanam untuk kelestarian di Kebun Plasma Nutfah Pisang.

Sukidi mengaku di tengah efisiensi anggaran belum menambah koleksi maupun mencari jenis pisang yang belum dimiliki. Dia menuturkan koleksi pisang dari berbagai daerah di Kebun Plasma Nutfah Pisang, awalnya didapatkan dengan mencari di daerah-daerah lain. Kemudian dikembangkan di Kebun Plasma Nutfah Pisang Yogyakarta.

Dia menegaskan perbanyakan bibit pisang dengan kultur jaringan dilakukan pada jenis-jenis pisang yang banyak dicari masyarakat. Adapun kultur jaringan adalah teknik perbanyakan tanaman dengan mengisolasi bagian tanaman (seperti sel atau jaringan) dan menumbuhkannya dalam media buatan yang steril. Keunggulan tanaman dari hasil kultur jaringan adalah benih yang dihasilkan seragam, jumlah banyak, dan bebas hama penyakit.

“Tren permintaan bibit pisang naik terus walaupun naiknya landai. Ada permintaan dari lokal Yogya. Yang banyak malah Jawa Timur. Lampung dan Kalimantan juga ada. Perbanyakan dari laboratorium kultur jaringan kita untuk sekarang masih mampu memenuhi permintaan itu. Kami juga kerja sama dengan Kementerian Pertanian untuk penyediaan bibit tanaman pisang ke seluruh Indonesia,” terang Sukidi.

Bibit-bibit pisang hasil dari perbanyakan dengan metode kultur jaringan di Kebun Plasma Nutfah Pisang Yogyakarta.

Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta juga dalam proses membangun pos jaga dan sekretariat para pekerja di Kebun Plasma Nutfah Pisang. Sukidi menyatakan pembangunan itu menggunakan anggaran dari dana keistimewaan (danais) DIY yang akhirnya turun menjadi Rp 1 miliar dari awalnya Rp 2,5 miliar. Danais juga untuk memperbaiki wajah kebun sekaligus untuk spot foto. Termasuk pengadaan alat autoclave untuk sterilisasi media tanam guna mendukung perbanyakan dengan metode kultur jaringan.