Sleman,REDAKSI17.COM – Olahraga bulutangkis dikenal sebagai permainan tentang kecepatan. Namun, siapa pun yang mengenalnya dengan baik akan paham jika kecepatan saja tidak pernah cukup. Kematangan atlet selalu diuji dalam setiap pertandingannya.
Demikian disampaikan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam sambutannya pada Pembukaan Kejuaraan Nasional Bulutangkis Piala Raja Hamengku Buwono X ke-2 Tahun 2026. Pada Selasa (15/09) di GOR Lembah UGM, Sri Sultan mengatakan, pada pertandingan bulutangkis terdapat kemampuan membaca ruang, menentukan waktu, mengambil keputusan, dan mengendalikan diri pada saat tekanan pertandingan sedang memuncak.
“Di sanalah kematangan seorang atlet diuji, pada kemampuan menguasai kok dan lapangan, sekaligus pada kemampuan menguasai dirinya sendiri. Piala Raja hendaknya menjadi ruang tumbuh bagi kematangan semacam itu. Kompetisi memang mencari yang terbaik. Tetapi proses menuju prestasi selalu mengandung nilai yang lebih panjang daripada hasil pertandingan,” ungkap Sri Sultan.
Sri Sultan mengatakan, dalam pertandingan bulutangkis, kecepatan perlu disertai pengendalian. Strategi akan memperoleh bentuknya, ketika seorang atlet berani mengambil keputusan pada saat yang tepat. Di dalam proses itulah disiplin ditempa, sportivitas dijaga, persahabatan dibangun, dan kehormatan seorang atlet dipertaruhkan.
“Kepada para atlet, bertandinglah dengan segenap kemampuan. Hormati lawan, dengarkan arahan pelatih, dan jagalah martabat pertandingan. Prestasi memang dapat mengantarkan seseorang menuju podium, namun karakterlah yang menentukan, apakah kehormatan tetap menyertainya ketika ia turun dari podium, imbuh Sri Sultan.
Sri Sultan pun berharap, dari kejuaraan ini akan lahir atlet-atlet yang tangguh dalam teknik, matang dalam mental, dan luhur dalam sikap. Atlet yang mampu menang tanpa kehilangan kerendahan hati, serta mampu menerima kekalahan tanpa kehilangan kehormatan.
“Sebab dalam olahraga, kemenangan tertinggi adalah ketika kemampuan dan keluhuran budi berjalan seiring. Semoga hari ini menjadi awal dari ikhtiar bersama, untuk prestasi bulutangkis Indonesia. Selamat bertanding, tunjukkan prestasi, junjung tinggi sportivitas,” tutup Sri Sultan.
Sekretaris PBSI, Ricky Subagja mengatakan, PBSI menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang setinggi-tingginya atas diselenggarakannya Kejurnas Bulutangkis Piala Raja ke-2 ini. Kejuaraan yang juga merupakan rangkaian kalender kejuaraan PBSI ini, bukan sekedar jadwal pertandingan, melainkan bagian dari sistem pembinaan prestasi bulutangkis nasional.
“Karena itu, kompetisi sudah seharusnya menjadi bagian dari yang tidak terpisahkan dari proses pembinaan. Pembinaan pun perlu dilakukan secara sistemik, terukur, berkelanjutan, dan berorientasi pada prestasi,” ungkapnya.
Ditegaskan Ricky, puncak setiap pertandingan bukanlah sekadar kemenangan. Setiap atlet harus bisa menjadikan setiap kekalahannya menjadi pembelajaran dan setiap kemenangannya menjadi motivasi untuk lebih baik. Untuk itu, pihaknya akan menggunakan seluruh rangkaian pertandingan di tahun 2026 ini sebagai bahan evaluasi guna menyempurnakan sistem kompetisi dan pembinaan PBSI di tahun-tahun berikutnya.
“Pada Piala Raja 2026 ini, sistem baru juga akan diimplementasikan, yakni sistem skor 3×15. Ini juga menjadi tahapan evaluasi sistem baru ini, karenanya saya mengajak seluruh atlet, pelatih, official, dan seluruh perangkat pertandingan untuk bisa mengikuti sistem baru ini dengan baik. Beri kami masukan secara efektif, karena kita ingin sistem bulutangkis semakin kompetitif, semakin berkualitas, dan pada akhirnya mampu memberikan kontribusi terbaik bagi peningkatan prestasi bulutangkis Indonesia,” paparnya.
Sebagai informasi, sistem skor baru bulutangkis 3×15 mengharuskan pemain atau pasangan pemain memenangi tiga permainan dengan target 15 poin setiap permainannya. Tujuan sistem ini agar waktu pertandingan lebih singkat, tempo lebih cepat, serta membantu pemulihan fisik pemain.
Sementara itu, Ketua PBSI DIY, KPH Yudanegara mengatakan, Kejurnas Bulutangkis Piala Raja Hamengku Buwono X ke-2 ini diikuti 2.817 atlet dari 26 provinsi, 532 klub bulutangkis. Dengan total pertandingan 3.081, Piala Raja 2026 memakai 28 lapangan badminton, diselenggarakan selama 6 hari, pada 15-20 September 2026, di tiga GOR.
“Jumlah yang luar biasa ini menunjukkan Piala Raja tidak hanya pertandingan bulutangkis, tapi menjadi ruang pertemuan semangat, prestasi, dan persaudaraan. Harapannya, suatu hari nanti dari deretan atlet yang bertanding di Piala Raja, bisa lahir juara nasional, juara Asia, juara dunia, bahkan juara Olimpiade yang mengibarkan bendera merah putih,” ungkapnya.
Dikatakan Yudanegara, di tahun sebelumnya, Piala Raja menorehkan rekor MURI sebagai kompetisi bulutangkis dengan jumlah peserta terbanyak di Indonesia. Rekor inipun berhasil dipertahankan, dengan penyelenggaraan Piala Raja ke-2 yang diikuti lebih banyak lagi peserta.
“Rencananya tahun depan, Piala Raja akan kami tingkatkan menjadi skala internasional. Kami berencana mengajak para peserta yang berasal dari Singapura, Malaysia, dan negara lainnya. Dan untuk atlet yang bertanding tahun ini, junjunglah sportivitas, bertandinglah dengan baik, hormati lawan dan wasit,” imbuhnya.
HUMAS DIY





