Beranda / Hikayat Seni dan Budaya / Prabu Surawisesa, Raja Gagah Yang Dilupakan

Prabu Surawisesa, Raja Gagah Yang Dilupakan

Raja Gagah yang Dilupakan, Legenda yang Disangka Dongeng

Oleh M. Basyir Zubair

Di balik kisah Mundinglaya Dikusumah yang dianggap sekadar legenda, tersembunyi sosok raja nyata yang terbukti dalam prasasti batu dan catatan armada Portugis. Surawisesa itulah namanya. Bukan tokoh dongeng. Raja yang memimpin 15 peperangan dan meninggalkan jejaknya di batu Bogor.

Pertanyaan yang Harus Kita Jawab Dulu

Sebelum kita melangkah lebih jauh: apakah Prabu Surawisesa itu benar-benar ada sebagai tokoh sejarah? Apakah Mundinglaya Dikusumah hanya karangan juru pantun, atau ada fakta sejarah di baliknya? Jawabannya mengejutkan. Surawisesa bukan hanya ada, dia meninggalkan bukti fisik yang bisa kita sentuh hari ini.

FAKTA

Prabu Surawisesa adalah raja Kerajaan Sunda (Pajajaran) yang memerintah sekitar 1521–1535 M, putra langsung Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi)

Prasasti Batutulis di Bogor dibuat tahun 1533 M atas perintah Surawisesa, sebagai penghormatan kepada ayahnya. Prasasti ini masih bisa dikunjungi hari ini.

Naskah Carita Parahyangan (Kropak 406, Museum Nasional Jakarta) menyebut Surawisesa dengan gelar ‘kasuran, kadiran, kuwamen’, gagah, berani, kuat, dan mencatat ia memimpin 15 pertempuran.

Perjanjian Sunda-Portugis (21 Agustus 1522) ditandatangani atas nama Raja Samio (Surawisesa) dengan utusan Portugis Henrique Leme di Sunda Kelapa. Padrao batu setinggi 165 cm ditemukan di kawasan Jakarta Barat sebagai monumen perjanjian ini.

Raja yang Mewarisi Kerajaan Terluka
Bayangkan ini: kamu mewarisi kerajaan terbesar di Jawa Barat, tapi musuhmu sudah ada di depan pintu. Itulah situasi Surawisesa ketika naik takhta tahun 1521 M, tepat setelah wafatnya Prabu Siliwangi yang legendaris. Di timur, Kesultanan Demak dan Cirebon semakin agresif. Pelabuhan-pelabuhan strategis, Sunda Kelapa, Banten, Cirebon, satu per satu terancam.

Carita Parahyangan, naskah lontar yang ditulis menjelang akhir abad ke-16, mencatat ini dengan lugas dan dingin:
“Prangrang limawelas kali hanteu eleh, ngalakukeun bala sariwu.” Berperang lima belas kali tidak pernah kalah, memimpin pasukan seribu.”

Lima belas peperangan. Seribu prajurit. Bukan dongeng, ini catatan naskah sejarah yang ditulis tidak lama setelah Pajajaran runtuh.

FAKTA

Carita Parahyangan (Kropak 406) adalah naskah Sunda Kuno yang terdiri dari 47 lembar lontar berukuran 21×3 cm, disimpan di Museum Nasional Jakarta.

Naskah ini pertama diteliti oleh K.F. Holle (1882), kemudian C.M. Pleyte, lalu dialihbahasakan oleh Poerbatjaraka. Edisi ilmiahnya dikerjakan oleh Noorduyn (1962, 1965), dan Edi S. Ekadjati.

Carita Parahyangan secara eksplisit menyebut nama Surawisesa dan mencatat perang-perangnya: ke Kalapa, Tanjung, Ancol, Wahanten Girang, Simpang, Gunungbatu, Saungagung, Rumbut, Gunung, Gunung Banjar, Padang, Panggoakan, Muntur, Hanum, Pagerwesi.

Langkah Gila: Bersekutu dengan Portugis

Di sinilah Surawisesa melakukan langkah yang, dari sudut pandang zamannya bisa disebut visioner, bisa juga kontroversial.

Tahun 1521, pasukan Demak dan Cirebon menekan Pajajaran habis-habisan. Sunda Kelapa terancam. Surawisesa tidak menunggu. Dia mengirim utusannya ke Malaka, saat itu sudah dikuasai Portugis dan membangun aliansi militer.

Hasilnya: Perjanjian Sunda-Portugis, ditandatangani 21 Agustus 1522. Isinya: Pajajaran memberi Portugis hak mendirikan benteng di Sunda Kelapa, Portugis membantu menghadang ekspansi Islam dari Demak dan Cirebon. Setiap tahun Pajajaran menyerahkan riba rempah-rempah, ditukar dengan senjata.

FAKTA

Perjanjian Sunda-Portugis (1522) ditulis dalam dua rangkap, dipegang masing-masing pihak. Ini adalah perjanjian diplomatik pertama yang terdokumentasi antara kerajaan Nusantara dan bangsa Eropa di wilayah Jawa Barat.

Padrao (tugu peringatan) dari batu setinggi 165 cm ditemukan saat penggalian fondasi gudang di pojok Prinsenstraat (kini Jalan Cengkih) dan Groenestraat (Jalan Kali Besar Timur I), Jakarta Barat.

Perjanjian ini melibatkan perwakilan Portugis bernama Henrique Leme, atas persetujuan Gubernur Malaka.

KAJIAN ILMIAH

Para sejarawan berbeda pandang soal motivasi Surawisesa. Sebagian menilai ini sebagai pragmatisme cerdas: menggunakan kekuatan asing untuk mempertahankan kedaulatan. Sebagian lain melihatnya sebagai kekeliruan strategis yang membuka celah bagi kolonialisme.

Yang jelas secara historis: benteng Portugis di Sunda Kelapa tidak pernah terwujud. Pada 1527, Fatahillah (atas nama Demak dan Cirebon) merebut Sunda Kelapa sebelum Portugis sempat membangun benteng, dan mengganti namanya menjadi Jayakarta.

Setelah kekalahan di Sunda Kelapa, Surawisesa mendirikan Prasasti Batutulis (1533), sebuah tindakan yang oleh beberapa sejarawan ditafsirkan sebagai upaya mencari kekuatan leluhur di tengah tekanan besar.

Mundinglaya Dikusumah: Antara Pantun dan Sejarah

Sekarang kita masuk ke wilayah yang lebih rumit. Kisah Mundinglaya Dikusumah adalah cerita pantun Sunda: tradisi lisan yang dinyanyikan oleh juru pantun turun-temurun. Pertanyaannya: apakah ini fiksi semata, ataukah metafora dari peristiwa sejarah nyata?

“Surawisesa dalam kisah tradisional lebih dikenal dengan sebutan Guru Gantangan atau Mundinglaya Dikusumah.”
Sumber sejarah Sunda

Tradisi sejarah Sunda dikonfirmasi oleh beberapa sumbeR, mengidentifikasi Surawisesa dengan tokoh Guru Gantangan atau Mundinglaya Dikusumah dalam cerita pantun. Permaisurinya, Kinawati, disebut berasal dari Kerajaan Tanjung Barat (kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan sekarang).

Akademisi Jakob Sumardjo bahkan mengajukan tafsir menarik: kisah Mundinglaya naik ke jabaning langit adalah metafora diplomatik, menggambarkan perjanjian antara Pajajaran dengan Portugis di Malaka. ‘Layang Salaka Domas’ yang dicari adalah simbol legitimasi dan keselamatan negara.

KAJIAN ILMIAH

Apakah Surawisesa = Mundinglaya Dikusumah? Ini masih diperdebatkan. Beberapa sumber menyamakannya, beberapa mengidentifikasinya sebagai Guru Gantangan (kakak tiri Mundinglaya dalam cerita pantun). Carita Parahyangan TIDAK secara eksplisit menyebut nama ‘Mundinglaya’.

Babad Pajajaran (yang lebih tepat disebut Wawacan Guru Gantangan) memiliki inti kisah yang sangat mirip dengan lakon Mundinglaya Dikusumah, termasuk mimpi Prabu Siliwangi, perjalanan ke langit, dan menaklukkan Jonggrang Kalapitung.

Tafsir Jakob Sumardjo (Pikiran Rakyat, 2001) menarik tapi bersifat spekulatif dan tidak bisa diverifikasi secara arkeologis.

Sumber Pantun: Rekaman Lisan yang Dijaga

Cerita pantun Mundinglaya Dikusumah bukan sekadar cerita dari mulut ke mulut yang liar. Ada upaya ilmiah untuk mendokumentasikannya.

FAKTA

Proyek Penelitian Pantun dan Folklore Sunda (1970) menerbitkan Mundinglaya Di Kusumah berdasarkan rekaman juru pantun Ki Aceng Tamadipura dari Situ Raja, Sumedang.

Lembaga Kesenian Universitas Pajajaran (Bandung, 1974) menerbitkan versi berdasarkan rekaman juru pantun Ki Enjum dari Ujungberung, Kabupaten Bandung.

Penelitian akademis tentang nilai-nilai dalam cerita pantun ini juga dilakukan oleh Dedi Koswara, Dingding Haerudin, dan Ruswendi Permana (UPI Bandung), diterbitkan dalam Journal of Education Research.

Artinya: pantun ini bukan sekadar dongeng sembarang, ia adalah tradisi lisan yang dirawat, direkam, dan diteliti. Ini adalah sastra lisan yang memiliki nilai etnografis dan historis, meski kandungan faktualnya perlu disaring dari lapisan mitologisnya.

Makna yang Lebih Dalam: Jabaning Langit Ada di Hatimu

Ada satu momen dalam kisah Mundinglaya yang paling menghentak. Ketika Jonggrang Kalapitung sang raksasa penjaga, berkali-kali ditanya: ‘Di mana jabaning langit?’
Jawabannya selalu sama:
“Jabaning langit ada di hatimu.”

Ini bukan dongeng tentang raja yang mencari jimat. Ini adalah perjalanan batin. Tradisi Sunda kuno mengajarkan bahwa otoritas tertinggi, layang salaka domas, simbol kebenaran dan legitimasi hanya bisa ditemukan di dalam diri, bukan di luar.

Dan Mundinglaya sang raja muda yang dipenjara, difitnah, hampir dikorbankan menemukan itu. Bukan karena kekuasaan atau kekuatan, tapi karena budi yang luhur.

Itulah mengapa, kata tradisi Sunda, hanya Mundinglaya yang sanggup. Bukan Sunten Jaya yang angkuh. Bukan para bangsawan yang diam. Hanya yang bersih hatinya.

Prasasti Batutulis: Batu yang Bicara
Kembali ke fakta keras. Di Jalan Batu Tulis No. 54, Bogor Selatan, ada sebuah kompleks bersejarah. Di sana berdiri Prasasti Batutulis, batu andesit berisi aksara Sunda Kuno, yang dibuat tahun 1533 M atas perintah Surawisesa.
Isi prasasti ini adalah pujian kepada Prabu Siliwangi, sang ayah. Ada juga batu tapak, cetakan telapak kaki Surawisesa, dan batu lingga, bekas tongkat pusaka Pajajaran.
Bayangkan: raja yang sedang kalah perang, kehilangan pelabuhan terpentingnya, membuat prasasti bukan untuk merayakan kemenangan, tapi untuk mengenang leluhur. Untuk memohon kekuatan.

FAKTA

Prasasti Batutulis (1533 M) dibuat oleh Surawisesa sekitar 12 tahun setelah wafatnya Prabu Siliwangi (1521 M). Ini sesuai dengan tradisi srada, upacara penyempurnaan sukma yang dilakukan 12 tahun setelah kematian seorang raja.

Dalam kompleks Batutulis terdapat: prasasti utama beraksara Sunda Kuno, astatala (batu cetakan telapak tangan), padatala (batu cetakan telapak kaki), dan batu lingga.

Dari segi epigrafi, Prasasti Batutulis adalah bukti autentik keberadaan Kerajaan Pajajaran dan sistem penulisan aksara Sunda yang berkembang pada masa itu.

Batas Klaim: Apa yang Kita Tahu, Apa yang Kita Tidak Tahu

TERBUKTI SECARA HISTORIS: Prabu Surawisesa adalah tokoh nyata, terdokumentasi dalam Carita Parahyangan dan Prasasti Batutulis (1533 M).

TERBUKTI SECARA ARKEOLOGIS: Kompleks Prasasti Batutulis dan Padrao Sunda-Portugis adalah artefak fisik yang bisa diverifikasi.

TRADISI LISAN TERDOKUMENTASI: Kisah pantun Mundinglaya Dikusumah telah direkam dan diteliti secara akademis sejak 1970.

MASIH DIPERDEBATKAN: Identifikasi Surawisesa = Mundinglaya Dikusumah. Ini tafsir historis yang masih dalam perdebatan ilmiah.

TIDAK BISA DIVERIFIKASI: Tafsir Jakob Sumardjo bahwa kisah Mundinglaya adalah metafora perjanjian Sunda-Portugis adalah hipotesis menarik, bukan fakta yang terbukti.

BELUM ADA DATA: Lokasi fisik keraton Surawisesa di Pakuan Pajajaran (Bogor kuno) belum sepenuhnya teridentifikasi secara arkeologis.

Epilog: Raja yang Tidak Menyerah

Surawisesa tidak pernah merebut kembali Sunda Kelapa. Dia tidak berhasil membangun aliansi Portugis menjadi kekuatan nyata. Pajajaran yang dia tinggalkan masih terus bertempur, dan akhirnya runtuh beberapa dekade setelahnya.

Tapi dia tidak menyerah. Lima belas peperangan. Prasasti yang mengagungkan leluhur di tengah kekalahan. Perjanjian diplomatik pertama antara Nusantara dan Eropa.
Dan dalam tradisi lisan yang dijaga turun-temurun, dia hidup kembali sebagai Mundinglaya, sang pangeran yang mencari kebenaran di jabaning langit, dan menemukan bahwa langit itu ada di dalam dadanya sendiri.

“Ratu gagah perkosa, teguh jeung gede wawanen.”
Carita Parahyangan tentang Surawisesa

“Raja yang gagah perkasa, teguh dan besar keberaniannya.”

Sejarah dan legenda bukan dua hal yang selalu bertentangan. Kadang keduanya bercerita tentang orang yang sama, dengan bahasa yang berbeda.

SUMBER & REFERENSI

Sumber Primer:
• Carita Parahyangan (Kropak 406), naskah lontar Sunda Kuno, akhir abad ke-16, koleksi Museum Nasional Jakarta. Diteliti oleh K.F. Holle (1882), C.M. Pleyte, Poerbatjaraka, Noorduyn (1962, 1965), Edi S. Ekadjati & Undang A. Darsa.
• Prasasti Batutulis (1533 M), Bogor Selatan, artefak epigrafi aksara Sunda Kuno.
• Padrao Sunda-Portugis (1522 M), ditemukan di kawasan Kali Besar, Jakarta Barat.
Sumber Pantun & Sastra Lisan:
• Proyek Penelitian Pantun dan Folklore Sunda (1970), rekaman Ki Aceng Tamadipura, Sumedang.
• Lembaga Kesenian Universitas Pajajaran (1974), rekaman Ki Enjum, Ujungberung, Bandung.
• Koswara, Dedi, Dingding Haerudin, Ruswendi Permana. ‘Nilai-nilai Pendidikan Karakter Bangsa dalam Khazanah Sastra Sunda Klasik: Transformasi dari Kelisanan ke Keberaksaraan Carita Pantun Mundinglaya Di Kusumah.’ Journal of Education Research, UPI Bandung.
Kajian Modern:
• Sumardjo, Jakob. ‘Perjalanan Mundinglaya.’ Harian Umum Pikiran Rakyat, Bandung, 13 Januari 2001.
• Heryana, Agus. ‘Jejak Kepemimpinan Orang Sunda: Pemaknaan Ajaran dalam Naskah Carita Parahyangan (1580).’ Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research, vol. 6, no. 2, 2014.

M. Basyir Zubair (EMBAS) | Kotagede, Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *