Beranda / Daerah / Warga Padukuhan Kembang Gelar Tradisi Rasulan di Sendang Beji, Syukur Atas Panen Melimpah dan Pelestarian Budaya

Warga Padukuhan Kembang Gelar Tradisi Rasulan di Sendang Beji, Syukur Atas Panen Melimpah dan Pelestarian Budaya

Gunungkidul,REDAKSI17.COM – Warga Padukuhan Kembang, Kalurahan Sumberejo, Kapanewon Semin, Kabupaten Gunungkidul, Selasa malam, (28/7/2026) menyelenggarakan perayaan Bersih Dusun atau Rasulan yang dipusatkan di Sendang Beji. Acara yang berlangsung meriah ini menjadi momentum bagi masyarakat setempat untuk mengungkapkan rasa syukur atas berkah kesehatan dan hasil panen yang melimpah.

Acara ini dihadiri langsung oleh Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, didampingi oleh anggota DPRD Gunungkidul Untung Ardianto, jajaran pemerintah Kapanewon Semin, serta Lurah setempat. Tidak hanya dihadiri warga lokal, para perantau dari kota-kota besar seperti Jakarta dan Semarang juga turut hadir untuk menjalin tali silaturahmi di tanah kelahiran mereka.

Ketua panitia, Warto, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada seluruh warga, baik yang menetap di desa maupun yang di perantauan, atas dukungan materiil dan tenaga demi terlaksananya acara ini. Ia juga melaporkan kondisi pertanian warga yang sangat baik tahun ini, di mana hasil panen jagung mencapai tiga kali.

Panitia menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Gunungkidul atas perbaikan infrastruktur jalan dari Logantung menuju lokasi acara yang kini sudah dalam kondisi halus.

“Warga di sini sangat senang bergotong-royong. Jika ada bantuan dana, mereka siap bekerja bakti tanpa harus dibayar,” ujar Warto.

Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih dalam sambutan resminya menekankan bahwa tradisi Rasulan bukan sekadar ritual rutin, melainkan sarana penting untuk nguri-uri (melestarikan) kebudayaan Jawa. Mengutip pesan Bung Karno tentang “Jasmerah” (Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah), Bupati mengingatkan pentingnya menjaga identitas dan kepribadian bangsa melalui adat lokal.

Malam perayaan tersebut dimeriahkan oleh grup Campursari Buntur Madu. Panitia menegaskan bahwa rangkaian acara masih akan berlanjut pada hari berikutnya dengan pertunjukan seni Reog, Jathilan, dan ditutup dengan pagelaran Wayang Kulit (Ringgit) pada malam harinya.

Warga dihimbau untuk tetap menjaga ketertiban selama acara berlangsung. Panitia juga menekankan pentingnya keamanan dengan memberikan aturan tegas bagi siapapun yang membuat keributan agar tetap menjaga marwah acara tasakuran ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *