Jakarta,REDAKSI17.COM – Pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa dari jabatan Menteri Keuangan tidak serta-merta membuat perjalanan politiknya berakhir. Justru, menurut Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Doktor Dedi Kurnia Syah Putra, Purbaya masih memiliki modal yang dapat membawanya ke panggung politik lebih besar pada 2029.
Dedi melihat ada dua kekuatan yang melekat pada Purbaya, yakni pengalaman sebagai birokrat teknokratis di lembaga sentral dan kedekatan emosional dengan masyarakat kelas bawah. Kombinasi tersebut dinilai dapat menjadi bekal apabila Purbaya memilih melanjutkan kiprahnya di dunia politik.
“Purbaya memadukan dua modal utama, dia berpengalaman sebagai birokrat teknokratis di lembaga sentral, sekaligus memiliki ikatan emosional yang kuat dengan masyarakat kelas bawah,” katanya.
Popularitas Purbaya memang telah menjadi salah satu sorotan sebelum dirinya dicopot. Dalam survei IPO yang dirilis Agustus 2026, Purbaya tercatat sebagai figur dengan persepsi kinerja terbaik di antara menteri Kabinet Merah Putih, sekaligus termasuk figur dengan popularitas tinggi.
“Purbaya berhasil merebut hati publik karena komunikasinya yang ceplos-ceplos, jujur, dan tidak berjarak. Pejabat bersikap elit sudah sangat membosankan bagi publik. Ketika Purbaya dicabut, dukungan publik kepada kementerian dan skema kebijakan keuangan negara otomatis akan bergeser,” terang Dedi.
Alhasil, menurut Dedi, pencopotannya justru dapat menjadi titik baru dalam perjalanan politik Purbaya. Apabila simpati publik berhasil dikonsolidasikan setelah tidak lagi berada di kabinet, ruang politik yang dimilikinya dapat semakin terbuka.
“Proses pemecatan yang terkesan tidak lazim ini justru bisa menjadi bumerang politik dan membuat Purbaya berpotensi menjelma sebagai kekuatan perlawanan politik baru,” ujarnya.
Di luar popularitas, Dedi juga melihat rekam jejak Purbaya selama berada di Kementerian Keuangan sebagai bagian dari modal politiknya.
Purbaya disebut melakukan efisiensi anggaran, merombak struktur pejabat di Direktorat Jenderal Pajak serta Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, dan membenahi persoalan sistem integrasi pajak atau coretax.
Dengan kinerja dan tingkat penerimaan publik yang tinggi, Dedi melihat Purbaya memiliki peluang untuk menjadi figur alternatif dalam kontestasi politik 2029, meski hal itu tetap bergantung pada langkah politik yang akan diambilnya.
“Jika ia memutuskan terus berada di panggung politik dan mendapatkan dukungan dari partai politik independen seperti PDI Perjuangan yang butuh karakter populis baru, Purbaya bisa menjadi penyeimbang utama bagi tokoh-tokoh politik dominan lainnya di 2029,” imbuh Dedi.





