Negara Kita Punya Banyak Upacara Tapi Belum Punya Keberanian untuk Meruwat
M. Basyir Zubair (Embas) | Arkeolog, Penulis Sejarah Populer
Ada yang selalu saya temukan setiap kali menggali tanah di bekas pusat nagari besar : lapisan abu, lapisan kekosongan lalu, selalu lapisan kehidupan baru di atasnya. Tidak pernah sekalipun dalam catatan arkeologi Nusantara sebuah nagari hancur lalu tidak ada yang membangun kembali. Selalu ada yang kembali. Selalu ada yang bertahan. Selalu ada yang meneruskan.
Tapi sebelum kebangkitan itu tiba, ada yang harus dilakukan lebih dulu. Ada yang harus diucapkan dengan jujur. Ada yang harus diakui. Dan inilah yang tradisi Jawa sebut dengan satu kata yang sederhana namun berat: ruwat.
Maka tulisan ini bukan tentang ritual semata. Ini tentang pertanyaan yang lebih keras dan lebih penting: ketika nagari limbung, apa yang seharusnya dilakukan oleh budaya?
Nagari Bukan Negara
Kita perlu memulai dari sini karena hampir semua diskusi tentang ruwat nagari tersandung di awal, terjebak menyamakan nagari dengan negara dalam pengertian modern.
Nagari bukan pemerintah. Bukan institusi. Bukan undang-undang. Bukan KTP. Dalam kosmologi Jawa, nagari adalah kesatuan organik dari tiga unsur yang tidak bisa dipisahkan tanpa menghancurkan keseluruhannya.
Pertama, bumi dan alam : tanah, air, gunung, hutan, sungai, seluruh ruang hidup yang menjadi fondasi.
Kedua, manusia dan komunitas : kawula dengan segala ikatan sosialnya, moralnya, spiritualnya.
Ketiga, pemimpin dan tatanan : siapapun yang menjadi poros keseimbangan antara dua unsur pertama tadi.
Nagari sehat ketika ketiganya harmonis. Nagari sakit ketika salah satunya atau ketiganya keluar dari orbit. Dan inilah mengapa ruwat nagari jauh lebih kompleks dari ruwatan individual. Anda tidak bisa meruwat nagari hanya dengan satu ritual semalam. Nagari adalah sistem. Menyembuhkan sistem berarti menyentuh semua lapisannya sekaligus.
TIGA UNSUR NAGARI DALAM KOSMOLOGI JAWA
Bumi dan alam : tanah, air, gunung, hutan, fondasi kehidupan
Manusia dan komunitas : kawula dengan ikatan sosial, moral, dan spiritual
Pemimpin dan tatanan : poros yang menjaga keseimbangan dua unsur di atas
Nagari sehat ketika ketiganya harmonis. Nagari sakit ketika salah satunya atau ketiganya limbung.
Trikali: Waktu Bukan Garis Lurus
Ada perbedaan mendasar antara cara pandang modern dan cara pandang Jawa tentang waktu. Modernitas mengajarkan bahwa waktu bergerak lurus dari primitif ke maju, dari gelap ke terang, dari masa lalu ke masa depan yang selalu lebih baik. Kemajuan adalah keniscayaan. Kemunduran adalah anomali yang harus segera dikoreksi.
Kosmologi Jawa, yang mewarisi tradisi Hindu-Buddha dan kemudian diformulasikan ulang oleh para pujangga Islam Jawa seperti Ranggawarsita, mengajarkan sesuatu yang berbeda dan lebih jujur tentang ritme peradaban: waktu berputar. Ada siklus. Ada puncak, ada lembah, ada kejatuhan, ada kebangkitan. Ini bukan pesimisme. Ini realisme kosmologis yang terbukti berulang kali dalam lapisan tanah yang saya gali.
Trikali, Tri berarti tiga, Kali berarti waktu atau putaran, adalah tiga fase kosmik yang membentuk satu siklus besar peradaban. Tiga fase itu memiliki nama, dan siapapun yang hidup hari ini kiranya bisa mengenali dirinya di salah satunya.
Kali Suwara adalah zaman suara. Zaman ketika manusia dikuasai oleh kata-kata, narasi, dan opini. Kebenaran menjadi komoditas yang diperjualbelikan. Informasi melimpah ruah, tapi kebijaksanaan justru langka. Nagari riuh oleh suara, tapi sepi dari makna.
Kali Yoga adalah zaman spiritual yang tersesat. Manusia ramai-ramai mencari jalan batin, tapi sering tersangkut di formalisme dan simbolisme tanpa isi. Laku batin digantikan oleh penampilan laku batin. Agama menjadi identitas sosial, bukan jalan pulang ke diri sendiri.
Dan Kali Sangara, inilah ujungnya. Zaman banjir dan bencana. Fase ketika alam bereaksi terhadap akumulasi kerusakan moral dan ekologis yang menumpuk di dua zaman sebelumnya. Bencana datang bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai proses yang dalam tradisi Syiwa disebut Pralina, penghancuran untuk restorasi. Moralitas di titik nadir. Tatanan nagari limbung. Di sinilah Trikali mencapai ujungnya dan titik balik dimulai.
Saya tidak perlu menjelaskan di mana kita berada sekarang. Anda bisa menilai sendiri.
Yang perlu saya tambahkan sebagai arkeolog adalah ini: Pralina bukan hanya metafora spiritual. Ia terbukti dalam lapisan tanah. Setiap peradaban besar yang pernah runtuh meninggalkan lapisan abu, lapisan kekosongan lalu lapisan kehidupan baru di atasnya. Selalu. Tanpa kecuali. Pola ini berulang dan terverifikasi.
Maka pertanyaannya bukan apakah ini akan berakhir. Sejarah sudah menjawab: ya, pasti berakhir. Pertanyaannya adalah apa yang kita lakukan selama masa Pralina ini berlangsung?
TIGA FASE TRIKALI
Kali Suwara : Zaman suara dan isu. Kebenaran jadi komoditas. Nagari riuh tapi sepi makna.
Kali Yoga : Zaman spiritual yang tersesat. Formalisme menggantikan laku batin.
Kali Sangara : Zaman banjir dan bencana. Pralina: penghancuran menuju restorasi. Kita ada di sini.
Ranggawarsita Sudah Memperingatkan Kita
Jauh sebelum kita lahir, seorang pujangga besar Jawa sudah merumuskan dengan sangat jujur dan sangat berani kondisi yang kita hadapi hari ini.
Raden Ngabehi Ranggawarsita menulis Serat Kalatidha di tengah kejatuhan martabat nagari Jawa di bawah kolonialisme abad ke-19. Di sana ia menggambarkan Kalabendu, masa ketika kekuatan destruktif waktu sedang dalam puncaknya. Kala artinya waktu dan kekuatan gelap. Bendu artinya murka. Kalabendu adalah masa ketika tatanan moral dan tatanan sosial sama-sama limbung.
Tanda-tandanya menurut Ranggawarsita: pemimpin tidak lagi menjadi teladan moral, justru menjadi sumber kebingungan. Orang bijak tersingkir, orang pandai bicara tanpa isi justru mendapat tempat. Ukuran keberhasilan bergeser dari kebajikan ke kekayaan dan kekuasaan semata. Masyarakat kehilangan pegangan, bingung membedakan mana yang benar dan mana yang sekadar ramai.
Dan lalu ia menulis bait yang tidak pernah usang itu:
Amenangi zaman édan, éwuhaya ing pambudi, mélu ngédan nora tahan, yèn tan mélu anglakoni, boya kaduman mélik.
Ranggawarsita, Serat Kalatidha
Artinya kira-kira: Hidup di zaman edan, sulit mencari jalan. Ikut edan tidak tahan, kalau tidak ikut-ikutan, tidak kebagian.
Ini bukan keputusasaan. Ini adalah deskripsi yang sangat jujur tentang dilema moral orang yang hidup di tengah kalabendu. Ranggawarsita menulis ini dua abad yang lalu. Ia menulis bukan untuk meratap tapi untuk memberi peta.
Empat Cara Leluhur Meruwat Nagari
Inilah bagian yang paling penting. Karena kalau hanya bicara tentang krisis, kita hanya menambah beban. Yang perlu dibawa pulang adalah ini: apa yang terbukti berhasil dalam sejarah?
Membaca catatan sejarah nagari Jawa dari runtuhnya Majapahit, pecahnya Mataram, hingga masa kolonial panjang ada pola yang konsisten. Empat bentuk ruwat nagari yang selalu muncul setiap kali nagari dalam krisis besar.
Pertama: ritual pemulihan kosmik. Setiap pergantian besar tatanan selalu diikuti ritual yang sifatnya bukan sekadar seremonial. Labuhan keraton, ruwatan wilayah, selamatan bumi, ini adalah cara komunitas menyatakan: kami mengakui ada yang rusak, dan kami berkomitmen memulihkannya.
Arkeologis, kita membaca ini dari peningkatan intensitas ritual di situs-situs tertentu di masa krisis. Ini bukan pelarian dari realitas. Ini mobilisasi spiritual kolektif.
Kedua: produksi teks dan pengetahuan. Setiap kali nagari dalam krisis, para pujangga Jawa justru semakin produktif. Serat Centhini lahir di masa Mataram tercerai-berai pasca Giyanti. Serat Kalatidha lahir di masa kejatuhan martabat keraton di bawah kolonial. Ini bukan kebetulan. Produksi pengetahuan adalah cara nagari melawan amnesia yang selalu menyertai krisis, memastikan bahwa ingatan kolektif tentang siapa kita, dari mana kita, apa yang kita pegang, tetap hidup.
Ketiga: penguatan komunitas akar. Pelajaran arkeologis yang paling konsisten: nagari tidak pernah dipulihkan dari atas ke bawah saja. Ia selalu dipulihkan dari komunitas akar, dari desa, dari pesantren, dari pasar, dari rumah-rumah warga yang terus menjaga tradisi ketika istana sudah tidak bisa diandalkan. Ketika VOC menghancurkan tatanan Mataram, yang bertahan bukan keraton melainkan jaringan komunitas pedesaan dengan tradisi gotong royong dan ritual bersama yang tidak bisa dibeli oleh VOC.
Keempat: keyakinan pada ratu adil. Dalam setiap siklus kalabendu, tradisi Jawa selalu menyertakan harapan tentang ratu adil, pemimpin yang datang membawa pemulihan. Tapi ratu adil dalam tradisi Jawa bukan sekadar tokoh politis yang kita tunggu sambil duduk. Ia adalah simbol kosmologis bahwa setelah masa gelap, ada masa terang. Bahwa siklus tidak berakhir di titik terbawahnya. Dan tugas komunitas adalah mempersiapkan diri untuk menyambut dan mendukung titik balik itu.
EMPAT BENTUK RUWAT NAGARI YANG TERBUKTI HISTORIS
① Ritual pemulihan kosmik : mobilisasi spiritual kolektif, bukan sekadar seremonial
② Produksi teks dan pengetahuan : melawan amnesia dengan menulis dan mendokumentasikan
③ Penguatan komunitas akar : desa dan komunitas kecil sebagai fondasi ketika atas limbung
④ Keyakinan aktif pada ratu adil : bukan menunggu, tapi mempersiapkan diri untuk titik balik
Dari Labuhan hingga 17 Agustus: Praktik Nyata yang Kita Miliki
Ruwat nagari bukan hanya konsep masa lalu. Ia hadir hari ini, di berbagai level kehidupan, meskipun sering tidak kita sadari sebagai ruwat.
Di tingkat keraton, labuhan adalah bentuknya yang paling monumental. Sultan Yogyakarta setiap tahun melakukan labuhan ke Merapi, ke Laut Selatan, ke Gunung Lawu. Ini bukan sekadar tradisi estetis untuk wisatawan. Ini ruwat nagari dalam format kenegaraan, Sultan sebagai perantara antara komunitas manusia dan kekuatan kosmis yang mendiami wilayah Mataram, memperbarui kontrak antara nagari dan bumi tempat nagari itu berdiri. Sekaten juga peringatan Maulid yang sekaligus ritual pemulihan relasi keraton dengan kawula dan bumi Mataram.
Di tingkat desa, praktik ini justru paling hidup dan paling jujur. Bersih desa: membersihkan makam leluhur desa, selamatan di perempatan, di mata air, di pohon besar yang dianggap penjaga wilayah. Nyadran: ziarah kubur massal sebelum Ramadan, memperbarui hubungan dengan leluhur sebagai penjaga nagari. Merti dusun: syukuran panen sebagai pengakuan bahwa bumi yang memberi, bukan semata kerja manusia. Semua ini adalah ruwat nagari dalam skala yang kita jalani sehari-hari, sering tanpa menyadarinya.
Lalu bagaimana dengan negara RI? Ini pertanyaan yang menarik, dan jawabannya agak menyedihkan.
Secara struktural ada beberapa praktik yang bisa dibaca sebagai ruwat nagari. Upacara 17 Agustus adalah ritual pemulihan ingatan kolektif, meskipun substansinya semakin tipis, semakin seremonial dari tahun ke tahun. Ziarah Presiden ke TMP Kalibata, ke makam Bung Karno di Blitar, secara kosmologis ini adalah memperbarui hubungan dengan leluhur nagari. Tabur bunga di laut pada momen tertentu, sesungguhnya adalah labuhan versi republik.
Tapi ada satu hal yang tidak dimiliki negara RI, dan ini yang paling mendasar dari ruwat dalam pengertian sejati. Negara kita tidak punya ritual pengakuan kesalahan kolektif. Jepang punya. Jerman punya. Tapi RI belum, untuk tragedi 1965, untuk kekerasan yang berlangsung lama di berbagai wilayah, untuk korupsi sistemik puluhan tahun.
Meruwat berarti mengakui dulu apa yang sakit. Menamai kerusakannya dengan jujur. Berkomitmen memulihkannya. Dan itulah yang paling sulit dilakukan oleh kekuasaan, di manapun dan kapanpun.
PRAKTIK NYATA RUWAT NAGARI ADA DAN TIDAK ADA
Keraton : Labuhan Merapi, Laut Selatan, Gunung Lawu, Sekaten
Desa : Bersih desa, Nyadran, Merti dusun, selamatan mata air dan perempatan
Republik : 17 Agustus, ziarah makam pahlawan, ada ritualnya, tapi belum ada pengakuan kolektif atas luka sejarah
Yang belum ada : Ritual pengakuan dan pemulihan atas tragedi 1965, kekerasan wilayah, korupsi sistemik
Empat Pertanyaan untuk Dibawa Pulang
Jika kita serius dengan tradisi ruwat nagari, bukan sekadar ritualnya tapi substansinya, ada empat pertanyaan yang perlu dijawab dengan jujur oleh siapapun yang mengaku peduli pada nagari ini.
Pertama: apakah kita sudah mengidentifikasi dengan jujur apa yang sakit dalam nagari kita hari ini? Bukan menyalahkan siapapun tapi mendiagnosis dengan berani dan jernih, seperti seorang tabib yang memeriksa pasien tanpa takut hasil diagnosisnya.
Kedua: ritual apa yang kita lakukan, dan apakah ritual itu menyentuh akar masalah, atau hanya merawat permukaan? Apakah kita meruwat dengan pemahaman, atau sekadar menjalankan prosesi yang sudah kehilangan rohnya?
Ketiga: siapa yang sedang menjaga pengetahuan dan ingatan kolektif kita? Siapa pujangga zaman ini yang menulis, mendokumentasikan, meneruskan, ketika banyak yang lebih memilih diam atau menyerah pada keramaian yang tidak bermakna?
Dan keempat: komunitas akar mana yang perlu kita perkuat hari ini, agar ketika tatanan atas terus limbung, tatanan bawah tetap kokoh? Karena sejarah sudah membuktikan, pemulihan tidak datang dari atas. Ia tumbuh dari bawah.
Lapisan yang Kita Tinggalkan
Izinkan saya menutup dengan satu pengamatan dari lapangan arkeologi dari pekerjaan nyata di tanah.
Setiap kali menggali situs yang pernah menjadi pusat nagari besar dan menemukan lapisan keruntuhannya, yang selalu paling menarik bukan kehancurannya. Yang menarik adalah lapisan di atasnya. Tanda-tanda bahwa setelah kehancuran itu, kehidupan kembali. Perapian baru dinyalakan. Sumur baru digali. Bangunan baru didirikan di atas reruntuhan yang lama.
Tidak pernah, dalam seluruh catatan arkeologi Nusantara, sebuah nagari hancur lalu tidak ada yang membangun kembali. Selalu ada yang kembali. Selalu ada yang bertahan. Selalu ada yang meneruskan.
Maka pertanyaannya bukan: apakah nagari ini akan bertahan? Sejarah dan arkeologi sudah menjawab itu, ia akan bertahan. Pertanyaannya adalah: siapa di antara kita yang akan menjadi lapisan berikutnya? Yang kelak ditemukan oleh arkeolog dua ratus tahun dari sekarang, sebagai bukti bahwa di masa kalabendu ini, ada orang-orang yang tidak menyerah, yang terus menjaga, yang terus meruwat.
Ruwat nagari bukan ritual semalam. Ia adalah komitmen panjang, untuk terus mengenali apa yang rusak, terus bekerja memulihkannya, dan terus meneruskan ingatan tentang mengapa nagari ini layak untuk dipertahankan.
Referensi
Ranggawarsita. Serat Kalatidha, teks kunci tentang zaman edan dan kalabendu
Ranggawarsita. Serat Jaka Lodhang, jangka dan ramalan nagari Jawa
H.J. de Graaf. Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa (1974)
Soemarsaid Moertono. State and Statecraft in Old Java (1968)
Benedict Anderson. Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia (1990)
Serat Centhini. Ensiklopedia Jawa pasca-Giyanti
M. Basyir Zubair (Embas) | Arkeolog & Penulis Sejarah Populer | IAAI Yogyakarta
Kotagede, Yogyakarta | 06 Juni 2026





