Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, mengingatkan para siswa SMA/SMK di Daerah Istimewa Yogyakarta bahwa masa depan daerah berada di tangan generasi muda. Karena itu, para pelajar diharapkan mampu menjaga diri, memilih lingkungan pergaulan yang positif, serta menjauhi berbagai bentuk kenakalan remaja yang dapat menghambat masa depan mereka.
Hal demikian disampaikan Ni Made saat membacakan amanat Gubernur DIY pada Upacara Bendera dan Deklarasi Bersama Warga Sekolah SMA/SMK Se-DIY, di SMA Negeri 1 Yogyakarta, Senin (20/07). Kehadiran Ni Made sebagai pembina upacara kali ini, merupakan bagian dari gerakan serentak Pemerintah Daerah DIY untuk memperkuat pembinaan karakter pelajar sebagai tindak lanjut Instruksi Gubernur DIY Nomor 6512 Tahun 2026 tentang Penanganan Kenakalan Anak Usia Sekolah yang Berujung pada Tindak Pidana di Ruang Publik.
Dalam amanatnya, Gubernur DIY mengatakan bahwa masa depan DIY hadir melalui para pelajar yang kelak akan menjadi dokter, guru, teknisi, pengusaha, seniman, anggota TNI, Polri, hingga pemimpin bangsa. Oleh sebab itu, setiap keputusan yang diambil sejak usia sekolah akan menentukan masa depan mereka maupun masa depan daerah.
“Masa depan Daerah Istimewa Yogyakarta sedang dibangun di ruang-ruang kelas tempat kalian belajar hari ini, dan di setiap keputusan kecil yang kalian ambil sepulang sekolah. Kalian bukan sekadar siswa SMA/SMK. Kalian adalah calon dokter, guru, teknisi, pengusaha, seniman, anggota TNI, anggota Polri, bahkan pemimpin bangsa di masa depan. Sungguh sayang jika potensi sebesar itu padam hanya karena satu malam yang salah,” ujar Ni Made.
Disebutkan Ni Made, DIY sebagai pusat pendidikan dan budaya juga dihadapkan pada kenyataan yang menampar kesadaran bersama berupa meningkatnya kenakalan anak usia sekolah yang tidak lagi sebatas pelanggaran disiplin. Ada yang membawa senjata tajam, ada pula yang terjerumus dalam penyalahgunaan pil sapi dan minuman oplosan tanpa menyadari bahaya yang mengintai.
Ni Made pun menekankan, berbagai bentuk kenakalan remaja, termasuk tawuran, tidak terjadi secara tiba-tiba. Menurutnya, tindakan tersebut kerap berawal dari keputusan-keputusan kecil yang salah, seperti memilih diam saat melihat pelanggaran atau mengikuti ajakan keliru yang seharusnya ditolak.
“Di sinilah falsafah leluhur kita berbicara, Eling lan Waspada. Ingat pada siapa diri kalian sesungguhnya, ingat pada orang tua yang menaruh harap. Dan waspada, karena bahaya hari ini datang dengan wajah yang menyenangkan, namun berujung pada penyesalan yang tak bisa ditebus apa pun,” papar Ni Made.
Karena itu, Pemerintah Daerah DIY, lanjut Ni Made, terus memperkuat kolaborasi bersama aparat keamanan, sekolah, perguruan tinggi, keluarga, hingga masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak. Salah satunya melalui penguatan inisiatif Jaga Warga sebagai garda sosial terdepan warga dalam mencegah kenakalan anak usia sekolah di lingkungan masyarakat, ikut mengawasi anak-anak yang keluyuran di jam rawan, menegur dengan santun, dan melapor bila melihat tanda bahaya, serta memanfaatkan layanan Call Center 110 apabila menemukan kondisi yang memerlukan penanganan kepolisian.
Lebih lanjut, Ni Made menegaskan bahwa tidak ada anak yang lahir dengan cita-cita menjadi pelaku kekerasan. Semuanya sering berawal dari hal yang dianggap sepele, yakni salah memilih teman, mencari pengakuan, ingin terlihat berani. Padahal keberanian sejati bukan ketika seseorang mampu melukai orang lain, melainkan ketika ia mampu berkata tidak pada ajakan yang salah, berani menjaga diri dan teman.
“Maka hari ini saya mengajak kalian membuat pilihan yang jelas: pilih lingkungan pertemanan yang membangun, pilih keberanian melapor ketika melihat kekerasan atau narkoba, pilih pulang tepat waktu dan menghormati orang tua. Menjaga diri sendiri adalah bentuk penghormatan kepada mereka yang telah bekerja keras membesarkan kalian,” imbuh Ni Made.
Selain itu, Ni Made juga mengingatkan pentingnya peran keluarga dalam membentuk karakter anak. Menurutnya, sekolah merupakan rumah kedua bagi pelajar, namun keluarga tetap menjadi benteng utama dalam mengawasi tumbuh kembang serta pergaulan anak. Oleh karena itu, orang tua diharapkan aktif menjalin komunikasi dan memastikan keberadaan putra-putrinya, terutama pada jam-jam rawan.
Di sisi lain, juga ditegaskan bahwa negara memiliki tanggung jawab melindungi setiap anak. Meski demikian, perlindungan tersebut tidak berarti memberikan pembiaran terhadap pelanggaran hukum. Penegakan hukum akan dilakukan secara tegas, namun ruang pembinaan dan pemulihan tetap terbuka bagi pelajar yang tersesat melakukan kesalahan.
“Yang kita lawan adalah perilakunya, bukan masa depan anaknya. Oleh sebab itu, mari bersama seluruh siswa SMA dan SMK se-DIY menyatakan komitmen: menolak kekerasan, menolak narkoba dan minuman keras, menolak membawa senjata tajam, menolak segala bentuk kenakalan yang merugikan diri sendiri dan orang lain, serta bertekad menjadi generasi yang berprestasi, berkarakter, dan bermartabat,” jelas Ni Made.
Sementara itu, Plt. Kepala SMA Negeri 1 Yogyakarta, Siti Hajarwati, mengapresiasi keterlibatan pemerintah yang hadir langsung di sekolah-sekolah dalam pelaksanaan Upacara Bendera dan Deklarasi Bersama Warga Sekolah SMA/SMK Se-DIY. Menurutnya, kehadiran para pemangku kepentingan tersebut menjadi pengalaman berharga bagi para siswa sekaligus memperkuat pesan penting tentang pencegahan kenakalan remaja.
“Anak-anak tentu merasa berkesan karena pemerintah turun langsung ke sekolah dan menjadi pembina upacara. Pesan yang disampaikan sangat penting untuk dipahami, apalagi kegiatan ini ditutup dengan deklarasi bersama,” ujar Siti.
Ia menilai deklarasi tersebut menjadi pengingat bagi para pelajar bahwa upaya mencegah berbagai perilaku negatif membutuhkan kerja sama seluruh pihak. Melalui komitmen bersama itu, ia mengungkapkan siswa siap mengambil peran sebagai agen perubahan, terutama dalam menjauhi penyalahgunaan narkoba, pornografi, maupun berbagai bentuk kenakalan remaja lainnya.
Sebagai tindak lanjut, pihak sekolah juga akan membentuk tim yang berkolaborasi dengan program tersebut untuk memperkuat upaya pencegahan dan pendampingan bagi siswa. Siti pun menjelaskan, SMA Negeri 1 Yogyakarta selama ini telah rutin memberikan edukasi mengenai bahaya kenakalan remaja melalui berbagai kegiatan sekolah. Pesan mengenai pentingnya menjaga diri dari penyalahgunaan narkoba dan perilaku negatif lainnya terus disampaikan, baik melalui kegiatan pembinaan maupun kegiatan keagamaan.
“Hal-hal seperti itu selalu kami sampaikan dalam berbagai kesempatan, karena dampaknya bisa merusak diri dan mental anak-anak. Masa depan mereka tentu akan terhambat apabila terjerumus pada sesuatu yang bersifat adiktif,” tutur Siti.
Hingga saat ini, Siti menyampaikan bahwa SMA Negeri 1 Yogyakarta belum menemukan adanya kasus penyalahgunaan narkoba maupun bentuk kenakalan remaja lainnya di lingkungan sekolah. Ia berharap kondisi tersebut dapat terus dipertahankan melalui keterbukaan siswa dan kerja sama seluruh warga sekolah.
“Alhamdulillah belum ada, dan mudah-mudahan tidak akan ada sampai kapan pun. Anak-anak sangat terbuka kepada kami, dan tim di sekolah juga solid untuk menjaga agar hal tersebut tidak terjadi,” pungkas Siti.
Adapun dalam upacara ini, pembacaan Deklarasi Pelajar Jogja Santun dan Cinta Damai diikuti oleh seluruh siswa dan warga SMA N 1 Yogyakarta. Deklarasi tersebut berisi komitmen menolak segala bentuk kekerasan, perundungan, intoleransi, penggunaan dan peredaran narkoba, minuman beralkohol, aktivitas pornografi dan pornoaksi serta berani melaporkan setiap pelanggaran yang terjadi di lingkungan sekolah.
Humas Pemda DIY




