Beranda / Daerah / Sinergi Pemkab Gunungkidul dan UGM, Menuju Harmonisasi Hidup Berdampingan dengan Satwa Melalui Penanganan MEP Berbasis Riset

Sinergi Pemkab Gunungkidul dan UGM, Menuju Harmonisasi Hidup Berdampingan dengan Satwa Melalui Penanganan MEP Berbasis Riset

Gunungkidul,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul mengambil langkah strategis dan saintifik untuk menangani konflik berkepanjangan antara manusia dan Monyet Ekor Panjang (MEP) yang kian meresahkan warga. Dalam audiensi yang digelar di Ruang Nayyotama, Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Gunungkidul pada Senin, (27/7/2026), Pemkab menggandeng tim ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk merumuskan solusi komprehensif, mulai dari kontrol populasi berbasis medis hingga penggunaan teknologi sensor.

Pertemuan ini dihadiri oleh jajaran pakar UGM, termasuk Prof. Dr. Abdul Rohman, Prof. Dr. drh. Pudji Astuti, Dr. drh. Claude Mona Airin, Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, dan Dr. Muhammad Ali Imron . Turut mendampingi Bupati adalah Sekretaris Daerah (Sekda), Kepala Dinas Pertanian, serta Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gunungkidul.

Bupati Gunungkidul mengungkapkan bahwa wilayahnya mencakup 88,56% dari total luas kawasan hutan di DIY. Namun, mayoritas lahan tersebut merupakan hutan jati yang tidak menyediakan sumber pangan alami bagi primata.

Data menunjukkan bahwa MEP telah beradaptasi dengan kecerdasan luar biasa. Mereka tidak lagi takut pada suara mercon atau senjata mainan dan mampu mempelajari jadwal bantuan pangan.

Salah satu poin utama diskusi adalah pengendalian populasi, Prof. Pudji Astuti menjelaskan bahwa dalam satu kelompok monyet yang terdiri dari 40 hingga 120 ekor, terdapat satu “Alfa Male” (pemimpin) dengan kadar testosteron tinggi dan ukuran tubuh paling besar.

Strategi Jangka Panjang dan Restorasi Ekosistem
Mengingat status MEP yang kini masuk kategori dilindungi secara internasional (Endangered). Pemda memilih pendekatan “Silent Operation” melalui action research yang terukur.

Strategi penanganan dirumuskan ke dalam tiga tahap utama dimulai dari Jangka Pendek dengan Pemberian pakan di titik tertentu untuk mencegah kerusakan lahan pertanian dan monitoring penyakit zoonosis yang dapat menular ke manusia.

Kemudian di jangka menengah dengan pembentukan satuan pangan permanen dengan menanam pohon buah hutan seperti beringin dan lo, terutama di sekitar telaga. Kemudian untuk jangka panjang dengan merestorasi ekosistem inti dan rehabilitasi lahan secara menyeluruh untuk mengembalikan monyet ke habitat aslinya.

Pemkab Gunungkidul menyadari bahwa solusi ini tidak instan dan membutuhkan perhitungan anggaran yang detail. Meski demikian, kolaborasi dengan UGM ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam menciptakan keharmonisan antara manusia dan satwa liar di Gunungkidul.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *