
KULON PROGO,REDAKSI17.COM – Sinergi berbasis umat di Kabupaten Kulon Progo sukses mengubah aset keagamaan pasif menjadi sektor agribisnis bernilai ekonomi tinggi. Melalui pemanfaatan teknologi hidroponik, Pondok Pesantren Nurul Ummah 2 (Nurmadu) Toyan, Ngestiharjo, Wates, berhasil menggelar Panen Raya Program Produktif Wakaf melon premium pada Selasa (15/9/2026).
Program strategis ini menjadi tonggak baru dalam membangun kemandirian finansial lembaga pendidikan Islam sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.
Program ekonomi berbasis syariah ini mengoptimalkan lahan wakaf seluas 3.500 meter persegi yang dikelola oleh Yayasan Pendidikan Bina Putra selaku nadzir. Di atas lahan tersebut, dibangun fasilitas greenhouse terpadu seluas 1.500 meter persegi. Proyek percontohan ini berhasil terealisasi berkat kolaborasi kuat dengan Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitulmaal Muamalat Kesejahteraan Umat (MKU) di bawah naungan Perhimpunan BMT Indonesia.
Penerapan teknologi pertanian modern menjadi kunci utama tingginya produktivitas lahan di kompleks pesantren ini. Metode hidroponik dipilih untuk membudidayakan tiga varietas melon premium pilihan kelas dunia, yaitu Lavender, Inthanon, dan Sweet Net. Memiliki keunggulan pada tekstur yang renyah dan tingkat kemanisan yang tinggi, buah hortikultura ini sukses menembus pasar komersial dengan harga kisaran Rp35.000 hingga Rp40.000 per kilogram.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY, Dr. H. Ahmad Bahiej, S.H., M.Hum., menegaskan bahwa transformasi fungsi wakaf ke sektor produktif merupakan langkah krusial. Pihaknya berkomitmen memperluas pemanfaatan tanah wakaf agar tidak hanya tertuju pada sektor pendidikan formal, melainkan juga menyasar pada penguatan ekosistem ekonomi pesantren.
“Pemanfaatan tanah wakaf agar menjadi produktif bisa bermanfaat untuk nadzir, masyarakat, dan kita semua. Kita sengkuyung bersama-sama. Lahan kami cukup luas dan bisa dimanfaatkan untuk wakaf produktif, bahkan untuk wakaf-wakaf yang lain, tidak hanya untuk pendidikan tetapi juga untuk pengembangan ekonomi umat,” ujar Ahmad.
Langkah konkret ini mendapat dukungan penuh dari Perhimpunan BMT Indonesia (PBMTI) selaku kolaborator utama yang mengerahkan jaringan infrastruktur keuangan mikronya. Wakaf produktif dinilai sebagai salah satu instrumen keuangan Islam paling potensial untuk menekan angka kemiskinan di daerah. Keberhasilan di greenhouse pertama ini menjadi modal penting bagi PBMTI untuk mereplikasi sistem serupa ke ratusan jaringan BMT di berbagai wilayah.
Ketua Umum PBMT Indonesia, Dra. Hj. Mursida Rambe, menyatakan kesiapannya untuk memperluas skala program ini jika pilot project di Kulon Progo terus menunjukkan hasil yang konsisten.

“Bagaimana pentingnya kita berkolaborasi bersama-sama, berjamaah untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dan kesejahteraan. Kalau hari ini kita baru punya satu atau dua greenhouse, jika nanti ini berhasil dengan baik, tentu kita akan mengerahkan BMT yang jumlahnya 316 untuk bergerak,” tutur Mursida.
Pemerintah Kabupaten Kulon Progo memberikan apresiasi tertinggi atas keberhasilan inovasi pertanian berbasis syariah di Ponpes Nurmadu ini. Kehadiran program ini dinilai sangat sejalan dengan visi daerah dalam mengintegrasikan teknologi modern dengan modal sosial keagamaan untuk menggerakkan ekonomi riil.
Bupati Kulon Progo, R. Agung Setyawan, S.T., M.Sc., M.M., menyambut baik dan berharap program penanaman melon premium ini dapat terus diduplikasi secara masif di wilayah lain.
“Pemkab sangat menyambut baik program ini karena merupakan satu perbaikan ekonomi dari pilar-pilar pergerakan keumatan. Semoga wakaf produktif ini bisa berkembang dan lahan-lahan yang belum terkelola baik bisa dimanfaatkan,” pungkas Agung.
Source: Media Center



