Gunungkidul,REDAKSI17.COM – Gerakan Pramuka DIY didorong mengambil peran nyata dalam memperkuat kemandirian pangan, mulai dari menanam pangan, mengelola pekarangan, menghemat air, hingga mengajak masyarakat menghargai hasil bumi. Pesan tersebut disampaikan Gubernur DIY selaku Ketua Majelis Pembimbing Kwarda Gerakan Pramuka DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X saat menjadi Pembina Apel Besar Hari Pramuka ke-65 Tingkat Daerah DIY di Alun-alun Wonosari, Gunungkidul, Sabtu (22/8).
Mengusung tema “Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045”, apel tersebut dihadiri Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka DIY GKR Hayu, Bupati Gunungkidul sekaligus Ketua Majelis Pembimbing Cabang Gerakan Pramuka Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih, jajaran Forkopimda Gunungkidul, para Ketua Kwartir Cabang, Majelis Pembimbing Cabang, pembina, pelatih, serta anggota Pramuka.
Sri Sultan mengawali amanatnya dengan mengajak peserta melihat Gunungkidul sebagai wilayah yang mengajarkan keteguhan. Kondisi tanah karst, musim kemarau panjang, dan keterbatasan air, menurutnya, menjadi pengalaman yang menempa daya tahan masyarakat. “Kita berhimpun hari ini di bumi Gunungkidul. Tanah yang mengajarkan keteguhan. Batu karst, musim kemarau panjang, keterbatasan air, telah menjadi guru bagi masyarakatnya,” ujarnya.
Sri Sultan mengatakan daya tahan tidak lahir semata dari kelimpahan, tetapi dari ketekunan mengubah keterbatasan menjadi kekuatan. Pemikiran itu sejalan dengan gagasan Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang pernah disampaikan dalam Kongres Kepanduan tingkat dunia di Tokyo pada 1971 melalui pidato “The Trend in Scouting”. Saat itu, Sri Sultan Hamengku Buwono IX menegaskan bahwa Pramuka tidak hanya dididik menjadi warga negara yang baik, tetapi juga manusia pembangunan yang andal.
Dalam konteks pangan, Sri Sultan mengajak Pramuka menerapkan falsafah Hamemayu Hayuning Bawana, yakni menjaga keselamatan dan keselarasan kehidupan. Prinsip itu dapat diwujudkan dengan menjaga tanah, menghemat air, memulihkan kesuburan lahan, dan menghormati peran petani. “Produksi boleh ditingkatkan, tetapi kesuburan tanah harus dipulihkan. Teknologi boleh diterapkan, tetapi manusia dan alam tetap dimuliakan,” tegasnya.
Sri Sultan juga mendorong Pramuka mengambil bagian dalam penguatan Lumbung Mataraman sebagai upaya menghidupkan kembali budaya agraris Yogyakarta. Pekarangan dapat menjadi ruang produksi, keluarga menjadi simpul ketahanan pangan, dan kalurahan menjadi basis kemandirian.
Semangat tersebut tercermin dalam laku masyarakat Mataram, “mangan apa sing ditandur, nandur apa sing dipangan”, yang berarti makan apa yang ditanam dan menanam apa yang dimakan. “Ketika anak-anak Pramuka menanam cabai di halaman sekolah, mendampingi warga menata pekarangan, atau mengajak sesama tidak membuang makanan, mereka sedang ikut menjaga masa depan bangsa,” kata Sri Sultan.
Sri Sultan meminta para pembina mengenalkan pangan kepada anggota Pramuka sejak prosesnya, mulai menyentuh tanah, memahami benih, hingga menghargai hasil bumi. Jajaran Kwartir juga didorong menjadikan Lumbung Mataraman sebagai laboratorium sosial Pramuka, sekaligus ruang belajar yang dekat dengan masyarakat.
Bagi Sri Sultan, hal tersebut merupakan bagian dari pendidikan kepanduan yang tetap berakar pada Dasa Darma, tetapi bergerak dengan pengetahuan sesuai perkembangan zaman. Dari Gunungkidul, Sri Sultan menegaskan keterbatasan alam bukan alasan untuk menyerah. “Batu karst mengajarkan keteguhan. Pekarangan mengajarkan kemandirian. Pramuka mengajarkan pengabdian,” ungkapnya.
Selain amanat Pembina Apel, rangkaian Apel Besar Hari Pramuka ke-65 juga diisi penganugerahan tanda penghargaan Gerakan Pramuka kepada penerima penghargaan. Sri Sultan didampingi Ketua Kwarda Gerakan Pramuka DIY GKR Hayu dalam prosesi tersebut.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan bibit pohon secara simbolis kepada Ketua Majelis Pembimbing Cabang se-DIY. Penyerahan bibit pohon tersebut turut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Apel Besar Hari Pramuka ke-65.
Usai apel, peserta dan tamu undangan mengikuti Pentas Potensi Pramuka Gunungkidul. Sajian tersebut menampilkan Display Drumband Gita Buana Smakadano SMK Negeri 2 Wonosari dan Senam Pentul Tembem.
Sri Sultan mengajak Gerakan Pramuka menjadikan swasembada pangan sebagai gerakan kebudayaan sekaligus gerakan kebangsaan. “Gerakan kebudayaan, karena menuntun manusia hidup selaras dengan tanah dan sesama. Gerakan kebangsaan, karena memperkuat kedaulatan rakyat dari keluarga hingga kalurahan,” pungkasnya.
Humas Pemda DIY





