Beranda / Sri Sultan Raih Lifetime Dedication Award atas Kepemimpinan Kebencanaan DIY

Sri Sultan Raih Lifetime Dedication Award atas Kepemimpinan Kebencanaan DIY

Bantul,REDAKSI17.COM – Kontribusi panjang dan konsisten Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam penanggulangan bencana yang tangguh dan berkelanjutan, khususnya melalui pendekatan berbasis budaya dan kearifan lokal di DIY, kembali mendapat pengakuan nasional. Sri Sultan menerima Lifetime Dedication Award on Disaster Management dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), dalam rangkaian Pertemuan Ilmiah Tahunan Kebencanaan (PIT) ke-9 di Ballroom UMY Student Dormitory, Rabu (6/5).

Penghargaan diserahkan Ketua Umum IABI Prof Harkunti P Rahayu bersama Ketua Dewan Pembina IABI Prof Dr Syamsul Maarif kepada GKR Hayu yang hadir mewakili Gubernur DIY. Penghargaan tersebut diberikan atas dedikasi dan kepemimpinan Sri Sultan dalam menghadapi berbagai bencana besar yang melanda DIY selama dua dekade terakhir.

Gempa bumi Yogyakarta 2006 menjadi titik penting lahirnya kepemimpinan kebencanaan yang dinilai tidak hanya tangguh, tetapi juga visioner. Di bawah arahan Sri Sultan, penanggulangan bencana di DIY berkembang dari sekadar respons darurat menjadi sistem manajemen kebencanaan yang terstruktur, adaptif, dan berkelanjutan.

Kepemimpinan tersebut juga terlihat dalam penanganan erupsi Gununaag Merapi 2010 beserta banjir lahar, bencana siklon tropis, hingga pandemi Covid-19. DIY dinilai mampu menghadirkan tata kelola kebencanaan yang mengedepankan kolaborasi, ketangguhan masyarakat, dan pendekatan berbasis budaya lokal.

GKR Hayu menyebut kebencanaan sebagai salah satu dari dua isu yang selalu menjadi perhatian khusus Sri Sultan sebagai kepala daerah, selain kebudayaan. Sejak gempa 2006, Sri Sultan langsung memegang komando dan aktif mengoordinasikan bantuan, membangun sistem mitigasi, hingga membagikan pengalaman DIY dalam berbagai forum kebencanaan nasional.

Komitmen kebencanaan tersebut kini bahkan telah terinstitusionalisasi dalam struktur Keraton Yogyakarta melalui koordinasi yang terstruktur dan sistematis. “Terima kasih, hari ini sumbangsih beliau diakui oleh IABI dengan penghargaan ini,” ujar GKR Hayu.

Dalam sambutan Gubernur DIY yang dibacakan Kepala Pelaksana BPBD DIY Agustinus Ruruh Haryata, Sri Sultan menyampaikan masyarakat Jawa sesungguhnya telah memiliki sistem peringatan dini bencana jauh sebelum teknologi modern dan kerangka kebijakan internasional lahir. Sistem tersebut bukan berbasis sensor atau algoritma, melainkan berakar pada falsafah dan praktik pengamatan alam yang diwariskan lintas generasi.

Sri Sultan memperkenalkan falsafah Jawa eling lan waspada sebagai inti pengetahuan ekologis tradisional. Eling berarti kesadaran bahwa manusia bukan penguasa bumi, melainkan bagian dari alam itu sendiri. Sementara waspada merupakan kewaspadaan yang lahir dari pengalaman kolektif panjang dalam membaca tanda-tanda alam.

Sri Sultan juga menekankan pentingnya ilmu titen, yakni praktik mengamati, menandai, dan mengingat pola perilaku alam secara konsisten dari generasi ke generasi. Menurutnya, ilmu titen merupakan sistem peringatan dini paling komunal yang pernah dimiliki masyarakat

“Tata kelola yang benar-benar tangguh adalah tata kelola yang berakar pada memori kolektif masyarakat dan kearifan lokal tempat kita berpijak. Jangan sekadar memerhatikan layar data dan grafik risiko kebencanaan, gunakanlah ilmu titen,” tegas Sri Sultan.

Sementara itu, rangkaian PIT Kebencanaan ke-9 turut diawali pidato kunci tertulis Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Pratikno yang dibacakan Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK Andre Notohamijoyo. Pratikno mendorong para akademisi dan peneliti agar hasil riset kebencanaan tidak berhenti di jurnal ilmiah atau forum seminar, melainkan mampu diterjemahkan menjadi solusi nyata bagi masyarakat dan penguatan mitigasi bencana di daerah.

Humas Pemda DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *