Mergangsan,REDAKSI17.COM-Pemerintah Kota Yogyakarta menegaskan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), khususnya perempuan dan anak, sebagai kunci utama dalam memutus rantai kemiskinan dan menghadapi tantangan demografi di masa depan.
Hal tersebut disampaikan oleh Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo pada saat menjadi narasumber acara peningkatan kompetensi SDM Penyuluh KB DP2KBP3A Kabupaten Kediri yang digelar di Chantya Hotel by Grand Sarila Yogyakarta, Rabu (6/5/2026).
Dalam paparannya Hasto menyampaikan bahwa Indonesia saat ini tengah memasuki fase penting dalam struktur kependudukan, yakni menuju periode aging population atau meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia.
Berdasarkan proyeksi dari Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk usia lanjut diperkirakan terus meningkat signifikan dalam beberapa dekade ke depan.
“Situasi ini harus diantisipasi sejak sekarang dengan memastikan generasi muda memiliki kualitas yang unggul, sehat, dan produktif,” ujar Hasto.
Ia menjelaskan, Daerah Istimewa Yogyakarta telah memasuki periode bonus demografi sejak tahun 1996, dengan puncak pada 2005 dan diperkirakan berakhir setelah 2033. Kondisi ini merupakan peluang besar karena jumlah penduduk usia produktif lebih dominan dibandingkan usia non-produktif.
Namun demikian, Hasto mengingatkan bahwa bonus demografi tidak akan otomatis membawa kesejahteraan tanpa kualitas SDM yang memadai. Ia menyoroti masih rendahnya Human Capital Index (HCI) di Indonesia yang dipengaruhi oleh rendahnya literasi, kualitas pendidikan, serta keterampilan tenaga kerja.
Hasto juga menekankan bahwa stunting menjadi salah satu ancaman serius terhadap kualitas SDM. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, dan kurangnya stimulasi, terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
“Stunting berdampak pada kemampuan kognitif anak, meningkatkan risiko penyakit di masa depan, dan berpotensi berlanjut hingga dewasa. Ini harus menjadi perhatian bersama,” katanya.
Ia menambahkan, penanganan stunting harus dilakukan secara komprehensif sejak tahap pra-konsepsi hingga anak berusia lima tahun. Upaya tersebut meliputi pemeriksaan kesehatan calon pengantin, pemenuhan gizi ibu hamil, pemberian ASI eksklusif, imunisasi, hingga pemantauan tumbuh kembang anak.
Selain itu, Hasto juga menyoroti pernikahan usia dini sebagai faktor risiko yang perlu ditekan. Pernikahan anak berpotensi meningkatkan angka kematian ibu dan bayi serta memperbesar risiko stunting.
“Pencegahan harus dimulai dari hulu, termasuk edukasi kepada remaja agar siap secara fisik dan mental sebelum menikah,” ujarnya.
Lebih lanjut, Hasto menegaskan bahwa peningkatan kualitas SDM menjadi bagian penting dalam mewujudkan visi Indonesia 2045. SDM unggul, menurutnya, adalah mereka yang tidak hanya cerdas dan produktif, tetapi juga sehat, berkarakter, dan mampu beradaptasi dengan perubahan
Pemerintah Kota Yogyakarta, lanjutnya, akan terus memperkuat berbagai program di bidang kesehatan, pendidikan, dan perlindungan sosial guna menciptakan generasi yang berkualitas dan berdaya saing.
“Dengan SDM yang unggul, kita optimistis mampu keluar dari jebakan kemiskinan dan memanfaatkan bonus demografi secara maksimal,” pungkasnya.
Sementara itu Kepala DP2KBP3A Kabupaten Kediri Nurwulan Andadari menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya peningkatan kapasitas penyuluh KB agar mampu menjalankan peran strategis dalam pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak, penguatan ketahanan keluarga, serta pendampingan keluarga dalam menurunkan angka kemiskinan ekstrem.
“Kegiatan ini juga diharapkan mampu meningkatkan kompetensi penyuluh KB dalam menghadapi berbagai tantangan sosial di masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan isu perempuan, anak, dan kemiskinan,” harapnya.
