
Gunungkidul,REDAKSI17.COM — Di balik keheningan malam Padukuhan Mendak, Kalurahan Girisekar, Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul, kehangatan kebersamaan dan kekhusyukan adat terpancar nyata, Senin (19/10/2026). Masyarakat bersama trah Mbah Medi dan para pejabat daerah berkumpul dalam tradisi pembukaan Cupu Kyai Panjolo, sebuah ritual warisan leluhur yang telah melintasi rentang zaman dan terus dijaga kelestariannya.

Rangkaian upacara tradisi telah dimulai sejak siang hari melalui ziarah kubur ke makam Kyai Sayid Panjolo. Sanak keluarga, trah keturunan, serta warga masyarakat berbondong-bondong memanjatkan doa di peristirahatan terakhir sosok leluhur tersebut. Untuk menguatkan suasana sakral, area pelataran sekitar lokasi Cupu Panjolo steril dari aktivitas perdagangan dan sesadinan demi menjaga ketenangan serta kerapian seluruh prosesi. Menjelang puncak pembukaan, warga menggelar kenduri sebagai penutup ritual doa bersama memohon keselamatan dan ketentraman.
Malam puncak acara dihadiri langsung oleh Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, S.E., M.P., didampingi jajaran Forkopimda termasuk Kapolres Gunungkidul, Komandan Kodim 0730/Gunungkidul, Kepala Dinas Kebudayaan DIY serta Kabupaten Gunungkidul, Kepala Dinas Pariwisata, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU), hingga Panewu Panggang. Suasana makin berkesan dengan hadirnya utusan resmi dari Keraton Yogyakarta serta Keraton Surakarta / Mangkunegaran, yang mempertegas kedalaman nilai sejarah dan kebudayaan dalam tradisi ini.
Lurah Girisekar, Sukar, S.P., menyampaikan rasa syukur atas kelancaran seluruh tahapan upacara adat yang berjalan tertib. Pihaknya berharap pembukaan Cupu Kyai Panjolo membawa keberkahan, ketentraman, dan kebaikan tidak hanya bagi masyarakat Gunungkidul, tetapi juga untuk Daerah Istimewa Yogyakarta dan Indonesia pada umumnya.

Dalam sambutannya, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih mengutarakan rasa bangga (mongkok) atas konsistensi warga Padukuhan Mendak dan Pemerintah Kalurahan Girisekar dalam menjaga warisan budaya. Beliau turut mengutip pesan proklamator Bung Karno dalam risalah Mencapai Indonesia Merdeka (Maret 1933): “Kultur yang sejati itu bukanlah sesuatu yang dipaksakan dari luar, melainkan sebuah peradaban yang tumbuh dan subur di tengah masyarakat itu sendiri”. Menurut Bupati, tradisi pembukaan Cupu Kyai Panjolo merupakan sarana spiritual untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus wadah mempererat gotong royong warga.
Dukungan terhadap kelestarian tradisi ini juga diwujudkan melalui peningkatan sarana infrastruktur. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU) dijadwalkan melakukan pengaspalan jalan akses lokasi pada awal November, didukung penataan fasilitas penunjang oleh Dinas Pariwisata agar peziarah dan pengunjung dapat mengikuti tradisi secara lebih nyaman.

Upacara pembukaan Cupu Kyai Panjolo pun ditutup dengan doa bersama, memancarkan harapan agar keberkahan, kedamaian, dan kerukunan senantiasa menaungi seluruh warga.





