
Direktur Utama B-Universe
JAKARTA belum sepenuhnya terjaga.
Matahari baru hendak menyibak langit. Jalanan ibu kota perlahan dipenuhi manusia yang bergegas mengejar kehidupan. Sebagian menuju kantor, sebagian mencari nafkah, sebagian lagi mungkin baru selesai menghitung utang dan kebutuhan rumah tangga.
Tetapi pagi itu, Selasa, 20 Oktober 2026, ada sesuatu yang berbeda di jantung Republik.
Enam aktivis Greenpeace berdiri di ketinggian Monumen Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia. Mereka tidak membawa senjata, tidak pula membawa kekuasaan. Hanya dua lembar kain kuning raksasa, beberapa utas tali, keberanian, dan pertanyaan yang sederhana sekaligus menyakitkan.
“Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?�
Di sisi lainnya terbentang seruan:
“Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup.�
Enam manusia kecil di hadapan gedung-gedung raksasa Jakarta. Tetapi pagi itu, mereka tampak lebih besar daripada seluruh bangunan yang mengelilinginya.
Saya membayangkan bagaimana mereka mempersiapkan keberanian itu. Di saat sebagian besar kota masih terlelap, mereka mungkin sudah bergelut dengan dinginnya beton, ketinggian, dan risiko kehilangan nyawa.
Namun, mereka tetap naik.
Sekitar pukul 06.05 hingga 06.15 WIB, kedua spanduk telah terbentang. Pertanyaannya, pukul berapa mereka mulai memanjat? Pukul empat? Pukul lima? Atau jauh sebelum Jakarta terjaga?
Belum ada jawaban pasti.
Tetapi justru di situlah ironi yang menggelitik.
Bundaran HI bukan tempat tersembunyi. Ia adalah salah satu kawasan paling strategis di ibu kota. Ada kamera pengawas, patroli kepolisian, perangkat ketertiban umum, dan sistem keamanan yang dibangun dengan anggaran negara.
Lalu bagaimana enam orang bisa mencapai puncak monumen dan membentangkan spanduk sebesar itu?
Di mana polisi? Di mana Satpol PP? Bagaimana dengan kemampuan deteksi dini intelijen, termasuk BIN?
Tentu tidak semua lembaga tersebut bertanggung jawab langsung menjaga sebuah monumen. Tetapi peristiwa ini layak menjadi cermin untuk mengevaluasi pengawasan dan koordinasi keamanan.
Negara boleh memiliki ribuan mata pengawas. Tetapi apa gunanya mata yang terbuka jika tidak mampu membaca kegelisahan rakyat?
Mungkin aparat merasa kecolongan karena spanduk itu berhasil terpasang. Tetapi jangan-jangan negara telah lebih dahulu kecolongan ketika kegelisahan tentang lingkungan, bencana, dan mahalnya kehidupan tidak memperoleh jawaban yang cukup meyakinkan.
Sebab spanduk itu tidak lahir dalam semalam.
Ia lahir dari hutan yang hilang, banjir yang datang berulang, petani yang kehilangan kepastian musim, dan keluarga yang setiap hari harus menghitung kembali biaya kehidupan.
Kerusakan lingkungan mungkin dimulai dari hutan. Tetapi tagihannya sering berakhir di meja makan rakyat kecil.
Ada sesuatu yang sangat simbolis dari pilihan tempat aksi itu.
Monumen Selamat Datang dibangun dalam semangat besar Bung Karno menyambut Asian Games 1962. Dua sosok manusia mengangkat tangan, menyambut dunia dengan optimisme sebuah bangsa yang baru menemukan harga dirinya.
Enam puluh empat tahun kemudian, di bawah patung yang sama, dua spanduk kuning menggantung membawa kegelisahan tentang masa depan.
Dahulu, patung itu menyambut dunia dengan harapan. Kini, dari bawah kakinya, rakyat mengirimkan peringatan kepada negara.
Saya tidak mengenal keenam aktivis tersebut. Tidak tahu bagaimana kehidupan mereka, atau apa yang mereka rasakan ketika berdiri di ketinggian sementara Jakarta mulai bergerak di bawah kaki mereka.
Tetapi saya mengagumi keberanian mereka.
Bukan karena berhasil membuat aparat kecolongan. Bukan pula karena aksinya menjadi viral. Melainkan karena mereka bersedia mengambil risiko pribadi untuk membawa persoalan publik ke tempat yang mustahil diabaikan.
Tentu keberanian tidak menghapus risiko keselamatan. Memanjat monumen setinggi itu berbahaya, baik bagi aktivis maupun orang-orang di bawahnya.
Namun, jangan sampai negara lebih sibuk menyelidiki bagaimana spanduk dipasang daripada memahami mengapa spanduk itu harus dibentangkan.
Kritik bukan musuh negara. Ia adalah tanda bahwa masih ada warga yang percaya negara dapat berubah.
Menjelang siang, kedua spanduk itu telah diturunkan. Petugas menyelesaikan pekerjaannya. Jakarta kembali sibuk dengan urusannya.
Tetapi sesuatu telah berubah.
Foto-foto aksi itu menyebar. Pesannya berpindah dari monumen ke layar telepon masyarakat.
Kainnya boleh diturunkan. Pertanyaannya tidak.
Dan mungkin itulah keberhasilan terbesar enam aktivis Greenpeace tersebut.
Mereka tidak sedang berusaha menduduki kekuasaan. Mereka hanya mengingatkan bahwa di balik kemegahan pembangunan, ada rakyat yang ingin hidup lebih aman, menghirup udara lebih bersih, dan menjalani kehidupan dengan biaya yang lebih ringan.
Negara mungkin kecolongan oleh enam orang yang memanjat patung. Tetapi jangan sampai negara kehilangan sesuatu yang jauh lebih besar: kepercayaan rakyatnya sendiri.
Patung Selamat Datang masih mengangkat kedua tangannya. Seperti enam puluh empat tahun lalu.
Namun, pagi itu, enam anak muda telah meninggalkan sebuah pertanyaan yang jauh lebih tinggi daripada tempat mereka berdiri.
Apakah kita masih sedang menyambut masa depan, atau justru membiarkan masa depan perlahan hilang?
Jakarta, 22 Oktober 2026





