
KRATON,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta meluncurkan program Kampung Inggris di Kota Yogyakarta (Krista) di beberapa kampung pada Kamis (5/11/2026). Program Krista memberikan pembelajaran bahasa Inggris kepada masyarakat berbasis kampung. Melalui Krista diharapkan masyarakat menguasai kemampuan praktis berbahasa Inggris dan semakin meneguhkan Yogyakarta sebagai kota pelajar dan pendidikan.
Peluncuran awal atau soft launching program Krista dilakukan oleh Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo di Kampung Taman di mana kegiatan diadakan di SDN Keputran 2. Dalam peluncuran itu Hasto juga mengajak berbicara peserta Krista menggunakan Bahasa Inggris. Hasto mengapresiasi dan mengaku senang karena warga menyambut baik dan berani berbahasa Inggris.

“Saya pikir program ini agak agak sulit, tapi ternyata mereka kepala kampung dan UMKM senang mereka. Kebetulan ada mitra dari swasta yang sudah mengembangkan (Kampung Inggris), sehingga kita tidak berat,” kata Hasto ditemui usai soft launching Krista.
Pada tahap awal program Krista menyasar ke beberapa kampung yang menjadi percontohan yaitu Kampung Taman, Prawirotaman, Sapen, Demangan dan Pengok. Kegiatan Krista diadakan di kampung tersebut seminggu satu kali. Kampung Prawirotaman dan Kampung Taman setiap Kamis pukul 16.00-17.30 WIB dan Kampung Sapen, Demangan dan Pengok setiap Jumat sore di jam yang sama. Hasto memberikan apresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada ASN Pemkot Yogyakarta yang mendukung dan menjadi relawan mengajar program Krista.

Menurut Hasto program Krista juga memperkuat penanda keistimewaan sebagai kota pelajar dalam bentuk yang tidak kebendaan. “Sebagai kota pelajar harapannya kita menjadi best practice untuk komunikasi yang baik. kalau di daerah lain ada Kampung Bahasa Inggris, masa kita sebagai kota pelajar malah justru enggak punya Kampung Bahasa Inggris. Sehingga Dinas Pendidikan saya minta untuk bisa membangun Kampung Bahasa Inggris,” paparnya.
Hasto menyatakan target dari program Krista ada tiga yakni basis student dalam hal ini melatih anak-anak sekolah, kuliah, yang ingin belajar bahasa Inggris. Ada juga yang berbasis UMKM menyasar pengusaha-pengusaha kecil untuk membantu memasarkan produk kepada wisatawan mancanegara. Termasuk berbasis destinasi pariwisata. Untuk mendukung Krista ada program One Village One Sister University, sehingga bisa bekerja sama dengan perguruan tinggi dan mahasiswa.

“Berbasis UMKM bisa untuk membuat networking dengan komunikasi yang baik, harapan saya lebih laris. Jadi tiga ini yang saya minta dikuatkan di Kota Yogyakarta. Kita juga ada Bule Mengajar di beberapa sekolah. Jadi turis asing yang ke Jogja boleh mepraktikwn microteaching di sekolah-sekolah,” tambahnya.
Sementara itu Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Yogyakarta, Agus Trimadi menjelaskan Krista sudah dimulai sejak tanggal 17 September 2026. Program Krista di Kampung Taman diikuti 31 peserta, Prawirotaman 25 peserta serta Kampung Sapen, Demangan, dan Pengok 24 peserta. Dalam pembelajaran bahasa Inggris juga melibatkan 15 relawan ASN dari berbagai OPD Pemkot Yogyakarta sebagai mentor. Sebagai bentuk komitmen dalam kegiatan itu Ketua Kampung sasaran program Krista mendeklarasi Kampung Inggris di Kota Yogyakarta.

“Program Krista ini harapannya masyarakat menguasai kemampuan praktis berbahasa Inggris yang bermanfaat untuk mendukung kebutuhan pariwisata, berkomunikasi dengan wisatawan mancanegara, serta transaksi jual beli. Harapannya terus berkembang, berkelanjutan, dan tambah terus pesertanya da kampungnya. Dengan program Krista harapannya citra Kota Yogyakarta tidak hanya sebagai kota pelajar, tetapi juga Kampung belajar bahasa Inggris” yang hidup,” jelas Agus.
Salah satu warga Kampung Taman yang mengikuti program Krista, Supriyadi menyambut baik kegiatan itu. Meskipun kini sudah berusia lanjut, ia semangat belajar berbahasa Inggris agar bisa berkomunikasi dan memasarkan produknya seperti kain batik dan batik lukis kepada wisatawan mancanegara. Supri mendapat pembelajaran pengenalan diri, memasarkan produk dan transaksi jual beli menggunakan bahasa Inggris.

“Program ini bagus. Harapannya bisa membantu saya untuk memasarkan dagangan dengan komunikasi bahasa Inggris kepada wisatawan mancanegara. Saya sudah ikut enam kali pertemuan. Belum pernah belajar Bahasa Inggris, ya susahlah karena sudah orang tua beda sama yang muda-muda. Tapi saya tetap semangat,” ucap Supriyadi.





