Home / Kotaku / Apa Kabar Kran Air Minum di Malioboro?

Apa Kabar Kran Air Minum di Malioboro?

Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Suasana Malioboro sore itu masih seperti biasa—ramai, hangat, dan penuh warna. Wisatawan hilir mudik, sebagian duduk santai di bangku pedestrian, sebagian lagi berjalan sambil menikmati suasana khas Jogja. Di salah satu sudut, berdiri fasilitas air minum gratis yang disediakan untuk pejalan kaki. Seharusnya sederhana: orang datang, menekan keran, minum, lalu melanjutkan perjalanan.

Namun pemandangan berbeda justru terlihat di sana.

Beberapa orang tampak tidak hanya mengambil air untuk minum. Ada yang mencuci tangan, lalu disusul seseorang yang bahkan membawa sendok dan piring kecil untuk dibilas di tempat yang sama. Air yang seharusnya diminum, malah berubah fungsi seperti tempat cuci dadakan. Di dekatnya, tulisan petunjuk penggunaan sebenarnya sudah terpasang, cukup jelas. Tapi entah tidak dibaca atau memang diabaikan.

Seorang pengunjung yang melihat kejadian itu sempat mencoba menegur dengan sopan. Ia mengingatkan bahwa fasilitas tersebut khusus untuk air minum, bukan untuk mencuci peralatan. Tapi respons yang diterima tidak seperti yang diharapkan. Teguran itu seperti angin lalu. Aktivitas mencuci tetap berlanjut, seolah tidak ada yang salah.

Di sisi lain, ada pengunjung lain yang awalnya hendak mengambil air minum. Ia sudah mendekat, bahkan sempat mengulurkan tangan. Tapi begitu melihat keran yang baru saja dipakai mencuci peralatan makan, ia langsung mengurungkan niat. Raut wajahnya berubah—antara ragu dan merasa tidak nyaman. “Tadi mau minum, tapi jadi nggak jadi,” katanya pelan.

Situasi seperti ini pelan-pelan menciptakan rasa tidak percaya terhadap fasilitas yang sebenarnya sangat membantu. Air minum gratis di Malioboro bukan sekadar pelengkap, tapi kebutuhan—terutama bagi wisatawan yang berjalan jauh atau pekerja di sekitar kawasan itu. Ketika fasilitas itu tidak dijaga bersama, yang dirugikan bukan satu dua orang, tapi semua pengguna.

Kejadian ini kemudian menyebar melalui video di media sosial. Banyak yang menyayangkan, karena hal sederhana seperti mengikuti aturan penggunaan justru diabaikan. Beberapa orang mulai mengusulkan agar papan informasi diperjelas, diperbesar, bahkan mungkin ditambah dengan ilustrasi agar lebih mudah dipahami siapa pun.

Di tengah semua itu, muncul satu hal yang terasa jelas: fasilitas publik bukan hanya soal tersedia atau tidak, tapi soal bagaimana digunakan. Malioboro sudah berbenah menjadi ruang yang nyaman untuk semua. Tapi tanpa kesadaran bersama, hal-hal kecil seperti ini bisa mengurangi rasa nyaman itu sendiri.

Dan pada akhirnya, bukan soal air minumnya—tapi soal sikap kita terhadap ruang yang dipakai bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *