Home / Kotaku / Banyu Bening Winongo

Banyu Bening Winongo

Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Deru Sungai Winongo di Kampung Badran, Jetis, Yogyakarta, menyimpan kisah perjuangan panjang warga dalam memperoleh air bersih.

Di balik rimbunnya bambu di bantaran sungai, terdapat mata air alami yang sejak lama menjadi tumpuan hidup ratusan jiwa.

Partini, Ketua RW 11 sekaligus Koordinator Kelompok Pamsimasta Banyu Bening Winongo, mengenang masa lalu ketika warga harus menyeberangi sungai menuju titik mata air yang dikenal sebagai Mbelik Wedok.

“Kalau mau mandi atau cuci baju, warga harus nyeberang ke sana. Biarpun air setinggi dada atau leher, tetap diseberangi demi air bersih,” kenangnya.

Perubahan besar terjadi pada 2009, saat warga berkolaborasi dengan Yayasan Kota Kita. Meski awalnya skeptis, perlahan kepercayaan tumbuh melalui skema hibah dan kredit lunak untuk pemasangan meteran.

Dari hanya 15 sambungan rumah, kini sudah ada sekitar 90 rumah yang menikmati air bersih dengan biaya rata-rata Rp30.000 per bulan.

Kualitas air pun terjaga. Secara kimiawi, hasil uji menunjukkan aman untuk kebutuhan sehari-hari, namun warga diimbau untuk merebus air sebelum diminum.

Meski sempat terkendala banjir yang merusak paralon, pengurus sigap memperbaiki. Kini warga cukup memutar kran di rumah tanpa harus bertaruh nyawa menyeberangi sungai.

“Air mbelik itu rasanya lebih enak dari air sumur. Dan sekarang, kenyamanan itu bisa dinikmati tanpa harus basah kuyup,” ujar Partini.

Heni, salah satu warga, mengaku sangat terbantu. “Dulu saya harus turun ke sungai untuk ambil air. Sekarang dengan iuran murah, kebutuhan air tercukupi,” katanya.

Kisah Banyu Bening Winongo adalah bukti nyata bahwa gotong royong dan inovasi bisa mengubah kehidupan.

Dari perjuangan menyeberangi banjir demi segayung air, kini warga Badran menikmati aliran kehidupan yang mengalir langsung ke rumah mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *