Jakarta,REDAKSI17.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini bersiap berubah arah. Jika sebelumnya dibagikan secara universal, ke depan program ini akan difokuskan hanya untuk anak-anak yang benar-benar mengalami kekurangan gizi.
Arahan ini datang langsung dari Prabowo Subianto. Artinya, anak dari keluarga mampu tak lagi menjadi prioritas penerima.
Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menegaskan pihaknya siap menjalankan kebijakan baru ini demi meningkatkan efektivitas program.
Data terbaru dari Survei Status Gizi Indonesia 2025 menunjukkan:
– 7,8 juta anak Indonesia masih mengalami kekurangan gizi
– Indonesia masuk 5 besar negara dengan masalah gizi tertinggi
Namun, kabar baiknya, angka stunting turun jadi sekitar 19,8% di 2024 — pertama kali di bawah 20%
Langkah ini dinilai penting agar program benar-benar berdampak, bukan sekadar merata tapi kurang tepat sasaran.
Untuk memastikan hal itu, BGN membentuk Tim Optimalisasi Penerima Manfaat.
Menurut Nanik S Deyang, tim ini akan:
– Menyisir langsung data penerima
Mulai survei dari DKI Jakarta
– Sinkronisasi data dengan Kemensos & Kemendikdasmen
– Validasi langsung ke lapangan
Tujuannya jelas: bantuan harus jatuh ke tangan yang paling membutuhkan.
Saat ini, skala program MBG sudah sangat besar:
– 26.066 unit SPPG
– 61,6 juta penerima
– Menjangkau 38 provinsi
Namun, di balik skala besar itu, muncul kekhawatiran soal pemborosan dan makanan yang terbuang.
Pengamat kebijakan publik, Eko Prasojo, menilai perubahan ini langkah tepat.
Menurutnya:
– Program universal berisiko tidak efektif
– Bantuan harus fokus ke yang benar-benar butuh
– Data harus berbasis desa/kelurahan dan teknologi agar akurat





