Umbulharjo,REDAKSI17.COM – Kawasan Jalan Malioboro terus diperkaya sebagai ruang budaya melalui program “Setu Sinau” yang diinisiasi Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta. Kegiatan ini rutin digelar setiap Sabtu pagi di sisi timur Malioboro, tepatnya di sekitar kawasan DPRD DIY, dengan konsep pembelajaran budaya terbuka yang dapat diikuti masyarakat maupun wisatawan.
Setu Sinau dirancang sebagai street workshop, yakni kelas budaya singkat yang berlangsung di ruang publik. Dalam pelaksanaannya, enam kelas digelar secara paralel, meliputi Sinau Aksara Jawa, Sinau Nggamel (gamelan), Sinau Ngadi Busana, Sinau Njoged (tari), Sinau Nggambar (melukis), serta Sinau Dolanan Anak. Seluruh kelas dipandu oleh pelaku seni dan komunitas budaya Yogyakarta, sehingga menghadirkan pengalaman belajar yang interaktif dan kontekstual.
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, belum lama ini menyampaikan bahwa Setu Sinau menjadi strategi untuk memperkuat nilai tambah Malioboro sebagai destinasi budaya.
“Inilah value added Malioboro, kunjungan yang bukan hanya meninggalkan jejak konsumsi, tetapi juga pengalaman dan kedekatan emosional dengan kebudayaan Yogyakarta,” ujarnya.
Menurutnya, ruang publik tidak hanya dimaknai sebagai kawasan ekonomi, tapi juga ruang belajar bersama yang inklusif dan berkelanjutan. Pendekatan ini memungkinkan pengunjung tidak sekadar menjadi penonton, melainkan turut terlibat langsung dalam proses pembelajaran budaya.
Program yang berlangsung pukul 07.00 hingga 09.00 WIB ini diluncurkan pada 14 Februari 2026 lalu. Hingga saat ini, kegiatan telah digelar sebanyak empat kali dan dijadwalkan kembali hadir pada 18 April mendatang.
Secara terpisah Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Ismawati Retno, menuturkan Setu Sinau menjadi upaya mendekatkan pembelajaran budaya kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
“Aksara Jawa dan berbagai ekspresi budaya lainnya perlu dikenalkan dengan cara yang menarik agar tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman,” ungkapnya saat dikonfirmasi pada Senin (13/4/2026).
Kehadiran Setu Sinau turut menghidupkan Malioboro sebagai ruang edukasi. Sejumlah pengunjung yang semula berolahraga atau berjalan santai tampak berhenti untuk menyaksikan bahkan mengikuti kelas-kelas yang tersedia.
“Kegiatan ini hadir rutin setiap Sabtu pagi sebagai atraksi budaya khas Malioboro, yang diharapkan mampu memperkuat citra Maliobor sebagai ruang budaya yang tidak hanya menawarkan pengalaman wisata, namun juga pengetahuan dan keterlibatan langsung bagi setiap pengunjung,” imbuhnya.




