Gondokusuman,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta menerima kunjungan Deputi Bidang Koordinasi Pembangunan Perumahan dan Sarana Prasarana Permukiman (Deputi IV) Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan RI, Ronny Ariuly Hutahayan, di kawasan Kampung Lampion, Kotabaru, Sabtu (25/4).

Kunjungan tersebut meninjau langsung penataan kawasan permukiman di bantaran Kali Code yang dinilai berhasil menggabungkan aspek fisik, sosial, dan pemberdayaan masyarakat.

Ronny menyampaikan apresiasi tinggi atas upaya yang dilakukan Pemkot Yogyakarta bersama masyarakat dalam menata kawasan tersebut. Ia menilai Kampung Lampion merupakan contoh nyata penataan kawasan kumuh yang tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga melibatkan partisipasi aktif warga.

“Ini luar biasa, tidak mudah dilakukan. Kami melihat bagaimana gotong royong dan kearifan lokal menjadi kekuatan utama dalam penataan kawasan di sepanjang Kali Code,” ujarnya.

Menurutnya, praktik baik yang dilakukan di Kampung Lampion dapat  diangkat sebagai pembelajaran di tingkat nasional, khususnya dalam upaya penanganan kawasan kumuh secara terpadu lintas kementerian dan lembaga. Ia menekankan pentingnya kolaborasi multipihak, termasuk pemerintah pusat, daerah, swasta, hingga organisasi non-pemerintah.

Peninjauan rumah yang telah selesai dibangun

Selain itu, Ronny juga menyoroti masih adanya pekerjaan rumah, terutama terkait pembangunan prasarana, sarana, dan utilitas (PSU) seperti sanitasi dan jalan lingkungan. Ia memastikan pemerintah pusat akan terus mendorong koordinasi untuk memperkuat program penataan kawasan agar lebih terintegrasi dan berdampak luas bagi masyarakat.

Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan bahwa penataan kawasan Kampung Lampion dilakukan dengan pendekatan gotong royong di tengah keterbatasan fiskal daerah.

“Dengan biaya sekitar Rp1,5 miliar, kami sudah membangun 10 rumah dengan kualitas konstruksi yang baik. Ini karena swakelola dan dukungan penuh masyarakat,” jelasnya.

Hasto menambahkan, total rencana pembangunan di Kampung Lampion mencapai 38 rumah. Pada tahun 2025, sebanyak 10 rumah telah selesai dibangun, terdiri dari enam unit menggunakan APBD dan empat unit hasil kolaborasi, termasuk dukungan perguruan tinggi. Pada tahun 2026 akan dibangun delapan rumah tambahan serta satu unit dari program CSR, dan sisanya ditargetkan rampung pada 2027.

Tidak hanya hunian, Pemkot juga menyiapkan infrastruktur pendukung berupa jalan lingkungan selebar 3–4 meter yang akan terhubung hingga kawasan Kleringan, guna memudahkan akses darurat seperti ambulans dan pemadam kebakaran.

Berkeliling di kampung lampion

Lebih lanjut, Hasto menegaskan komitmen Pemkot dalam menata kawasan bantaran sungai, termasuk Kali Code, Sungai Winongo, dan Sungai Gajahwong, sebagai bagian dari upaya menjadikan Yogyakarta sebagai percontohan nasional.

“Kami ingin Kota Yogyakarta menjadi center of excellence dalam penataan permukiman tepi sungai berbasis masyarakat,” ungkapnya.

Ia juga menekankan bahwa pendekatan persuasif dan prinsip zero conflict menjadi kunci keberhasilan dalam proses penataan, mengingat tidak mudah melakukan relokasi maupun penataan di kawasan padat penduduk.

Ke depan, Pemkot Yogya akan melanjutkan penataan kawasan serupa di wilayah lain, salah satunya di Terban RW 05 yang direncanakan mulai ditata pada tahun ini.