UMBULHARJO,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan inovasi daerah dari tahun ke tahun. Komitmen tersebut membuahkan hasil membanggakan. Dimana pada tahun 2025 Kota Yogyakarta meraih predikat Innovative Government Award (IGA) sebagai Kota Sangat Inovatif, setelah melaporkan sebanyak 66 inovasi daerah.
Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta, Dedi Budiono mengapresiasi capaian tersebut. Namun hal ini tidak membuat pemerintah berpuas diri. Justru, capaian ini menjadi pijakan untuk terus meningkatkan kualitas inovasi agar pada 2026 Kota Yogyakarta mampu meraih predikat Kota Terinovatif.
Hal itu disampaikan Dedi Budiono saat memberikan arahan kepada 66 inovator Pemerintah Kota Yogyakarta yang hadir dalam kegiatan Bimbingan Teknis Monitoring dan Evaluasi Inovasi Daerah yang digelar di Ruang Bima Balaikota Yogyakarta, Kamis (30/4).

Pj Sekda Kota Yogyakarta, Dedi Budiono saat memberikan arahan terkait peningkatan inovasi daerah di Kota Yogyakarta.

Menurutnya, keberhasilan inovasi sangat ditentukan oleh proses yang baik, mulai dari input, proses, hingga output dan outcome. Ia menekankan bahwa inovasi harus berangkat dari permasalahan nyata di masyarakat dan mampu memberikan solusi konkret.
“Inovasi itu bukan sekadar ide. Inovasi harus menyelesaikan masalah. Kalau tidak menyelesaikan masalah, itu bukan inovasi,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya membangun budaya menulis di kalangan aparatur sipil negara (ASN). Sebab, banyak inovasi yang telah dilakukan, namun belum terdokumentasikan dengan baik. Padahal, dokumentasi menjadi kunci dalam pelaporan dan penilaian inovasi daerah.
Lebih lanjut, Dedi mendorong setiap organisasi perangkat daerah (OPD) untuk menggali potensi inovasi dari berbagai sektor, mulai dari pelayanan publik, penanganan kemiskinan, hingga penataan kawasan perkotaan.
Ia menilai, Kota Yogyakarta memiliki ruang yang luas untuk melahirkan inovasi yang berdampak dan dapat direplikasi daerah lain. “Kita ingin Jogja menjadi center of referral. Kalau inovasi kita bisa direplikasi, maka daerah lain akan datang untuk belajar ke sini,” ujarnya.

Kegiatan ini diikuti puluhan inovator di lingkungan Pemerintah Kota Yogyakarta.

Sementara itu, Kepala Bappeda Kota Yogyakarta, Agus Tri Haryono menambahkan, inovasi daerah saat ini tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari ekosistem yang terintegrasi. Ekosistem tersebut melibatkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat.
Ia menyebut, pada tahun 2025 Kota Yogyakarta berhasil mencatat skor Indeks Inovasi Daerah sebesar 69,64 dengan predikat sangat inovatif. Namun, pihaknya menargetkan peningkatan capaian menjadi predikat terinovatif di tahun mendatang.
“Capaian ini adalah hasil kerja bersama. Ke depan, inovasi harus semakin selaras dengan prioritas pembangunan nasional serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” jelasnya.
Dari sisi evaluasi, jumlah inovasi yang dilaporkan meningkat signifikan dari 44 inovasi pada 2024 menjadi 66 inovasi pada 2025. Selain itu, tingkat kematangan inovasi juga mengalami peningkatan menjadi 95,26 dari sebelumnya 87,23.
Selanjutnya, Statistisi Ahli Pertama Pusat Strategi Kebijakan Pengembangan SDM, Teknologi Informasi dan Inovasi Pemerintahan Dalam Negeri, Kementerian Dalam Negeri, Septian Putri Palupi menilai, jumlah inovasi yang di capai Pemerintah Kota Yogyakarta masih dapat ditingkatkan.

“Daerah dengan predikat terinovatif umumnya memiliki ratusan inovasi. Oleh karena itu, Pemkot Yogyakarta dapat terus menambah jumlah inovasi tanpa mengabaikan kualitas,” ungkapnya.
Ia berharap, seluruh inovator mampu meningkatkan kualitas inovasi, baik dari sisi substansi, kebermanfaatan, maupun kelengkapan dokumen pendukung. “Langkah ini menjadi bagian strategis dalam meningkatkan daya saing daerah sekaligus memperkuat posisi Kota Yogyakarta sebagai kota rujukan inovasi di tingkat Nasional,” ungkapnya.