
Gunungkidul,REDAKSI17.COM – Sebagai langkah nyata mitigasi bencana dan pemulihan lingkungan pasca-bencana tanah longsor, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul bersama Harian Jogja dan berbagai mitra strategis meluncurkan gerakan konservasi di Dusun Jono, Kapanewon Ngawen, Senin, (18/5/2026). Kegiatan ini ditandai dengan penanaman 3.000 bibit pohon, yang terdiri dari pohon nangka dan tanaman vetiver (akar wangi) sebagai upaya memperkuat struktur tanah dan menjaga kelestarian alam.
Pemimpin Redaksi Harian Jogja, Anton Wahyu Priartono, menyampaikan bahwa aksi ini merupakan perwujudan cita-cita untuk memberikan kontribusi nyata dalam penyelamatan lingkungan di Gunungkidul.
Inisiatif ini didukung penuh oleh berbagai pihak melalui semangat gotong royong, mulai dari TNI, Polri, pemerintah daerah, hingga sektor swasta seperti PT Solusi Bangun Indonesia, Djarum Foundation, PDAB Tirtamarta, dan Bank Daerah Gunungkidul (BDG).

“Ini adalah upaya kecil, tapi kami yakin jika konsisten dilakukan dan diikuti pihak lain, akan memberi kontribusi besar bagi lingkungan,” ujar Anton dalam sambutannya.
Ia juga menegaskan bahwa komitmen Harian Jogja dalam isu lingkungan akan terus berlanjut ke wilayah lain di Gunungkidul.
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih dalam arahannya menekankan alasan strategis pemilihan pohon nangka sebagai komoditas utama penanaman. Selain memiliki nilai historis “Babat Alas Nongko Doyong” yang menjadi cikal bakal Gunungkidul, pohon nangka telah ditetapkan sebagai flora identitas daerah berdasarkan Perda Nomor 3 Tahun 1999.
“Selain aspek identitas, nangka memiliki nilai ekonomi dan ekologis yang signifikan, sebagai penyangga bahan baku industri gudeg di Yogyakarta agar tidak terus bergantung pada pasokan dari luar daerah seperti Lampung.” ujar Bupati Endah.
Selain itu, akar nangka mampu menjaga keseimbangan lingkungan dan konservasi air, serta seluruh bagian pohon, mulai dari buah, daun untuk pakan ternak, hingga kayunya, memiliki nilai guna yang tinggi bagi masyarakat. Pemilihan Dusun Jono sebagai lokasi penanaman didasari oleh peristiwa tanah longsor yang terjadi beberapa bulan lalu.
Bupati menegaskan bahwa melawan kemarahan alam tidak bisa hanya mengandalkan beton dan semen, melainkan harus dengan pelestarian alam.
“Tanaman vetiver (akar wangi) turut ditanam secara khusus untuk mengonservasi lahan yang rawan longsor karena kemampuannya mengikat tanah dengan kuat.” kata Bupati Endah, saat ditemui seusai acara.
Gerakan ini juga melibatkan akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) serta siswa-siswi sekolah untuk memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga ekosistem sejak dini. Keterlibatan generasi muda diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga alam adalah tanggung jawab spiritual dan mental.
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menitipkan perawatan tanaman ini kepada warga masyarakat dan kelompok tani setempat. Meskipun penanaman dilakukan saat musim kemarau, hal tersebut justru menjadi pembuktian semangat masyarakat untuk tetap menjaga alam dengan ikhtiar penyiraman yang rutin.
“Menanam berarti menanam harapan untuk masa depan. Kami berharap ini tidak hanya menjadi agenda sesaat, tetapi menjadi gerakan bersama yang terus berlanjut,” pungkas Bupati.
Dengan tumbuhnya kesadaran kolektif untuk merawat lingkungan, diharapkan pembangunan di Gunungkidul dapat berjalan lebih kuat, cepat, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.


