Susy Susanty Pimpin PB Jaya Raya. (Foto: dok.PB Jaya Raya)
Jakarta,REDAKSI17.COM – PB Jaya Raya baru saja melakukan pergantian kepengurusan dengan menunjuk Susy Susanti sebagai ketua umum baru. Target tinggi dicanangkan Susy.
Hal ini dilakukan bertepatan dengan hari ulang tahun ke-50 PB Jaya Raya melakukan sejumlah langkah strategis. Susy menggantikan Rudy Hartono Kurniawan di posisi itu.
Pergantian ini jadi bukti betapa PB Jaya Raya memperhatikan betul prestasi, tidak cuma di lapangan tapi juga di luar lapangan. Rudy sebagai pemegang delapan titel All England digantikan Susy peraih medali emas Olimpiade 1992.
Seremoni pergantian pucuk pimpinan PB Jaya Raya dilakukan Gedung Jaya, Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (29/6). Ketua Pengurus Yayasan Pembangunan Jaya Raya, Budi Karya Sumadi, menyebut pergantian tersebut merupakan bentuk transisi kepemimpinan.
Pergantian ini juga memang selaras dengan tema HUT ke-50 PB Jaya Raya. Yaitu, tiada henti membangun generasi emas.
“PB Jaya Raya tahun ini tengah memasuki babak baru. Yaitu, dengan hadirnya kepemimpinan baru, sekaligus memperkenalkan wajah-wajah muda yang diharapkan mampu menjadi penerus prestasi besar Jaya Raya di masa depan,” tutur Budi dalam keterangan kepada media.
Sedangkan menurut Trisna Muliadi selaku Presiden Direktur PT Pembangunan Jaya, pergantian ini diharapkan bisa merebut kembali olahraga bulutangkis Indonesia di level kelas dunia.
“Proses transisi ini merupakan estafet dari pengurus yang kita lakukan di Jaya Raya. Dari Pak Ci (Ciputra), kami sangat berharap semoga regenerasi ini dan didukung kedisiplinan akan bisa mengangkat kembali olahraga bulutangkis Jaya Raya dan Indonesia masuk ke level world class,” kata Trisna.
“Saya berterima kasih kepada Rudy Hartono dan Imelda Wigoeno atas dedikasi dan kesabaran yang luar biasa dalam membina pemain Jaya Raya selama ini sehingga mampu berprestasi luar biasa. Selamat datang kepada Susy Susanti dan Rosiana Tendean yang memiliki reputasi besar untuk ke depan bisa meraih medali emas berikutnya di Olimpiade. Selamat bekerja!” kata Trisna Muliadi.
Pada momen yang sama, Imelda Wigoeno yang menjabat sebagai Ketua Harian Jaya Raya sejak 2014 digantikan darah baru Rosiana Tendean.
Imelda adalah anggota tim Indonesia juara Piala Uber 1975. Dia juga peraih emas Asian Games 1978 di Bangkok, juara All England 1979, dan juara Kejuaraan Dunia 1980. Pada 2014 dia naik jabatan untuk menggantikan Retno Kustiyah yang menjadi ketua harian Jaya Raya sejak berdiri 1976.
Sementara Rosiana, memiliki catatan mengkilap sebagai pemain ganda putri dan campuran. Banyak prestasi yang dia raih sepanjang kurun waktu 1983 hingga 1994. Rosi juga salah satu pahlawan Indonesia yang merebut Piala Uber 1994.
Menurut Susy, amanah ini merupakan sebuah kehormatan besar bagi dirinya. Meskipun demikian, ada tanggung jawab besar yang harus diemban, mengingat Jaya Raya adalah klub berprestasi.
“Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada saya. Ini merupakan sebuah kehormatan besar bagi saya yang diberi amanah menjadi Ketua Umum PB Jaya Raya menggantikan Ko Rudy Hartono. Tentu ini menuntut tanggung jawab yang sangat besar,” ujar Susy.
“Bagi saya, bulutangkis adalah segalanya. Saya lahir dari Jaya Raya. Setelah menjadi atlet, kemudian pensiun, saya juga melanjutkan perjalanan dengan membina atlet-atlet muda. Karena itu, saya merasa seperti kembali ke rumah sendiri. Jaya Raya adalah rumah saya. Saya dibesarkan di sana. Saya ingin memberikan kembali kepada klub yang telah membesarkan saya. Harapan saya, pengalaman dan prestasi yang pernah saya raih dapat saya tularkan kepada anak-anak agar mereka mampu meraih prestasi, tidak hanya untuk klub dan Indonesia, tetapi juga di tingkat dunia,” sambungnya.
PB Jaya Raya juga akan menyelenggarakan turnamen internasional bertajuk Yonex Sunrise Jaya Raya Junior International Grand Prix 2026. Turnamen yang digelar 7-12 Juli ini diselenggarakan di GOR PB Jaya Raya Bintora diikuti oleh 18 Negara.
Turnamen ini menjadi salah satu ajang bulu tangkis junior internasional paling bergengsi di Indonesia yang selama lebih dari satu dekade berperan dalam mencetak talenta-talenta muda menuju level dunia.
Diselenggarakan sejak 2014, kejuaraan ini telah menjadi bagian penting dalam ekosistem pembinaan bulutangkis nasional. Sejumlah pemain top dilahirkan dari ajang ini seperti Apriyani Rahayu, Siti Fadia Silva Ramadhanti, Ribka Sugiarto, Lanny Tria Mayasari, Rinov Rivaldy, hingga Pitha Haningtyas Mentari.
Selain menjadi ajang unjuk kemampuan bagi pemain muda dari berbagai negara, turnamen ini juga memberikan kesempatan bagi atlet Indonesia untuk mendapatkan pengalaman bertanding internasional dan mengoleksi poin peringkat resmi tanpa harus mengikuti kejuaraan di luar negeri.
Untuk tahun ini, pertandingan dibagi ke tiga kelompok usia, yakni U-15, U-17, dan U-19. Sebanyak 14 gelar juara akan diperebutkan melalui nomor tunggal putra-putri, ganda putra-putri, serta ganda campuran yang khusus dimainkan pada kategori U-17 dan U-19.





